
Sudah hampir 2 bulan Fisya bekerja sebagai sekretaris Pak Marcel dan merangkap bekerja di Butik MAH. Memang sangat sibuk, sampai-sampai dia tidak pernah ada waktu untuk sekedar olahraga di hari minggu.
Drrrrt,drrrrt,drrrrt... Handphone Fisya bergetar, ada panggilan masuk dari Nela.
'Iya mbak? Kenapa? Main ke rumah? Boleh kok, mbak Nela ingat kan alamat rumah aku? Oke, aku tunggu ya mbak.'
Tut,tut,tut...
"Mbak Nela mau kesini, tau aja kalau aku lagi mager. Mau bawain makanan juga buat temen ngobrol. Menyenangkan sekali punya teman seperti mereka."
Drrrt,drrrt,drrrt.. Ada panggilan lagi di handphone Fisya, ternyata panggilan dari Pak marcel.
'Iya pak? Ada perlu apa ya bapak telepon saya dihari minggu?'
'Sebenarnya saya ada perlu sama kamu, bisa kamu temui saya di kafe biasa?'
'Maaf pak, tapi saya nggak bisa. Saya ada janji dengan orang lain, dan lagi ini kan hari libur pak. Setau saya bapak tidak pernah bekerja dihari minggu.'
'Oh, ya sudah kalau begitu.'
Tut,tut,tut...
"Halo? Pak? Eh, udah dimatiin? Pak Marcel dari kemarin aneh banget sih, dari yang dulunya cuek banget si perfectionis sekarang kayak berubah banget. Lebih perhatian gitu sama aku, jadi agak nggak nyaman."
"Assalamu'alaikum, Fisya. Kita udah datang nih."
Ceklek, Fisya membuka pintu dan mempersilahkan kedua temannya untuk masuk.
"Wah, kalian bawa makanan sebanyak ini?"
"Iya dong, hari ini kita mau pesta di rumah kamu." Kata Nela dengan senyum yang lebar.
"Iya Sya, kita masak-masak aja daripada boring nggak ngapa-ngapain. Yang penting perut kenyang kan Nel?"
"Iya dong, lagian kamu semenjak jadi sekretarisnya Pak Marcel itu kelihatan sibuk banget tau nggak, sampai nggak pernah punya waktu buat ngumpul sama kita."
"Iya nih mbak, maaf ya. Sebenarnya aku juga ngarasa capek juga sih, tapi mau gimana lagi? Pak Marcel sampai sekarang belum dapat sekretaris juga."
"Eh, tapi aneh nggak sih. Biasanya kita jadi sekretarisnya dia cuma 2 mingguan. Itupun waktu yang paling lama, dan lagi kalau kita udah jadi sekretaris dia kita bisa bebas dari kerjaan di butik. Tapi sama Fisya kok beda ya?" Tanya Sari heran.
"Bener juga sih kalau dipikir-pikir, sepertinya Pak Marcel cocok deh Sya bekerja sama kamu."
"Cocok sih cocok mbak, tapi aku juga merasa aneh sih mbak. Beberapa hari ini Pak Marcel sikapnya beda banget tau nggak, kayak menunjukkan perhatiannya gitu sama aku. Dan lagi yang semula aku biasanya duduk di depan bareng Pak Jaya sekarang malah disuruh duduk belakang sama dia."
"Apa jangan-jangan dia suka kamu?" Sari bertanya dengan wajah yang serius.
"Ya nggak mungkin lah mbak. Udah ah, yuk masak. Kita makan sepuasnya dihari libur ini."
"Siap."
Dihari minggu ini mereka bertiga disibukkan dengan kegiatan memasak yang bisa membuat mereka melupakan sejenak rutinitas yang setiap hari mereka lakukan. Kesibukan dari pekerjaan yang tiada henti. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka, padahal baru kenal beberapa bulan tapi mereka sudah seperti teman sejak kecil. Keakraban mereka bertiga sering membuat iri pegawai yang lain.
"Akhirnya selesai juga, sekarang kita bisa makan sepuasnya."
"Iya mbak, seneng deh kalau bisa sering-sering kayak gini."
"Iyalah, kita harus membuat agenda untuk acara seperti ini lagi."
"Apa lain kali kita undang yang lain juga? Setuju nggak mbak?"
"Ide bagus tuh Sya, makin rame makin asyik lho."
Sudah seharian mereka bercanda tawa di rumah Fisya, malam hari pun datang dengan cepat. Nela dan sari harus pamit pulang karena besok sudah harus kerja lagi. Dan setelah kedua temannya pulang, tiba-tiba handphone Fisya bergetar lagi ada panggilan telepon dari Pak Marcel lagi.
'Iya pak?'
'Kamu udah free?'
'Saya cuma mau mengatakan besok kamu tidak boleh telat, karena ada meeting penting.'
"Ya?" Tut,tut,tut."Eh, udah dimatiin? Cowok ini maunya apaan sih, nggak jelas banget dari tadi pagi. Udah ah mending tidur, biar besok nggak dapet omelan."
Keesokan paginya.
"Kamu terlambat 3 menit."
"Terlambat? Tapi menurut jam tangan saya, saya belum terlambat pak."
"Jam saya lebih tepat waktu."
"Iyalah pak terserah." Bergumam pada dirinya sendiri.
"Apa kamu bilang?"
"Saya nggak bilang apa-apa kok pak. Bapak salah dengar kali."
"Cepat masuk mobil!"
"Pak Jaya?"
"Pak Jaya, ada urusan jadi hari ini kita bekerja hanya berdua."
"Ah, iya pak. Mau dibacakan agenda hari ini pak."
"Meeting hari ini saya tunda dulu."
"Eh? Kenapa pak? Kok saya baru tau?"
"Saya ada urusan lebih penting."
"Tapi kan pak, kemarin bapak bilang ini meeting penting dan menyangkut event besar yang akan diadakan di hotel MAH kan? Saya rasa waktu kita sudah terlalu mepet pak."
"Saya yang lebih tau daripada kamu."
".... Huh, terserah deh pak. Lagian kenapa saya harus ikut kalau hari ini bapak tidak kerja. Saya kan bisa kerja di butik dulu."
"Cerewet."
"Eh?"
Sepanjang perjalanan Fisya dan Pak Marsel, Fisya selalu cemberut karena merasa sudah dipermainkan bosnya. Bahkan Fisya pun merasa tidak nyaman kalau sedang berduaan dengan bosnya ini. Dia tidak tau kemana mobil yang dikemudikan Pak marcel pergi, dan Fisya pun enggan untuk bertanya. Tiba-tiba Fisya mendengar suara desiran ombak dari kejauhan, dia melihat ke arah jendela mobil dan memang benar kalau mobil ini menuju ke pantai.
"Wah, indah banget." Fisya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan melihat laut padahal dia masih ada di dalam mobil yang berjalan.
Ckiiiittt. Tanpa diberi aba-aba, Fisya sudah lebih dulu membuka pintu dan menuju ke tepi laut. Seakan tidak menyadari keberadaan Pak Marcel, Fisya begitu sibuk menikmati pemandangan indah yang ada di depan matanya ini.
"Wah, pemandangan birunya laut ini benar-benar indah. Seketika rasa sesak didada langsung hilang. Hmm, nyamannya."
"Apa kamu suka?"
Deg. Tiba-tiba Fisya teringat bahwa dia disana tidak sendirian. Pak marcellah yang membawa dia ke pantai di tengah kesibukan jadwal Pak Marcel.
"Kenapa bapak mengajak saya kesini?"
"Saya tidak mengajak kamu, saya hanya tidak mau sendirian saat pergi ke laut."
"Jadi ceritanya bapak takut kalau-kalau ada hantu laut gitu, dan saya sebagai tameng yang harus melindungi bapak?:
"Pft,, hahahaah. Kamu bisa aja, mana ada hal seperti itu. Saya sering pergi ke laut untuk melepas penat, dan saya pikir mungkin kamu terlalu sibuk kemarin-kemarin karena merangkap banyak perkerjaan, makanya saya mengajak kamu kesini."
"Oh, terima kasih ya pak. Ternyata bapak juga bisa peduli ya sama pegawai bapak. Dan nggak nyangka juga bapak bisa tertawa seperti itu"
Mereka berdua menikmati indahnya deburan ombak dan merasakan sejuknya angin sepoi di tepi laut. Fisya tidak pernah tau kalau bosnya sebaik ini. Entah ada maksud tertentu ataupun tidak. Dan seketika dia mengingat seorang yang selama ini dia rindukan. Ingin sekali dia meneriakkan nama orang tersebut.