Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Perhatian



Keesokan harinya, saat Hana terbangun. Dia merasa ada yang aneh, bagimana dia bisa tertidur di kamarnya padahal semalam dia berada di tman belakang? Hana mencoba mengingat-ingat, dia mengumpulkan seluruh nyawanya terlebih dahulu kemudian mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam. Dia ingat, semalam dia sedang berbicara dengan Dongmin. Saat Dongmin bercerita tentang suami Ara tiba dia tertidur di pundak Dongmin dan sudah ti-dak-ingat-la-gi. Doeng, apa ini? Tidur di pundak Mr. Cha? Hello, wake up Hana weka up. Hana menepuk-nepuk pipinya berharap kesalahan itu tidak pernah terjadi.


"Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa seperti itu? Lalu bagaimana dia membawaku kekamar? Apa aku berjalan sendiri atau aku digen... Akhh, membuat kepikiran saja pagi-pagi begini. Nanti coba tanya aja kali ya? Tapi kira-kira dia jawab apa ya? Akhh, entahlah aku jadi bingung." Hana banyak sekali berpikir tentang hal itu, kemudian dia ke kamar mandi dan segera melaksanakan kewajibannya.


Pagi ini, seperti biasa Hana yang selalu duluan berada di dapur. Dia menyiapkan bahan yang akan dimasak bibi pagi ini.


"Pagi Hana, seperti biasa ya kamu selalu berada disini duluan."


"Pagi juga bibi. Aku senang karena bisa membantu bibi masak untuk sarapan."


"Aku sangat terbantu sekali. Apa lagi pelayan kami harus cuti begitu lamanya. Dan baru kembali lagi minggu depan."


"Kenapa bibi tidak mencari pelayan lagi?"


"Tidak Hana karena dia yang sudah merawat Ara dan Dongmin dari kecil. Dan dia juga yang sangat setia kepada keluarga kami. Dia tidak pernah meminta cuti sebelumnya, jadi saat dia meminta cuti kami sangat senang dan langsung mengizinkannya untuk cuti."


"Pasti dia sangat berjasa untuk keluarga ini."


"Sangat Hana. Dia pasti akan sangat senang saat bertemu denganmu."


"Iya bibi. Oh ya bibi, bagaimana dengan hadiah Hyemin eonni? Apa bibi dan paman sudah memikirkannya?"


"Sebelum ada skandal Ara kami berdua sudah setuju untuk berangkat, tapi skandal Ara ini benar-benar membuat kami tidak bisa berangkat."


"Sebenarnya paman dan bibi tidak perlu khawatir, skandal ini akan segera selesai. Bukankah hari ini eonni akan mengklarifikasi semuanya?"


"Iya Hana, tapi bagaimana dengan Baekhyeon?"


"Semalam aku menemuinya lagi bibi, sebenarnya yang dia inginkan hanya eonni, perhatian eonni, seluruh waktu eonni dan impian dia yang ingin selalu bersama eonni. Tapi impian mereka seperti bertabrakan."


"Apa kau tidak bisa membuat Baekhyeon mengerti Hana?"


"Tidak bibi, aku tidak bisa karena yang bisa melakukan itu hanya eonni."


"Mereka sama-sama keras kepala."


"Hana, apa kau mau pergi denganku hari ini?"


"Ah nenek, memangnya mau kemana nenek?"


"Hanya berjalan-jalan saja ke taman."


"Iya nenek, mau ajak Baekhyeon?"


"Iya, ajak dia. Setelah sarapan kita bisa langsung pergi."


"Iya nenek."


"Duduklah ibu, ini ada teh minumlah dulu, sarapannya sebentar lagi siap."


"Bibi biar aku bangunkan Baekhyein dulu."


"Iya Hana."


Hana pergi ke kamar Baekhyeon, dan ditengah-tengah perjalanan dia bertemu Dongmin. Hana mau menyapanya dan bertanya tentang semalam, tapi Hana merasa malu dan enggan bertatapan dengan Dongmin. Tapi tidak dengan Dongmin, dia malah memanggil Hana dan mendekatinya.


"Agassi kenapa kau tidak berhenti waktu aku memanggilmu?"


"Ah? Hehe maaf aku tidak dengar kau memanggilku. Memangnya ada apa?"


"Ahh tidak aku hanya mau bertanya, apa kau ingat apa yang aku ceritakan padamu semalam?"


"Eh? Semalam ya, cerita yang mana? Aku lupa."


"Oh, ya sudah kalau kau lupa tidak apa-apa." Berjalan menghindari Hana dengan perasaan yang sedikit lega.


"Ehm, Mr. Cha tunggu!"


"Iya?"


"Ehm, bagaimana aku bisa berada di kamarku sedangkan semalam aku sedang bersama denganmu di taman belakang? Apa kau...?"


"Aku tidak dengan sengaja menggendongmu, karena kau susah dibangunkan jadi aku menggendongmu ke kamarmu." Blush, wajah Dongmin seketika memerah Hana pun sama wajahnya terasa panas karena kata-kata Dongmin. Dongmin langsung berbalik dan kembali ke kamarnya. Sementara Hana seketika tersadar dan masuk ke kamar Baekhyeon.


"Baekhyeon, bangunlah sudah mau waktunya sarapan."


"Aku masih ngantuk noona."


"Tidak noona, aku hanya ngantuk saja."


"Bangunlah dan cuci muka kemudian keluar dan sarapan. Karena setelah itu kita akan jalan-jalan ke taman yang kemarin."


"Aku malas noona," kembali menutupi wajahnya dengan selimut.


"Ya sudah kalau kau malas, aku bisa pergi dengan nenek. Berdua sambil menikmati udara pagi yang sangat cerah ini."


"Nenek?" Membuka selimut dengan cepat."Aku akan segera keluar."


"Dasar bocah."


Hana keluar dari kamar Baekhyeon, dan kembali ke dapur mulai memasak untuk dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang keluarga Kim makan Hana juga memakannya, hanya saja Hana tidak ikut memakan daging-dagingan. Pertama dia tidak terlalu suka dan kedua Hana berfikir belum tentu itu sesuai syariat. Mau gimana lagi? Dia harus memasak makanan yang dia rasa memang bisa dimakan olehnya. Tentu untuk keluarga Kim itu tidak masalah asal Hana suka. Seluruh masakan sudah hampir siap, bibi sudah menyiapkan semuanya dan masakan Hana juga hampir siap.


"Apa semua sudah Hana?"


"Iya bibi sebentar lagi siap. Apa bibi butuh sesuatu lagi?"


"Tidak Hana. Apa kau terbiasa bangun pagi dan memasak untuk sarapan Hana?"


"Iya bibi, tapi aku tidak pernah masak sebanyak ini karena aku tinggal sendirian."


"Apa kau senang bisa memasak makanan yang banyak?"


"Iya bibi itu adalah salah satu impianku, memasak makanan yang banyak untuk keluargaku."


"Salah satu mimpimu terpenuhi ya? Apa makanan favoritmu untuk sarapan?"


"Aku sering membuat nasi goreng telur dadar dan juga susu untuk sarapan."


"Sehat sekali sarapanmu. Apa kau bisa membuatkan kami nasi goreng untuk sarapan besok?"


"Eh? Tapi bibi, apa aku bisa memasak nasi goreng dengan porsi yang lumayan banyak?"


"Pasti bisa dong, kau kan pandai memasak."


"Bibi, membuatku malu saja. Hehe."


Semua masakan sudah tersedia di meja makan, tinggal menunggu semua anggota keluarga untuk berkumpul. Satu persatu keluarga sudah menduduki kursinya masing-masing. Kecuali Ara, pagi sekali Ara sudah berangkat untuk melakulan persiapan kenferensi pers terkain skandalnya. Baekhyeon perpura-pura tenang padahal dari tadi dia clingak clinguk mencari ibunya. Hana menyadarinya dan kemudian mendekati Baekhyeon dan berbisik pada Baelhyeon."Ibumu sudah berangkat pagi sekali karena akan ada konferensi pers terkait skandalnya. Jadi kau tenanglah!" Baekhyeon seketika tersentah dan kemudian bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Hana hanya tersenyum melihatnya. Semua mulai memakan makanannya dan seperti biasa bercengkrama dan bercanda seperti tidak pernah terjadi apa-apa dikeluarga mereka.


"Ayah, apa hadiah dari eonni Hyemin tidak akan kalian pergunakan?"


"Dongmin, bagaimana kami bisa pergi sementara dirumah sedang dalam keadaan yang tidak baik?"


"Hei, disini ada aku kan? Aku akan mengurus semua. Kalian bisa bersanang-senang disana, jangan khawatirkan kami yang ada dirumah."


"Tidak bisa Dongmin, biarkan semua kondisi ini tenang dulu baru kami bisa memikirkannya lagi."


"Iya Dongmin, kami akan pergi kalau memang kami sudah merasa kalau semua aman."


"Baiklah ibu, aku tidak akan memaksa kalian."


"Tapi aku rasa dia benar bibi, bukan saatnya kalian memikirkan skandal eonni karena ada kami disini, dan juga ada Baekhyeon sumber semangat eonni."


"Hana benar menantu, kalian harus memanfaatkan waktu untuk berlibur. Iatirahat dari semua kepenatan yang setiap hari kalian lakukan disini."


"Tapi ibu, pelayan kita belum kembali lalu siapa yang akan membantu Hana untuk memasak?"


"Ada kami menantu, kami akan saling membantu. Bagaimana Soengji?"


"Akan coba kami pikirkan lagi ibu."


"Baekhyeon, apa kau mau makanan buatan Hana ini? Ini enak sekali lho."


"Iya nenek."


Semua sudah selesai masak dan sekarang waktunya cuci semua piring. Hana mulai mencuci piring, tapi bibi melarangnya karena dia akan pergi dengan nenek. Hana kemudian bersiap-siap dan menunggu nenek di depan rumah, ternyata Baekhyeon juga sudah siap.


"Bisa kita brangkat sekarang Hana dan Baekhyeon?"


"Iya." Hana dan Baekhueon menjawab dengan kompak. Sementara disisi lain Dongmin sedang melihat mereka bertiga yanga terlihat sangat bersemangat.


"Pasti semangat untuk beli es krim, padahal cuacanya dingin begini. Dasar aneh mereka."