Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
I Love You



Semua sudah berkumpul di kamar Hana, meskipun hanya bisa berbaring di ranjangnya saja tapi Hana sangat bahagia masih bisa berkumpul dengan keluarga Kim. Hana menyimpan jauh-jauh kekhawatirannya, dia tidak mau lagi memikirkan tentang perpisahannya dengan keluarga yang sangat baik terhadapnya. Yang dia tau hanyalah ingin berkumpul menghabiskan waktu yang tersisa.


Bahkan sampai sorepun Baekhyeon tetap tidak mau pulang. Dia hanya mau bersama Hana, entah kenapa tapi sepertinya Baekhyeon juga merasakan apa yang dirasakan oleh Hana, yaitu mereka akan berpisah.


"Eomma, aku tidak mau pulang. Aku mau tidur disini bersama noona."


"Baekhyeon kau tidak bisa tidur di rumah sakit."


"Tapi paman Dongmin boleh."


"Karena pamanmu sudah besar Baekhyeon dan kau masih anak-anak."


"Aku sudah besar eomma, tanya noona saja dia pasti setuju denganku."


"Baekhyeon, kau pulang saja ya? Besok kau bisa kesini lagi dan kita bisa bermain. Tidak baik kalau kau tidur sini, nanti kalau kau sakit juga aku akan sangat sedih."


"Baiklah noona, aku akan pulang." Jawab Baekhyeon dengan lesu.


"Jangan lesu begitu dong, besok kita bisa ketemu lagi kan?"


"Iya."


Baekhyeon, Ara, dan nenek pulang. Paman dan bibi kembali ke kamar mereka dan Dongmin mengantar ayah dan ibunya dulu. Hana sendiri saat ini, dia merasa sepi."Apakah aku akan segera kembali dan merasakan kesepian ini lagi? Aku tidak boleh sedih seperti ini, aku harus tetap tenang dan harus juga bersyukur atas apa yang aku alami beberapa minggu ini. Pengalaman yang menyenangkan." Hana menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia mengibas-kibaskan tangannya di depan matanya.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau duduk? Biar aku bantu."


"Iya terima kasih," Dongmin membantu Hana untuk duduk."Dari kemarin aku terus berbaring dan itu membuatku badanku jadi pegal-pegal."


"Haha, iya aku tau. Padahal kau tidak pernah mau diam."


"Hei, apa aku terlihat seperti kicing yang tidak bisa diam?"


"Haha, iya kau bisa menganggapnya seperti itu."


"Haha, tidak lucu."


"Ehm, apa cerita yang pernah kau bilang itu ada hubungannya dengan peristiwa ini?"


"Kenapa tiba-tiba kau tanya hal itu?"


"Karena aku penasaran, dengan putus asa aku memintamu menyelamatkan ayah dan ibuku. Dan tanpa berfikir pula aku memintamu untuk bertukar nyawa dengan orang tuaku. Padahal dalam hatiku itu sangat menyakitkanku. Maaf!"


"Tidak, kau tidak salah. Aku tau perasaanmu, takut kehilangan mereka yang kau sayang."


"Bahkan denganmu pun aku takut."


"Kau takut padaku? Apa aku hantu?"


"Aku takut kehilanganmu."


"Ah ehm, ma maksudku..."


"Iya aku tau, aku juga takut kalau harus meninggalkan kalian secepat ini. Mungkin tugasku disini sudah hampir selesai, dan aku hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali ke duniaku sendiri."


"A, apa maksud ucapanmu itu?"


"Huh, apa yang pernah aku katakan padamu adalah benar. Dan ini adalah kesempatan terakhirku untuk bisa bersama kalian. Kalau saatnya nanti aku pergi, tolong jangan lupakan aku!" Butiran air mata Hana mulai keluar, dan itu membuat Dongmin merasa sedih. Dia tidak bisa memeluk gadis yang sangat dia hormati ini. Bahkan untuk mengelus kepalanya pun tangan Dongmin enggan untuk melakukannya.


"Apa kau harus pergi? Apa kau tidak bisa kalau hanya tinggal bersama kami seperti biasanya?"


"Hiks, aku juga ingin seperti itu. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh seperti ini, ayah ibu kakak adik nenek semuanya. aku ingin hidup bersama kalian, tapi aku tidak bisa egois. Aku juga punya kehidupan nyataku. Apa sekarang kau mulai percaya padaku?"


"Mungkin iya, walau hanya sedikit tapi aku percaya apa yang kau katakan."


"Aku senang kau bisa percaya, apa aku boleh mengatakan sesuatu?"


"Iya, kau boleh berbicara apapun semaumu."


"Aku menyukai Mr. Cha." Mata Dongmin langsung terbelalak kaget, karena dia fikir selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan tapi ternyata tidak."Sangat memalukan ya, aku mengatakan hal ini duluan. Tapi aku tidak bisa terus menyimpannya, aku harus mengatakannya entah itu nyaman buatmu atau tidak. Maaf kalau memang rasa sukaku membuatmua tidak nyaman."


"Aku, aku j, juga suka padamu." Dengan malu-malu Dongmin mengatakannya, dan kata-kata Dongmin juga membuat Hana sangat terkejut, karena selama ini dia fikir kalau Dongmin masih menyukai mantannya."Entah kapan perasaan ini bermula, tapi rasa kagumku kepadamu berubah menjadi rasa cinta. Ahh, aku malu, tapi aku jujur. Aku jatuh cinta padamu, semua yang ada didirimu."


Mereka berdua merasa malu, mereka saling lirik dengan dengan wajah yang merah menahan malu. Senyum mengembang di bibir mereka berdua. Mereka sangat senang karena cinta mereka berbalas satu sama lain. Ingin sekali Dongmin memeluk Hana tapi sekali lagi, dia memghormati Hana. Menghormati pilihan gadis cantik yang ada di depannya saat ini.


"Apa kau benar-benar menyukaiku?" Tanya Hana memastikan.


"Apa kau tidak percaya?"


"Tidak, aku percaya. Hanya saja, aku tidak punya hal spesial sehingga bisa membuat orang lain menyukaiku."


"Spesial? Kau sangat spesial, bukan hanya untukku. Tapi untuk semua orang yang pernah mengenalmu, apa kau tidak menyadarinya?"


"Tidak ada yang pernah berkata seperti itu kepadaku sebelumnya. Entah apa aku harus senang atau malah sedih?"


"Kenapa harus sedih, bukannya kita keluarga?"


"Akan semakin berat untukku meninggalkan kalian."


"Bolehkah aku berharap kau tidak pergi?"


Diam, hanya itu yang bisa dilakukan Hana. Dia tidak bisa menjawabnya, sementara Dongmin pun tidak bisa memaksa Hana untuk menjawabnya.


"Tidurlah agassi!" Dongmin membantu Hana memasangkan selimut.


Dalam tidurnya Hana bermimpi, dia bertemu seorang yang membuatnya harus melewati banyak pengalaman ini. Dia memberi selembar kertas yang bertuliskan 'TUGASMU SELESAI'. Hana membacanya dengan tangan yang bergetar dan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Tapi Hana tau dia tidak boleh cengeng, dia harus tetap tegar. Entah apa yang akan terjadi pada Hana saat dia membuka matanya nanti. Dalam fikirannya banyak wajah yang terlihat oleh Hana, wajah Dongmin wajah Baekhyeon wajah paman, bibi, nenek, dan juga Ara. Bayangan wajah mereka selalu berputar-putar di kepala Hana, membuat Hana ingin sekali berteriak, tapi tak ada suara yang bisa keluar. Hanya air mata yang terus menetes, dan saat Hana memandang ke depan ternyata orang itu sudah tidak ada dan hanya terlihat orang-orang yang bermain di sebuah taman dengan wajah yang ceria yang bersuka cita. Hana sangat mengenal mereka, keluarga Kim. Mereka semua bermain di taman, Baekhyeon yang berkejar-kejaran dengan Dongmin dan Ara yang berfoto bersama nenek dan orang tuanya. Mereka benar-benar bahagia. Hana tersenyum, dalam senyumannya Hana bergumam,"Tugasku selesai."