Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Pesta keluarga



"Wah eonni hebat juga ya."


Mereka berdua kembali pulang, didalam mobil Dongmin memberikan sebuah paperbag kecil. Apa ya isinya, jadi penasaran.


"Ini untukmu."


"Apa ini? Aku kan tidak sedang ulang tahun. Kenapa harus dikasih kado?"


"Itu cuma tanda terima kasih saja, karena kau sudah membantuku memilih kado buat ibu."


"Oh, oke aku terima ya. Makasih." Memberikan senyum termanis untuk Dongmin.


Deg.


Sesampainya dirumah Hana langsung menuju dapur, dan Dongmin pun langsung menuju kamarnya. Dongmin merasa ada seauatu didadanya. Pertanda apa itu? I don't know. Kita tunggu saja.


"Hai bibi, apa ada yang bisa aku bantu?"


"Ahh, kau sudah pulang. Iya kau harus membantuku Hana. Aku hampir putus asa memasak dengan model terkenal ini."


"Siapa yang sudah menyuruhku untuk membantu, sudah tau aku nggak bisa masak. Tapi tetep aja ngotot nyuruh bantuin. Nih bantuin ibu aku!" Memberikan posau yang dia pegang kepada Hana.


"Eonni mau main sama Baekhyeon ya?"


"Nggak, aku mau tidur mumpung bisa libur." Perkataan dan perbuata Ara memang beda. Dia berkata seperti itu tapi kakinya menuju kamar Baekhyeon juga.


"Hana, apa kuenya sudah jadi?"


"Ahh, iya bibi sudah aku letakkan dilemari es."


"Eh? Kapan kau meletakannya? Aku tudak melihatnya."


"Eh? Ehm, saat bibi mencicipi masakan itu."


"Oh, ya sudah. Dimana biar aku melihatnya?"


"Jangan bibi, biar nanti jadi kejutan buat bibi."


"Oke baiklah."


Fuuhh. Hana bisa bernapas lega. Kita semua tahu kalau Hana tidak bermaksud berbohong, dia hanya ingin membuat kejutan untuk bibi. Ternyata bibi sudah memasak begitu banyak makanan. Dan sekarang tinggal masakan kesukaan paman. Bibi senang sekali membuatkan makanan kesukaan paman, karena makanan itu yang membuat paman jatuh cinta sama bibi. Cie, so sweet banget kan.


" Bibi sekarang aku harus membantu apa lagi?"


"Sepertinya kau harus membuat kimbab seperti yang kemarin."


"Tapi kan itu jelek sekali bibi, nanti aku akan mengajarimu untuk menggulungnya."


"Baiklah."


Sudah tiba waktunya untuk pesta perayaan hari jadi pernikahan paman dan bibi yang ke 32 tahun. Seluruh keluarga berdandan rapi dan tentu saja artis keluarga tersebut semakin menampakkan kecantikannya meskipun memakai pakaian tradisional korea. Tidak mau kalah dengan ibunya, Baekhyeon juga menggunakan setelan jas kecil yang memang cocok sih buat dia. Sementara Dongmin, menggunakan setelan jas warna biru tua pekat yang membuat dia semakin terlihat tampan. Nenek pun tidak mau kalah, nenek memakai baju tradisional yang terlihat sangat anggun. Sementara Hana, tetap memakai jilbab pasmina warna dusty dan baju tradisional yang dipilihkan nenek. Terlihat elegan dan sangat cantik.


"Wah, kau cantik juga ya ternyata memakai pakaian itu. Cocok tuh lipstik sama jilbabmu."


"Terima kasih eonni."


"Iya Hana, kau terlihat sangat cantik. Apa itu lipstik baru?"


"Iya nenek. Nenek cantik sekali dengan pakaian itu dan warnanya juga cocok untuk nenek."


"Hei, kau memuji nenek saja tidak memujiku?"


"Ahh, eonni meskipun aku tidak memujimu tapi semua orang juga tau kalau eonni itu cantik apapun baju yang dipakai eonni."


"Iyalah, aku emang cantik dari dulu."


"Bukannya terlalu berlebihan tuh." Tambah Baekhyeon dengan wajah datar.


"Anak kecil ini memang ya. Dasar!!"


Saatnya untuk paman dan bibi turun, mereka turun dengan bergandengan tangan. Layak pengantin baru yang akan menyambut tamu-tamunya. Gaun bibi yang begitu indahnya dan setelan jas paman yang sangat elegan, sehingga membuat mereka berdua terlihat cantik dan tampan.


"Terima kasih buat lipstiknya."


"Sama-sama."


"Kau terlihat tampan dengan jas warna itu."


Blush, pipi Dongmin memerah.


"K, kau juga pantas memakai pakaian itu."


"Iya terima kasih, kenapa kau jadi gagap begitu."


"Eherm, siapa yang gagap?"


"Iya baiklah. Wah, bibi cantik banget ya dengan gaunnya. Paman juga terlihat lebih muda dengan jas putihnya. Serasi banget mereka."


"Pastilah, selama 32 tahun melewati suka duka bersama. Hebat banget."


"Kau benar, kau pasti senang sekali masih bisa melihat orang tuamu merayakan hari pernikahan mereka." Hana sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh saat teringat orang tuanya.


"Kau, menangis?"


"Ahh, tidak ini hanya kena debu tadi." Mengembangkan senyum dan menghampiri paman dan bibi. Dongmin merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ikut senang kalau Hana tersenyum dan ikut sedih kalau melihat Hana seperti tadi. "Ada apa ya denganku? Aneh banget." Kemudian Dongmin juga menghampiri ayah dan ibunya menyusul yang lain.


"Seongji dan Eunmi selamat hari jadi pernikahan kalian ya. Ini kado dari ibu, jangan lihat harganya tapi rasakan ketulusannya."


"Iya ibu terima kasih."


"Ini dariku ayah ibu," Ara memberikan hadiahnya.


"Ini dariku ayah dan ibu. Aku tidak tau apa ibu dan ayah akan suka atau tidak tapi aku harap kalian sering memakainya."


"Apa itu Dongmin? Jangan-jangan sepatu ya?"


"Hei, eomma ini kan giliranku memberikan kado buat nenek dan kakek. Kenapa kau malah bicara dengan paman?"


"Iya-iya cepat berikan kadomu!"


"Kakek nenek ini kadoku untuk kakek dan nenek. Ini gambarku sendiri lho, bagus kan?"


"Iya Baekhyeon, bagus sekali terima kasih ya. Untuk Ara dan Dongmin juga terima kasih atas kadonya." Jawab bibi dengan bibir yang dipenuhi senyuman.


"Paman dan bibi maaf ya, aku tidak bisa memberikan apapun untuk kalian." Hana tertunduk karena malu dia tidak bisa membelikan apa-apa.


"Tidak apa-apa Hana, keberadaanmu ditengah-tengah keluarga kami sudah cukup membuat kami senang." Paman mencoba menenangkan Hana ditambah dengan senyuman dari bibi.


"Tapi paman bibi, sebenarnya kue ada dimeja adalah buatanku. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk kalian, aku hanya bisa membuat kue itu. Terima kasih sudah menerima aku dikeluarga kalian."


"Ayah ibu, sebenarnya kado yang aku berikan untuk kalian adalah pilihan agassi ini."


"Benarkah, wah ternyata tadi pagi kalian keluar untuk membelinya ya? Terima kasih ya Hana. Kau sungguh sangat berjasa untuk keluarga kami."


Mereka semua menikmati pestanya. Pesta dimulai dengan penyerahan hadiah dari setiap keluarga, kemudian dilanjutkan dengan berkaraoke bersama. Setiap anggota keluarga harus menyanyikan sebuah lagu, saat giliran Hana dia menolak untuk bernyanyi. Karena memang dia tidak bisa menyanyi. Entah kenapa Dongmin sering melirik Hana dalam sesi karaoke kali ini. Apa hati Dongmin mulai terisi nama Hana? Atau Dongmin mulai penasaran dengan agassi aneh ini? I don't know, lihat saja nanti!


"Hei Dongmin, kenapa kau melihat Hana terus? Kau suka dia?"


"Noona ini ada-ada aja. Jangan ngawur dong!"


"Oke, sekarang waktunya kita buat makan ya." Seru bibi untuk mengajak yang lainnya makan malam. Semua bergegas menuju meja makan. Beberapa pasang mata memperhatikan satu makanan yang sedikit asing. Bukan, bukan asing tapi mungkin makanan yang lebih menonjol karena ukuran dan hiasannya.


"Wah, ini kue buatanmu Hana? Bagus sekali," kekaguman bibi atas kue Hana.


"Bukankah kau bilang tidak bisa menghias Hana. Tapi hiasan ini juga bagus." Tambah nenek kagum.


"Kau berhasil." Dongmin menyenggol Hana untuk memberikan kesan bahwa dia berhasil membuat kelurganya kagum.


"Tapi kapan kau membuatnya?"