
"Fisya, sebulan lagi akan ada event untuk butik dan akan kedatangan tamu dari luar. Kamu harus bersiap karena kamu yang akan menyambut mereka."
Fisya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan bu bos, karena tidak ada detail yang dikatakan bu bos tentang event itu. Hari ini Fisya bebas tugas dari Pak Marcel dan harus bantu-bantu di butik. Senang rasanya bisa kembali bekerja di butik setelah sekian lama harus keluar masuk butik hanya untuk sekedar mampir.
"Fisya, kangen deh. Hari ini kamu full kan kerja di butik." Tanya Sari penasaran.
"Iya mbak Sari, hari ini saya serasa dapat cuti dari Pak Marcel. Seneng banget deh."
"Eh, denger-denger kamu yang akan menyambut tamu buat event penting itu ya?"
"Iya mbak, aku juga nggak tau kok bisa aku yang harus menyambut. Padahal kan ini event pertama juga buat aku setelah bekerja disini."
"Hai guys," tiba-tiba Nela datang dengan cengengesan."Fisya, akhirnya hari ini kamu kembali kesini lagi."
"Iya dong, meskipun cuma sehari sih. Hehe. Oh iya mbak, ngapain sih dari tadi cengengesan gitu kayak orgil aja."
"Wah, kurang ajar nih anak. Udah lama nggak ketemu malah berani manggil gue orang gila lagi."
"Sorry, sorry. Habisnya dari tadi Mbak Nela senyum-senyum kayak gitu terus, kan nggak biasanya."
"Oke, karena gue sangat bangga sama elo jadi gue nggak bisa marah sama elo."
"Bangga kenapa Nel?" Tanya Sari.
"Bentar Sar, lo belum tau emangnya prestasi apa yang sudah dibuat nih anak?"
"Prestasi apaan sih? Kalau prestasi bertahan sebagai sekretaris Pak Marcel sih semua juga tau kali Nel."
"Aduh Mbak sari bisa aja kalau ngledek. Masa yang kayak gitu disebut prestasi?"
"Hehe, itu prestasi terbesar lho Sya buat karyawan sini. Hehe, yang sabar ya Fisya. Eh, tapi apa lagi nih Nel yang kamu maksud?"
"Udah ngomongnya? Kalian berdua ini ya, gue mau cerita juga. Dengerin nih ya Sari, ternyata Nafisya Abraham bisa berbicara Bahasa Korea dengan sangat lancar, dan kita para pegawai disini tidak ada yang tau. Gila nggak tuh, dia nutupin kepintaran dirinya sendiri lho."
"Beneran Sya? Kamu bisa Bahasa Korea? Kok bisa sih, aku mau dong diajari? Kamu kursus dimana Sya? Kenapa kamu nggak pernah bilang? Kamu benar-benar...."
"Aduh Sari, satu-satu dong tanyanya. Kayak wartawan aja sih lo."
"Habisnya aku penasaran banget sama Fisya. Aduh bangga banget deh punya temen pinter kayak gini."
"Tapi Mbak Nela tau dari mana kalau aku bisa bicara Bahasa Korea?"
"Tentu saja dari bu bos dong, karena bu bos tadi bilang kalau kamu yang bakal meyambut tamu dari Korea, tentu aku kaget kenapa nggak pake translator aja kenapa hanya kamu yang menyambut mereka? Tentu aku tanyain dong, jadi dari situlah aku bisa tau dia jago Bahasa Korea."
"Eh, bu bos cerita ke Mbak Nela soal ujian masuk butik itu?"
"Iya, bu bos bilang kalau kamu sangat fasih dan pintar sekali saat menjawab dan mempresentasikan karya kamu kepada teman bu bos yang dari Korea tersebut."
"Kok kamu nggak pernah bilang sih Sya?"
"Bener juga sih, tapi nggak pa-pa yang penting sekarang kita sudah tahu dan kita harus merayakannya. Ke kafe biasa yuk, lama lho kita nggak ngumpul disana bertiga."
"Oke deh, biar bisa lebih semangat juga buat kamu Sya."
"Iya mbak. Kalian tau nggak kalau aku lebih bangga pada kalian."
"Kenapa?" Tanya Sari dan Nela hampir bersamaan.
"Iih, kompak banget sih. Hehe. Karena kalian mau berteman denganku yang banyak sekali kekurangan ini. Aku sangat senang sekaligus terharu karena aku memiliki teman seperti kalian."
"Iih Fisya aku jadi terharu, kami seneng kok berteman sama kamu."
"Iya Sya, lo itu orangnya asyik pengertian lagi. Ya nggak Sar, kita tuh nyaman sama lo. Gue heran aja sih, kenapa dulu lo nggak pernah punya teman padahal lo sebaik ini?"
"Entahlah mbak, yang terpenting sekarang aku punya kalian itu udah cukup buat aku."
Kasih sayang yang Fisya rasakan dari kedua sahabatnya ini membuat Fisya semakin bersemangat disela kerinduan yang dia pendam untuk Dongmin si Mr. Cha. Untuk Baekhyeon, nenek, paman, dan bibi. Seluruh keluarga Kim yang dia rindukan dan keluarga Kim yang melupakannya kecuali Dongmin, Mr. Cha-nya Fisya.
Fisya selalu bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Mr. Cha masih ingat dengannya atau juga melupakannya begitu saja? Apakah dia cinta sejatiku? Apakah kita bisa bertemu kembali? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak tau apakah ada jawabannya atau tidak? Huh, Fisya kamu terlalu lama memendam beban ini sendiri. Akan ada masa dimana kamu tau jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan dalam hatimu. Hanya tinggal menunggu waktu, sehari dua hari, sebulan dua bulan, atau bahkan setahun atau dua tahun. Hanya persahabatan inilah yang mampu membuat Fisya bertahan dari rasa sepi.
"Ahh, akhirnya kita bisa berkumpul lagi disini setelah sekian lama." Kata Sari dengan nada yang penuh keceriaan.
"Lebay lo ah, baru beberapa hari yang lalu kita kumpul di rumah Fisya."
"Kan di rumah Fisya Nel. Oh iya Sya, aku jadi penasaran deh kamu bisa jago bahasa asing dari mana? Apa kamu kursus?"
"Gak juga sih mbak, emang aku dari dulu mengagumi Bahasa Korea tapi untuk bisa bahasanya sendiri juga aku nggak bisa cerita banyak. Yang aku tau aku bisa gitu aja."
"Kok bisa sih, emang nggak pernah belajar sama sekali?"
"Dulu pas masih sekolah sih pernah belajar, tapi itupun cuma kata-kata dasar aja."
"Wah, misterius banget ya lo Sya. Well, apapun yang lo bisa dan yang lo punya sekarang adalah yang terbaik buat lo pastinya. Yang terpenting kita jangan pernah lupa untuk bersyukur, iya nggak?"
Plok plok plok...
"Wah, benar-benar bukan kayak Nela ya." Kata Sari kagum.
"Kurang ajar lo, kagum atau ngeledek bu?"
"Hehe, tapi emang Mbak Nela bener banget. Mungkin ini semua adalah proses menuju yang lebih baik lagi. Semangat buat kita!"
"SEMANGAT BUAT KITA."
Mereka benar-benar bahagia, bisa memiliki satu sama lain. Walaupun tidak ada ikatan darah apapun tapi mereka sudah seperti saudara kandung. Benar-benar suatu hal yang sangat diinginkan Fisya. Tapi bagaimana dengan hatinya? Akankah berakhir membahagiakan seperti persahabatan ini. Semua pasti akan ada masanya dimana kebahagiaan akan berpihak kepada mereka yang mau berusaha, bersabar, dan berdo'a.