Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
anak bu bos 2



Keesokan paginya, Fisya berangkat pagi sekali karena dia tidak mau membuat kesalahan dihari pertama bekerja dengan Pak Marcel. Meskipun masih harus punya banyak stok kesabaran, tapi Fisya sudah siap atas semua konsekuensi yang harus dia terima dalam pekerjaannya.


"Semangat buat aku, Nafisya Abraham semangat."


Setengah jam berlalu dan Fisya kini sudah berada di depan butik. Meskipun butik belum buka tapi Fisya sangat senang bisa datang lebih awal dari yang lain.


"Mbak Fisya udah datang." Sapa seorang yang suaranya sedikit familiar.


"Pak Jaya? Bapak udah disini dari tadi?"


"Belum kok mbak, baru sepuluh menit yang lalu. Tapi mbak Fisya hebat ya, padahal belum pernah bekerja dengan Tuan Marcel tapi sudah bisa datang pagi sekali. Memangnya mbak Fisya tiap hari datang pagi ya?"


"Ahh, nggak juga sih pak. Sedikit tau tentang Pak Marcel, pasti dia tidak suka pegawainya terlambat kan? Makanya saya datang lebih awal, lagian menikmati udara pagi begitu segar lho pak. Iya, ngomong-ngomong Pak Jaya nggak jemput Pak Marcel?"


"Sebenarnya saya disuruh nunggu beliau disini, karena beliau masih ada sedikit urusan di hotel."


"Terus bu bos?"


"Bu bos pakai supir pengganti, karena bu bos tau kalau Tuan Marcel tidak mau ganti supir."


"Oh gitu ya, Pak Marcel aneh ya Pak Jaya. Hehe."


"Ya begitulah Tuan Marcel."


Tin tin tin tiiiinnn


"Aduh, berisik amat sih. Siapa yang..... Pak Marcel?"


"Tuan Marcel udah datang mbak, itu artinya kita ada pekerjaan diluar. Mari Mbak Fisya!"


"Iya pak."


Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, seperti kemarin Pak Jaya dan Fisya di depan dan Pak Marcel duduk di belakang.


"Ini agenda saya selama di kota ini, jadi salin di buku agenda kamu. Setiap hari kamu harus selalu mengingatkan saya tentang semua pekerjaan dan agenda saya termasuk juga minum obat."


"Baik pak, saya akan menyalin dan mempelajarinya."


"Saya harap kemampuanmu seperti yang saya harapkan."


"Saya akan berusaha sebaik mungkin pak."


"Saya pegang kata-kata kamu."


Mereka bertiga sedang menuju ke arah kafe tempat biasanya Pak Marcel bertemu klien atau investor. Fisya merasa bersemangat sekaligus gelisah karena ini baru pertama kalinya dia bekerja sebagai sekertaris pribadi.


"Kamu sudah mencatat semua hasil dari meeting kita tadi?"


"Saya mencatat semua pak, tapi saya belum tau mana yang penting dan tidak penting."


"Apa maksud kamu, saya disini butuh sekertaris yang berkompeten dan kamu bilang kamu tidak tau mana yang penting. Apa-apaan ini, kamu kira saya mengajak kamu cuma buat pajangan doang?"


"Maaf pak saya..."


"Saya tidak mau mendengar alasan dari kamu. Ada agenda apa lagi setelah ini?"


"Sekitar jam 11 ada agenda meeting dengan 11Putra Grup, dan setelah itu jam 1 ada wawancara dengan majalah bisnis, kemudian jam 4 sore ada pertemuan dengan staf hotel malamnya bapak ada pesta penyambutan di Butik MAH."


"Oke, sekarang masih ada waktu satu jam saya mau pergi kafe langganan saya. Pak Jaya masih ingat?"


"Iya Tuan Marcel saya masih ingat tempatnya."


Mereka melaju lagi ke kafe lain, dan kesabaran Fisya benar-benar diuji disini. Rasanya Fisya mau keluar dari mobil dan berteriak sekencang mungkin kalau dia tidak bisa jadi seorang sekeratis yang kompeten. Tapi semua itu ditepis Fisya, karena dia tau kalau ini adalah jalan menuju kesuksesannya kelak. Hanya kerikil kecil dalam perjalanan karirnya.


Sampai juga akhirnya di kafe yang dimaksud Pak Marcel. Fisya tidak ikut keluar saat Pak Marcel turun dari mobil, karena Fisya merasa Pak Marcel tidak suka kalau dia menganggu Pak Marcel yang sedang ingin menikmati kopi di kafe langganannya.


"Kenapa masih didalam?" Tanya Pak Marcel yang langsung membuat Fisya tersentak kaget.


"Bukannya kamu sekertaris saya?"


"Iya pak, saya hanya...."


"Cepat turun dan ikuti saya!"


"Baik pak." Akhirnya Fisya turun dan mengikuti Pak Marcel, ada sedikit kekesalan di raut wajah Fisya. Tapi seperti biasanya dia tidak bisa apa-apa kecuali menuruti semua yang dikatakan bosnya.


"Duduk."


"Saya duduk bareng bapak?"


"Kenapa, nggak mau?"


"Bukan, maksud saya..."


"Cepat duduk, dan pilih menu yang kamu suka. Hanya buat camilan saja sebelum makan siang, Pak Jaya juga sebentar lagi kesini. Jadi kamu jangan geer dulu."


"Saya nggak geer kok pak, biasa aja." Pak Marcel sedikit terkejut dengan sikap Fisya ini, bicara kasual dengan ekspresi wajah yang datar. Belum pernah ada pegawainya yang berani bicara seperti itu dan dengan ekspresi wajah yang seperti itu.


"Udah berapa lama kamu bekerja di butik MAH?"


"Baru sih pak, mungkin baru 2 bulan."


"Kamu belum pernah dengar tentang saya?"


"Tentang bapak yang perfectionis?"


"Apa?"


"Eh? Maaf pak saya jadi bicara jujur, eh aduh maaf pak saya cuma pernah dengar kata itu ada hubungannya dengan bapak. Saya nggak bermaksud apa-apa kok."


"Maaf Tuan Marcel lama, tadi susah cari pakirannya." Tiba-tiba Pak Jaya udah berdiri aja di sebelah meja kami.


"Iya pak gak apa-apa, Pak Jaya duduk saja dulu biar saya pesankan buat bapak."


"Iya terima kasih."


"Kamu udah pilih mau apa?"


"Ah, saya mau jus jambu aja pak."


"Oke."


Mereka bertiga menikmati pesanan masing-masing dengan keheningan, tidak ada bicara sama sekali. Karena sepertinya Pak Marcel merasa tertohok mendengar kata-kata Fisya dan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Oke habis ini kita berangkat buat bertemu orang penting."


"Kalau begitu saya akan ambil mobilnya dulu tuan."


"Iya pak silahkan." Pak Jaya keluar duluan karena harus mengambil mobil yang sedang diparkir."Dan kamu, dengar dari mana kalau saya seperti itu?"


"Eh? Ahh, sebenarnya saya tidak tau apa-apa sih tentang bapak, saya cuma asal ceplos aja karena saya memang orangnya begini. Sebenarnya itu kata teman-teman yang lain, saya pikir mereka cuma bercanda tapi ternyata tidak. Sebenarnya saya agak sebal sih sama sikapnya bapak, menyuruh saya menjadi sekertaris pribadi yang profesional padahal saya tidak pernah belajar dibidang tersebut. Saya kan cuma bisa mendesain pakaian. Tapi ini kan pekerjaan, jadi mau nggak mau saya harus menuruti semua perkataan bapak."


"Berani juga ya kamu berkata jujur."


"Daripada saya berbohong kan mending jujur pak."


"Saya hargai keberanianmu."


"......."


Setelah pembicaraan tersebut, mereka bertiga menuju kantor 11Putra Grup. Partner kerjasama dari MAH Grup, yang saat ini kuasanya sudah dipegang oleh Marcel. Satu kemudian meeting selesai dan Fisy meminta ijin untuk pergi sebentar. Melaksanakan kewajibannya tepat waktu.