
Di sebuah kafe di daerah xx. Bibi dan Fisya bertemu dengan teman bibi yang sudah membantu Fisya.
"Hai Fisha!" Sapa Hyemin Su, teman bibi.
"Eh, iya hai bi,,,?"
"Ahh, panggil aja aku Eonni! Dan jangan bicara formal padaku Fisha, santai aja anggap saja aku ini temanmu sendiri."
"I, Iya bibi eh eonni."
"Dasar, Hyemin kau ini selalu minta dipanggil kakak oleh semua anak muda yang kau temui. Apa kau lupa berapa umurmu?"
"Ayolah Eunmi, kita harus menikmati hidup bukan. Aku selalu ingat umurku tapi juga tidak bisa mengabaikan kalau aku ini belum terlalu tua untuk dipanggil eonni bukan?" Dengan mengembangkan senyum khasnya.
"Ahh iya baiklah. Sekarang kita akan kemana untuk membeli kebutuhan Fisya?"
"Baiklah Ibu Ara, pertama-tama ki mulai dulu dari baju yang bisa dipakai Fisha. Ehm, Fisha apakah kau suka pilih-pilih baju?"
"Tidak eonni, asal tertutup aku akan memakainya."
"Kalau begitu ayo brangkat!"
Mereka bertiga berkeliling di mall mencari baju untuk Fisya. Tidak sulit bagi mereka untuk mencari baju yang cocok dengan Fisya.
"Fisha, kita sudah mendapatkan banyak baju untukmu dari outer, inner, kaos, panjang, jaket, mantel, celana dan juga sepatu. Dan kau juga bisa mix and max semua baju itu."
"Iya eonni terima kasih. Tapi apakah aku pantas mendapatkan semua ini? Aku tidak tau apa yang bisa aku berikan pada kalian, aku tidak punya apa-apa. Dan aku juga orang asing bagi kalian, tapi bagaimana bisa kalian sebaik ini padaku?"
"Fisha, bukankah kita keluarga? Kamu adalah orang yang sudah menolong jantung keluarga kami. Kamu adalah orang yang baik, dan kami percaya padamu Fisha."
"Tapi bibi, aku tidak tau apakah aku bisa membalas kebaikan kalian padaku."
"Hemm, Fisha apakah kau tau kenapa aku mau membantumu?"
"Karena eonni memang orang yang baik kan?"
"Iya nak, bahkan eonnimu ini sangat menyayangi ibu mertuaku. Ini adalah salah satu bentuk terima kasih kami kepadamu."
"Iya Fisha tolong jangan tolak semua ini! Kalau kau bosan tinggal dengan bibimu ini, kau bisa tinggal dirumahku."
"Dasar kau ini. Bagaimana Fisha apa kau sudah mengerti?"
"Iya bibi terima kasih."
"Sudah-sudah, jangan buat suasana jadi sedih begini dong! Oh iya Fisha, hari ini aku akan mengajakmu beribadah di masjid kota ini. Kau akan sangat takjub."
"Benarkah eonni? Apakah kita bisa berangkat sekarang?"
"Oke, lets go!"
Mereka bertiga kemudian ke masjid tersebut, beribadah, dan bibi menunggu di luar. Setelah itu mereka pulang terpisah karena eonni sudah ada janji dengan suaminya. Sementara itu bibi masih banyak berbincang dengan Fisya dimobil.
"Fisha, kau tidak perlu merasa kalau kau sudah membebani kami. Kalau saja kau tidak menolong ibu, entah bagaimana dengan keluarga kami sekarang."
"Iya bibi, maafkan untuk sikapku yang tadi. Terima kasih karena kalian sudah menganggapku seperti keluarga dan bukan orang asing. Aku merasa sangat senang."
"Iya nak, dan sekarang kamu bisa belajar memasak dengan semua bahan-bahan ini. Kau mau?"
"Iya bibi, aku mau. Aku ini orangnya cepat belajar lho. Hehe."
"Benarkah? Bagus dong, bibi jadi ada teman buat diskusi tentang masakan."
Mereka banyak sekali berbincang tentang makanan, sampai Fisya ingat untuk menanyaka sesuatu kepada bibi.
"Ehm, maaf bibi apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
"Iya Fisha, kalau aku tau jawabannya aku pasti akan menjawabnya."
"Ehm, tadi eonni sempat menyebut bibi dengan 'Ibu Ara', maaf tapi siapa sebenarnya Ara?"