
Hari presentasi sudah tiba, Fisya merasa sangat percaya diri meskipun ada juga rasa gugup dalam dirinya. Fisya sudah siap sejak pagi tapi presentasinya masih harus menunggu bu bos dan temannya datang. Fisya yang bingung harus melakukan apa, terus menganggu pegawai lainnya agar bisa membantu pekerjaan mereka.
"Fisya, ngapain sih lo gangguin orang lagi kerja?" Tanya Nela yang baru datang.
"Eh, mbak Nela udah datang berarti bu bos juga udah datang dong?"
"Belum, bu bos masih di jalan sama Sari dan temannya bu bos. Mungkin bentar lagi sampai. Kamu siap-siap aja dulu."
"Iya mbak."
"Eh Fisya, hari ini presentasi ya?" Tanya pegawai lain.
"Iya mbak, dari tadi pagi aku nunggu-nunggu buat presentasi tapi bu bos ada kerjaan di luar, jadi harus nunggu deh."
"Semangat ya Sya, kamu nggak gugup kan?"
"Kalau gugup sih pasti ada mbak, kan ada yang menilai karyaku udah gitu dari luar lagi. Tapi kepercayaan diriku juga tinggi lho mbak, jadi aku minta doanya aja ya buat kalian semua. Semoga aku sukses dalam presentasi ini."
"Amiin," semua pegawai yang mendengar doa Fisya ikut mengaminkan doanya.
Tik tok tik tok..
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya bu bos masuk juga, tapi kenapa hanya sendiri? Mana rekan bu bos yang dari luar itu? Fisya tidak terlalu memikirkan hal tersebut, karena sekarang dia hanya berfokus pada presentasinya nanti, masalah hasilnya dia pasrahkan semuanya pada Allah.
"Sudah siap Fisya?"
"Ah, iya bu bos saya sudah siap."
"Baik, sebentar lagi teman saya masuk kesini jadi kita tunggu beliau dulu sebentar."
"Iya bu bos."
Selang beberapa menit kemudian ada seseorang yang membuka pintu, awalnya Fisya tidak terlalu memperhatikan wajahnya tapi setelah orang tersebut memberi salam barulah Fisya benar-benar membelalakkan matanya.
"Annyeonghaseo." Seketika Fisya terhentak mendengar suara ini, terdengar sangat familiar. Fisya benar-benar membuka matanya lebar-lebar dan melihat siapa pemilik suara tersebut."Eonni," Fisya bergumam sangat pelan. Hyemin eonni sedang berdiri di depan Fisya, begitu mengagetkan ternyata bu bos mengenal eonni yang tidak sempat ditemui Fisya sebelum kembali ke kehidupannya sendiri.
"Fisya ini teman yang pernah saya bilang, beliau adalah seorang desainer dari negri gingseng. Beliau sudah lama bekerja dalam bidang ini."
Fisya masih terlihat sedikit syok, sampai tidak mendengarkan kata-kata bu bos.
"Ehem, Fisya bisa kita mulai sekarang?"
"Ah, i, iya bu bos." Fisya mempresentasikan karyanya dengan sangat lancar, dan ada pula sesi tanya jawab dari tamu bu bos.
"Apa sebelumnya kamu pernah membuat desain musim panas?"(Dalam Bahasa Korea).
"Belum eonni, ini adalah pertama kalinya."(Dalam Bahasa Korea). Semua yang berada di ruangan tersebut benar-benar terkejut mendengar jawaban Fisya, bagaimana tidak kalau Fisya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat lancar dalam bahasa Hyemin eonni. Dan lagi Fisya memanggil teman bu bos dengan sebutan eonni, padahal bu bos belum mengatakan apapun tentang temannya. Kalau orang yang baru pertama kali bertemu pasti memanggil tante atau ibu dengan melihat wajahnya saja, tapi Fisya memanggilnya dengan sangat akrab dan dengan panggilan yang begitu disukai Hyemin eonni.
"Fisya kau bisa Bahasa Korea?" Tanya bu bos penasaran.
"Ahh, benarkah? Ti, tidak bukan maksud saya. Aduh gimana ya, ehm begini bu bos, saya pernah belajar Bahasa Korea dari teman saya."
"Tapi kamu lancar sekali lho bicaranya, dan lagi kamu memanggilnya eonni padahal kalau orang yang baru pertama kali melihatnya akan memanggilnya nyonya atau ibu atau juga tante? Tapi kamu memanggilnya 'eonni'?"
"Ahh, bukan seperti itu bu bos saya tidak terlalu jelas melihat wajahnya tadi jadi saya pikir beliau masih sangat muda."
"I, iya bu bos."
"Dari mana kamu dapat inspirasi dalam membuat desain baju musim panas ini?" Tanya eonni dengan senyum yang terus-terusan mengembang tentunya dalam bahasanya.
"Saya hanya menggambar berdasarkan apa yang saya lihat dipikiran dan hati saya, kalau untuk inspirasi mungkin dari salah seorang model dari negri Anda eonni."
"Kau tertarik dengan fashion dan model negara kami juga?"
"Ahh, iya saya mengagumi fashion negri Anda dan juga salah satu model yang sangat cantik dan berkharisma."
"Apa saya boleh tau siapa model tersebut?"
"Ara Kim, dia adalah salah satu sumber inspirasi saya."
"Ara Kim, iya kamu benar beliau memang model yang sangat cantik dan berkharisma saya juga setuju kalau rancangan kamu ini sangat cocok dipakai olehnya."
"Benarkah, terima kasih."
"Saya sangat suka dengan rancangan kamu, dan saya akan menjadi pembeli pertama untuk rancanganmu. Saya tau sulit untuk kamu membuat rancangan musim panas padahal kamu memakai jilbab, tapi kamu berhasil membuatnya tanpa terlihat begitu terbuka. Nice, saya sangat tertarik. Selamat bergabung dengan kami."
"Ah, te, terima kasih eonni."
"Terima kasih juga kamu sudah mau memanggilku eonni."
"Fisya kamu juga sudah mendengar dengan jelas kata-kata eonni tadi kan, selamat bergabung dengan kami sekali lagi. Bekerja keraslah bukan hanya untuk kami tapi juga untuk masa depanmu."
"Terima kasih bu bos, saya akan berusaha semampu saya. Sekali lagi terima kasih."
Semua berjalan dengan lancar, pertemuannya dengan Hyemin eonni membuatnya bahagia sekaligus bersedih. Dia senang karena bisa bertemu dengan temannya yang sudah lama tidak bertemu dan bersedih karena temannya lupa padanya. Semua kenangan tentang mereka tidak akan pernah dilupakan Fisya tapi dengan mudahnya terlupakan oleh keluarga keduanya.
"Huh, eonni benar-benar lupa padaku. Tapi seneng banget bisa lihat senyum eonni lagi. Andai bisa ngobrol lebih lama sama eonni."
"Woe, nglamun aja. Gimana hasilnya?" Tanya Nela penasaran.
"Idih, mbak Nela ngagetin aja deh. Bagus dong mbak, alhamdulillah berkat doa kalian juga."
"Alhamdulillah, kami juga sempat tegang lho Sya nungguin kamu keluar dari ruangan itu." Kata Sari dengan nada yang sangat bersemangat.
"Terima kasih ya mbak-mbak semua kalian baik banget sama aku, padahal aku anak baru tapi aku merasa kalian sudah seperti keluarga ketiga buat aku."
"Uncchhh, Fisya so sweet banget sih." kata pegawai lainnya.
"Iya nih, jadi pengen berpelukan." Tambah Sari.
"Eh, tunggu-tunggu lo bilang keluarga ketiga? Emang keluarga kedua elo siapa? Elo udah nikah Sya?"
"What? Fisya udah nikah? Diusia semuda ini? Dengan siapa? Kenalin dong suaminya?" Tanya Sari memburu tanpa henti.
"Sabar dong mbak Sari, tanyanya satu-satu aku kan jadi bingung mau jawab apa?"
"Tau nih mbak Sari, kita semua juga kaget tau." Tambah pegawai lainnya.
"Sebenarnya aku......"