Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Pertemuan Hana dan Ara



Setelah beberapa hari Hana masih belum mendapatkan informasi apapun tentang orang tua Baekhyeon. Bertemu Dongmin pun hanya saat sarapan saja, tentu Hana tidak bisa menanyakannya di depan banyak orang. Dan Hana pun selalu berusaha mendekati Baekhyeon dengan caranya.


Hana berusaha untuk mencari informasi selain bertanya kepada Dongmin. Tapi dia tidak menemukan apa\-apa, bahkan album foto yang pernah nenek tunjukkan pun tidak ada foto orang tua Baekhyeon.


"Kenapa sama sekali tidak ada foto Ara dan suaminya ya." Hana hanya bergumam sendiri, sambil berfikir tentang cara lain untuk lebih mendekati Baekhyeon.


"Hana, apa yang kau pikirkan? Sepertinya kau banyak sekali pikiran akhir-akhir ini."


"Eh, nenek. Tidak nek hanya saja sepertinya aku jarang sekali bertemu Dongmin akhir-akhir ini. Apakah dia sibuk dengan pekerjaannya?"


"Kenap kau mencari dia? Apa kau khawatir dengannya?"


"Dia kan sudah besar nenek, kenapa aku harus mengkhawatirkan Dongmin?"


"Iya kau benar, apa kau melihat Baekhyeon?"


"Iya, sepertinya Baekhyeon ada di taman belakang."


"Aku lihat akhir-akhir ini kau lebih dekat dengan Baekhyeon."


"Begitulah nek, sebenarnya aku hanya ingin menjadi temannya. Tapi sepertinya itu sangat sulit."


"Baekhyeon memang sulit bergaul dengan orang lain. Mungkin dia belum terbiasa dengan keberadaanmu. Biasanya dia hanya bermain denganku saat tidak ada orang di rumah."


"Hah, apa nenek punya ide agar aku bisa mendekatinya dan menjadi temannya."


"Ikuti kemauan dia!"


"Itu selalu aku lakukan nenek, semua yang dia suruh aku selalu mengerjakannya. Minta diambilkan ini diambilkan itu bahkan dia mau aku menjadi kuda untuk dinaikinya dan merangkak. Apa itu belum cukup?"


"Berarti hanya satu yang bisa kau lakukan sekarang."


"Apa itu nenek?"


"Bersabar."


"Yah, nenek benar hanya bersabar menghadapi Baekhyeon.Tapi aku rasa ada satu jurus lagi yang belum aku keluarkan."


"Apa itu Hana?"


"Nenek akan segera mengetahuinya."


"Baiklah nenek akan menunggu kabar baik darimu."


"Apakah nenek percaya padaku?"


"Apa maksudmu Hana?"


"Aku adalah orang asing nenek, yang bisa tinggal disini karena kemurahan hati kalian. Aku sangat berterima kasih."


"Tidak Hana, akulah yang harus berterima kasih kepadamu. Karena ada kau, aku masih bisa bermain dan bercanda bersama keluargaku."


"Karena nenek, aku bisa merasakan hangatnya keluarga."


Hana dan nenek saling memuji tentang pertemuan mereka. Setelah makan malam selesai, Hana segera menuju taman belakang rumah untuk mengatur strategi mendekati Baekhyeon.


"Bagaimana aku bisa mendekatinya dengan cara itu kalau aku sendiri tidak tau cerita tentang orang tuanya. Aissh, masalah ini begitu membingungkan." Hana mondar mandir dengan banyak pikiran, dan entah dari mana tiba-tiba Dongmin datang dan mengagetkan Hana.


"Guk, guk..."


"Ah kaget, ada anjing disini. Kenapa aku baru tau?"


"Guk, guk, guk..."


"Tapi kenapa aneh ya suaranya?"


"Kenapa ekspresimu seperti itu?"


"Eh? Mr. Cha, ngapain disitu. mau mengintip aku ya? Hoo, jangan-jangan suara anjing itu kamu?"


"Hehehe, kau takut dengan anjing ya?"


"Tidak sih, cuma ada trauma sedikit tentang anjing. Ehm, t, tapi ngapain niruin suara anjing kayak gitu? Bikin kaget tau, sampai mau lepas jantungku."


"Kenapa berlebihan seperti itu sih?"


"Huh, Mr. Cha, bukankah kemarin kamu mengatakan akan bercerita tentang orang tua Baekhyeon padaku?"


"Ehm, pastilah. Ayo mulai ceritanya!"


"Baiklah sebelum bercerita tolong ambilkan 2 botol soju dan camilan dulu!"


"Apa?"


"Kalau tidak mau ya sudah, aku mau masuk dulu."


"Heh, iya-iya aku akan mengambilnya untukmu."


Setelah beberapa saat, Hana kembali dengan membawa 2 botol soju dan beberapa camilan.


Hana meletakkannya di bangku taman dan segera Dongmin membuka tutup botol soju dan langsung menenggaknya. Dan disaat itulah Dongmin memulai ceritanya tentang orang tua Baekhyeon, mulai dari saat mereka bertemu sampai akhirnya mereka berpacaran dan memutuskan untuk menikah. Beberapa bulan berlalu, Ara dan suaminya mengumumkan kehamilannya dan kabar tersebut disambut dengan kebahagiaan keluarga. 8 bulan kemudian Baekhyeon lahir dengan selamat, semua anggota keluarga sudah sangt menantikan anggota baru keluraga mereka.Tapi setelah Baekhyeon berumur 3 tahun, orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Baekhyeon yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa menanyakan dimana ayahnya setiap hari.


Ibu Baekhyeon yang adalah seorang pekerja keras. Rela meninggalkan anaknya setiap hari untuk bekerja. Baekhyeon selalu merasa kesepian karena tidak ada ayah dan ibunya dirumah. Ara selalu pergi pagi pulang malam. Bahkan saat akhir pekanpun masih tidak ada waktu untuk bermain dengan Baekhyeon. Mungkin karena itulah sikap Baekhyeon jadi berubah.


"Aku sudah menceritakan semuanya."


"Bolehkah aku tau apa pekerjaan Ara?"


"Mungkin model."


"Mungkin?"


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya dikerjakan olehnya sampai tidak pernah ada waktu sama sekali untuk Baekhyeon."


"Bagaimana dengan suaminya, em, mantan suaminya."


"Sampai sekarangpun dia bum menikah. Dia juga selalu sibuk tapi dia tidak pernah lupa untuk mengirimkan hadiah ulang tahun untuk Baekhyeon."


"Apa dia tidak pernah datang ke rumah ini?"


"Tidak, karena Ara melarangnya."


"Kenapa? Bukankah dia masih punya hak untuk bertemu dengan Baekhyeon?"


"Karena itu membuat Baekhyeon sedikit demi sedikit membenci ibunya."


"Hati Baekhyeon begitu rapuh. Anak sekecil ini harus menanggung masalah sebesar ini."


"Apa kau punya rencana untuk menghiburnya?"


"Menghibur? Mungkin tidak, karena aku ingin mendekatinya dengan hati."


"Hati?"


"Iya," menganggukkan kepalanya. "Baekhyeon akan berteman denganku, dan aku akan mengembalikan kebahagiaannya."


"Hah, haha. Apa yang mau kau lakukan."


"Lihat saja usahaku nanti!"


"Masuklah! Sudah semakin dingin, atau kau yang akan benar-benar sakit."


"Wah, Mr. Cha apa kau khawatir denganku?"


"A, apa-apaan kau ini? Cepat masuk sana!"


"Iya iya, dasar. Aku kan bercanda, kenapa jadi serius begitu. Aneh." Kemudian Hana masuk kerumah, tapi sepertinya Dongmin masih betah duduk di taman itu.


"Apakah dia benar-benar akan membantu Baekhyeon. Selama ini Baekhyeon tidak pernah menerima kehadiran orang lain. Apa aku juga harus membantunya? Tapi bagaimana caranya? Tapi sebenarnya, apa tujuan dia ingin membuat Baekhyeon merasakan masa kecilnya ini. Apa dia punya niat yang buruk? Aih, begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab." Dongmin banyak sekali berpikir tentang niat Hana yang sebenarnya untuk membantu Baekhyeon. Sementara dilain tempat Hana sedang bertemu dengan wanita cantik.


"S, siapa kamu? Bagaimana bisa masuk? Bukankah pintu depan sudah dikunci?"


"Kau siapa Berani bertanya seperti itu kepadaku? Ini rumah keluargaku, dan keapa aku harus meminta izinmu untuk untuk masuk ke rumahku sendiri?"


"Apa kamu Ara? Ibu Baekhyeon?"


" Kau ini sebenarnya siapa sih? Oh, apa kau penggemarku atau kau pengasuh Baekhyeon?"


"A, apa?"


"Asuh anakku dengan baik, buat dia menjadi anak yang penurut! Dan bilang padanya untuk lebih sopan kepada ibunya jangan terus-terusan merengek seperti anak kecil."


"Baekhyeon memang masih kecil."