Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Pesta perpisahan



Hari sudah hampor siang, dan Hana juga belum bangun. Dongmin keluar sebentar untuk membeli kopi dan menelpon Ara, untuk memberitahukan bahwa Hana ingin berbicara dengan semua. Hana ingin berpamitan dengan semua anggota keluarga, terutama Baekhyeon. Ara bertanya-tanya kenapa dia ingin semua berkumpul disana? Padahal dokter berkata kalau ayah, ibu, dan Hana bisa pulang hari ini.


"Nenek, Hana ingin kita berkumpul di rumah sakit karena dia ingin membocarakan sesuatu."


"Ada apa Ara? Bukankah mereka bisa pulang hari ini?"


"Aku tidak tau nenek, Baekhyeon juga harus ikut kesana."


"Baiklah, nenek akan bersiap-siap dulu."


Semua sudah berkumpul di kamar Hana, dan dia juga sudah bangun dari tidurnya. Hana mengobrol dengan semua, bercanda tawa dan bergurau.


"Kalau aku pergi, jangan lupakan aku ya Baekhyeon!"


"Wah, noona dari tadi bercanda saja."


"Iya nih Hana, nenek sampai tidak bisa berhenti tertawa."


"Aku nggak bercanda nenek. Paman, bibi,nenek, eonni, dan Baekhyeon kalian adalah kelurga yang selama ini aku impikan. Banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil setelah kenal kalian. Dari hubungan anak dan ibu dan juga saudara," Hana menahan air matanya agar tidak jatuh saat berpamitan."Kalian pasti kaget kan kenapa aku bicara seperti ini, seperti mau pamit ya? Tapi memang benar aku harus pamit, pamit kepada kalian yang banyak memberiku perhatian dan kasih sayang." Tanpa terasa air mata itu jatuh sendiri, tanpa disadari juga sudah ada bibi di sampingnya yang sedang memeluknya."A, aku harusnya tidak menangis seperti ini, ahh harusnya aku malu. Hiks, maafkan aku! Maaf!" huuuuhuuuu.


"Hana, kenapa kau jadi seperti ini? Kenapa kau harus berpamitan kepada kami?" Tanya nenek dengan suara parau menahan tangis.


"Noona, kau tidak boleh pergi. Dengan siapa lagi aku harus berteman kalau noona pergi?"


"Baekhyeon, ada ibumu ada pamanmu kau punya keluarga. Kau pasti tidak akan kesepian lagi."


"Tapi noona, aku juga masih ingin bersamamu."


"Hana, apa ini? Kau bilang perpisahan, bukankah kau sudah menganggap aku seperti ibumu sendiri? Lalu kenapa kau harus meninggalkan ibumu?"


"Bibi, hiks..." Tidak bisa berkata-kata.


"Apa alasanmu mau meninggalkan kami Hana?" Tanya paman dengan menahan amarah karena perkataan Hana yang membuatnya sedikit syok.


"Ayah, ibu, nenek, dan Baekhyeon Hana pasti punya alasan tersendiri kenapa dia harus pergi? Aku tau kenapa kalian seperti ini, tapi kalian juga harus mengerti posisi Hana kenapa dia harus meninggalkan kita walau dia juga enggan." Ara mencairkan suasana yang sudah mulai kaku ini."Meskipun Hana tidak bisa menjelaskan kepada kita apa alasan dia harus pergi? Apakah itu penting untuk kita? Hana sudah seperti keluarga kita bukan? Kita harus percaya kepadanya, bahwa kepergiannya memanglah sesuatu yang terbaik bukan hanya untuk dia tapi juga untuk kita. Sekarang kita hanya harus saling menguatkan satu sama lain. Kita pasti bisa menghadapi perpisahan ini." Suara Ara mulai terdengar parau, dan semua yang ada di ruangan tersebut juga sudah susah payah menahan tangis menahan air mata yang sudah ingin jatuh tanpa ada perintah tersebut.


"Kalian harus ikhlas!" Terdengar suara Dongmin yang begitu kuat, terdengar begitu tegar menghadapi perpisahan ini. Padahal dialah orang yang harusnya merasa sangat berat dengan kepergian Hana."Kita pasti bisa bertemu lagi dengan dia, meskipun dengan keadaan yang berbeda. Tapi itu tidak akan menutup kemungkinan untuk tidak bertemu lagi dengan dia. Sekarang yang dia perlukan hanya senyum bahagia dari kita keluarga keduanya."


"Dongmin benar, harusnya kita bisa membuat kenangan yang manis buat Hana, agar dia bisa mengingat terus kita sebagai keluarganya." Tambah Ara dengan senyum manisnya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang hapus air mat kalian. Dan kita pulang bersama, mari menghabiskan banyak waktu bersama agassi dan membuat kenangan bersama dengannya. Kita bisa mengambil banyak foto sebelum dia pergi."


"Itu ide yang sangat bagus Dongmin, bagaimana denganmu Hana?"


"Iya eonni aku setuju, mari pulang dan kita akan mengambil banyak foto bersama. Ehm, bisakah kita membuat pesta barbeque di rumah?"


"Tentu saja Hana, semua akan dipersiapkan untuk menyambutmu pulang."Jawab paman penuh semangat."Dongmin telpon Bibi Jung katakan kalau kita akan mengadakan pesta barbeque nanti malam!"


"Iya ayah." Jawab Dongmin semangat.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah, semua sudah mulai sibuk mempersiapkan pesta untuk Hana. Sementara Baekhyeon, dia selalu menempel kepada Hana. Bahkan tidak sedetikpun Baekhyeon mau melepaskan Hana. Semua mengerti perasaan Baekhyeon, Hana terus mencoba menenangkan Baekhyeon.


"Baekhyeon bolehkan aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Apa?"


"Apa kau akan mengingatku saat aku kembali nanti?"


"Aku akan selalu mengingatmu noona, apa noona akan benar-benar kembali kesini? Kapan noona, kapan noona akan kembali lagi kesini? Saat noona kembali aku akan menjadi lelaki yang sangat berani dan lebih ceria daripada sekarang."


"Kita pasti akan bertemu lagi, jika Tuhan mengizinkan. Kau tau Baekhyeon, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan apakah rencana itu bisa berjalan lancar atau tidak(?)"


"Hehe, iya noona. Tapi aku tidak mengerti. Tapi tidak apa-apa, saat noona kembali nanti aku akan menjadi anak yang lebih pintar."


"Hem, terima kasih temanku adikku sahabatku. Rasanya aku pasti akan sangat rindu saat-saat seperti ini bersamamu."


"Apakah kau tidak akan rindu saat-saat bersamaku?" Tiba-tiba suara Dongmin membuat Hana dan Baekhyeon kaget.


"Paman, apa kau tidak tau kalau noona hanya rindu padaku?"


"Kau kan masih kecil, tentu saja dia akan rindu padamu. Dasar kau ini."


"Kalau nanti aku besar dan bertemu noona kembali, aku akan menikah dengan noona." Seketika kata-kata polos Baekhyeon membuat Hana dan Dongmin kaget. Mata Dongmin terbelalak lebar sedangkan Hana mulai tertawa karena tidak bisa menahan tawanya tersebut.


"Apa?"


"Pftt, hahahahahhahha. ..."


"K, kenapa noona tertawa? Apa aku sangat lucu?"


"Hei anak kecil, apa kau benar-benar lupa umurmu? Apa kau mau dipukul biar sadar?"


"Dasar paman ini, kau pasti cemburu kan karena noona yang cantik ini berduaan denganku?"


"Aduhhh, dasar anak kecil. Keluar sana, buat kesal saja!"


"Yeeee, paman kalah dari anak kecil. Bwekkk." Baekhyeon berlari keluar dengan menjulurkan lidahnya untuk mengejek pamannya.


"Dasar anak kecil."


"Haha, sudah sudah. Kenapa kau harus marah dengan anak kecil? Atau, apa kau benar-benar cemburu? Hah, hah??"


"K, kau ini kenapa mirip sekali dengan Baekhyeon sih? Suka ngeledekin orang tua."


"Ahh, iya benar kau sudah tua ternyata."


"Ck, huh. Benar-benar deh."


"Hei, aku hanya bercanda kenapa kau jadi semarah itu?"


"Marah? Aku tidak marah hanya saja kalau teringat kau harus pergi, rasanya seperti akan ada salah satu bagian dari diriku yang hilang."