
Dalam benak Hana berfikir, apakah ini adalah nyawa kedua? Apakah setelah ini semua akan menjadi lebih baik? Bukankah kalau seperti ini malah akan ada kesedihan dalam keluarga Baekhyeon? Atau perasaan bersalah kepada Hana seperti yang diungkapkan Dongmin? Akh, entahlah. Hana semakin bingung, dia hanya akan mengikuti alurnya. Alur yang sudah disiapkan untuk menyelesaikan misi ini.
"Agassi, bagaiman perasaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja, hanya perut ini yang terasa sakit."
"Pelakunya sudah ditangkap."
"Pelaku? Bukankah mereka segerombolan preman?"
"Mereka dibayar."
"Dibayar? Siapa yang berniat mencelakaimu?"
"Leo Han."
"Apa dia seniormu?"
"Iya, dan sepertinya pacar Yunmi pun ikut terlibat. Pelaku penusukan tertangkap, dan sekarang dia masih diinterogasi oleh kepolisian
Dan kalau memang mereka terbukti terlibat pasti mereka akan segera ditangkap."
"Ahh, sebenarnya apa sih yang ada dipikiran mereka? Bodoh banget gak sih mereka melakukan hal yang gak ada untungnya."
"Sebenarnya mereka akan mendapat keuntungan kalau mereka berhasil melukaiku."
"Apa itu?"
"Tentu saja uang, mereka bisa memeras keluargaku dengan alasan tidak akan melukaiku lagi kalau mereka diberi uang."
"Lagi-lagi soal uang, sampai berbuat hal serendah ini."
"Oh iya, apa kau butuh sesuatu? Sebenarnya aku mau keluar sebentar."
"Apa aku boleh makan tteobokki."
"....." Dongmin diam."Apa kau ini benar-benar sakit?"
"Kenapa? Kita kemarin belum sempat makan tteobokki yang banyak kan?"
"Saat kau benar-benar sembuh, aku sendiri yang akan membuatkanmu tteobokki yang sangat pedas. Dasar."
"Iya kalau aku masih disini saat aku sudah benar-benar sembuh." Kata Hana lirih.
"Kau bergumam?"
"Ahh, tidak kau pergi saja aku tidak apa-apa."
"Baiklah, aku akan segera kembali."
Dongmin pergi dan Hana pun kembali beristirahat. Hana tidak terlalu merasa sakit, entah kenapa? Tapi sepertinya, luka ini pun akan secepatnya pulih seperti luka untuk nyawa pertama. Saat Hana akan tertidur lagi, dokter masuk ke ruangan Hana.
"Halo, apakah anda sudah merasa baikan?"
"Ahh, iya dokter. Aku sudah merasa sehat."
"Benarkah? Biar anda diperoksa dulu ya?"
"Iya dokter." Hana sudah diperiksa, dan hasilnya juga menunjukkan sesuatu yang mustahil. Kondisi Hana sudah sangat sehat, padahal dia baru saja sadar dan baru saja juga dioperasi. Dokter terheran-heran, tapi ini memang benar Hana sudah membaik.
"Maaf nona, bagaimana perasaan anda? Apa yang anda rasakan?"
"Saya merasa sudah baik, hanya sedikit nyeri diperut, dan sedikit ngantuk juga. Apa ada luka yang serius dokter?"
"Tidak nona, semuanya baik-baik saja. Tapi nona masih perlu dirawat disini."
"Iya dokter."
"Baiklah kalau begitu, silahkan beristirahat."
"Iya." Dokter pergi, dan Hana pun kembali tertidur. Dalam tidurnya, Hana bermimpi. Memimpikan seorang pria yang tersenyum melihatnya, hanya senyuman itu yang terlihat tidak dengan wajahnya. Hampor satu jam Hana tertidur dan tiba-tiba handphone yang ada di meja sebelah Hana bergetar, tanda ada telepon masuk. Hana terbangun dan menjawab telepon tersebut dan ternyata itu dari Sunghoo.
'Halo'
'Halo Hana'
'Ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini?'
'Apa kau baru bangun?'
'Anggap saja begitu, apa maumu?'
'Ahh, aku hanya ingin bertemu denganmu'
'Maaf aku tidak bisa'
'Kapan kau bisa bertemu denganku?'
'Entahlah, mungkin tidak bisa dalam minggu-minggu ini'
'Ahh, tidak. Aku sibuk sekarang, jadi aku tutup dulu teleponnya'
Tutututt. Hana langsung mengakhiri telepon dari Sunghoo, karena dia tidak mau Sunghoo bertanya terlalu banyak tentang masalah ini. Hana mau melanjutkan tidurnya kembali, tapi Dongmin tiba-tiba masuk.
"Apa kau sudah mendapatkan makananmu?"
"Belum, aku lapar sekali. Apa kau membawa makanan?"
"Hei, kau ini pasien habis operasi juga. Kau tidak boleh makan makanan sembarangan. Kau harus makan bubur karena kau sakit."
"Dokter bilang aku sudah sembuh."
"Bagaimana kau bisa sembuh secepat itu? Dasar, kau ini aneh sekali."
"Hei, tapi aku lapar. Biarkan aku makan apapun makanan yang kau bawa."
"Biar aku tanyakan kepada perawat soal makananmu." Keluar meninggalkan Hana, tapi Hana dekan sangat pelan turun dari tempat tidur dan mencari makanan yang Dongmin bawa.
"Dia membeli roti, mungkin aku bisa memakannya. Aku tidak tahan lagi dengan rasa lapar ini, semoga dia mengerti." Hana kembali ke ranjangnya dan memakan rotinya dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan siapapun. Seperti yang dikatakan Hana, dia memang sudah sembuh. Proses kesembuhan yanga sangat cepat, karena memang salah satu keuntungan dari misinya adalah ini. Memeiliki 3 nyawa dan akan segera sembuh apabila nyawanya berkurang. Tapi kalau sudah nyawa ketiga, dia tidak tau apa yang bisa terjadi.
"Agassi, makananmu akan segera diantar kesini."
"I, iya," berbicara dengan terbata-bata. Karena takut ketahuan kalau dia mengambil makanan Dongmin.
"Apa kau melakukan sesuatu?"
"Tidak, memangnya apa yang bisa dilakukan seorang yang baru saja dioperasi seperti aku?" Berakting seperti sedang nerasakan kesakitan.
"Permisi, selamat pagi! Ini sarapan untuk anda. Silahkan!" Meletakkan makanannya didepan Hana."Selamat menikmati!"
"Terima kasih!"
"Tuh makananmu sudah ada, makan itu dan berhentilah mengomel kalau perutmu lapar."
"Ahh, iya aku tau." Hana malan dengan sangat lahap, tiba-tiba Dongmin sadar kalau rotinya hilang satu.
"Ada dimana roti favoritku? Apa kau tau?"
"T, tidak kenapa kau bertanya padaku?"
"Kenapa kau jadi gagap?"
"A, aku tidak gagap hanya saja bubur ini sedikit terasa panas."
"Apa aku lupa ya? Aku rasa sudah membelinya. Ya sudahlah biar nanti aku beli lagi. Oh iya agassi, nanti aku pergi sebentar ayah dan ibu akan kemari."
"Oke."
"Apa kau benar-benar sudah sehat." Sambil mengunyah rotinya.
"Seperti yang kau lihat."
"Sepertinya kau memang sudah sehat, tapi bagaimana bisa secepat itu? Baru tadi malam kau dioperasi."
"Kau tau wanita hebat? Itu aku. Heheeh."
"Dasar kau ini." Drrrtdrrrtdrrrt, handphone Dongmin bergetar. Ada sebuah panggilan dari paman.
'Halo ayah'
'Iya Dongmin, kami akan segera kesana. Apa kau jadi pergi ke kantor?'
'Iya ayah, hanya sebentar'
'Baiklah kalau begitu, kami akan segera berangkat' Tuttuttuttut.
"Apa itu paman?"
"Iya, apa kau butuh sesuatu lagi?"
"Ahh, tidak kalau kau mau pergi sekarang pergilah!"
"Sebentar lagi, ayah dan ibu sebentar lagi datang."
"Baiklah, aku mau istirahat sebentar."
"Apa ada sesuatu yang mau kau tanyakan padaku?"
"Eh? Tidak, hanya saja.."
"Hanya saja?"
"Hanya saja, aku masih penasaran bagaimana bisa kau pacaran dengan Yunmi. Sepertinya dia adalah perempuan yang pemilih? Ahh, maaf aku tidak bermaksud menilai orang yang belum aku kenal. Kau tidak perlu menjawabnya kalau kau tidak mau."
"Tidak, kau memang benar. Dia memang pemilih, sangat pemilih. Dia memilihku karena aku yang paling tampan diantara teman seangkatanku waktu kuliah, dia memilihku karena uang dan dia meninggalkanku karena uang juga. Memang memalukan kalau aku oernah menyukai gadis seperti dia. Tapi itu dulu," mengembangkan senyum yang sulit sekali untuk diartikan.