
"Apa kau mencintai Yunmi?"
"Cinta? Aku tidak tau, yang aku tau aku suka melihat wajahnya. Dia cantik, tidak ada laki-laki yang menolak jika dia mendekati."
"Apa kau juga begitu?"
"Aku menolak gadis-gadis yang pernah mengatakan rasa suka mereka padaku. Karena aku menyukai Yunmi. Aku tidak pernah berfikir itu cinta. Tapi yang pasti dia bukan cinta pertamaku."
"Kagum."
"Apa?"
"Ya, kagum. Mungkin itu adalah perasaan mengagumi sesuatu yang terlihat indah atau cantik. Dan sesuatu itu adalah Yunmi. Apa kau pernah merasakan perasaan yang sama pada Yunmi seperti saat kau berdekatan dengan cinta pertamamu?"
"Entahlah, aku rasa tidak. Yang aku tau aku suka karena dia cantik."
"Apa sebelumnya pacarmu tidak cantik?"
"Tidak secantik Yunmi."
"Wah, ternyata Yunmi primadona ya dihatimu."
"Dulu saat aku belum tau sifat aslinya."
"Apa kau berpisah dengan cinta pertamamu karena Yunmi?"
"Tidak, kami berpisah jauh sebelum aku kenal Yunmi."
"Ehm, apa kau meninggalkan dia karena dia tidak cantik?"
"Pertanyaan apa itu? Dia yang meninggalkan aku. Baiklah, aku akan ke kantor dulu karena ceritaku sudah selesai. Saat aku kembali kau yang harus bercerita tentang dirimu. Aku pergi dulu."
"ya." Hana kembali berbaring dan tidak lama kemudian paman bibi dan nenek datang.
"Pagi Hana."
"Pagi, wah nenek juga ikut ya? Apa Baekhyeon tidak ikut?"
"Tidak, dia dirumah dengan ibunya."
"Apa dia sudah baikan dengan ibunya, Nenek?"
"Belum Hana, hanya saja hari ini Ara mau menemani Baekhyeon dirumah selama kami pergi. Ini tidak seperti biasanya."
"Wah, kemajuan dong?"
"Iya Hana, semoga hubungan mereka segera membaik. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku baik nenek, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kami sangat khawatir Hana."
"Iya bibi, tapi bibi bisa lihat sendiri kalau aku sudah sembuh kan?" Menyungginggkan senyumnya.
"Hana, bagaimana dengan pelakunya?"
"Mr, eh Dongmin sudah mengurusnya paman.."
"Baguslah kalau begitu."
Mereka banyak bercanda, sampai tak terasa waktu sudah mulai sore. Bibi ragu untuk pamit pulang, karena Hana tidak ada yang menunggu. Hana sepertinya mengerti kalau mereka ingin pulang.
"Bibi, apa Baekhyeon baik-baik saja dengan eonni kalau bibi pergi lama seperti ini?"
"Dia tidak akan apa-apa Hana, Ara bisa memasakkan sesuatu untuk dia."
"Apa nenek tidak lelah? Nenek terlihat sangat lelah, lebih baik kalian pulang saja dulu."
"Tidak Hana, kalau kami pulang kau dengan siapa?"
"Paman, aku sudah besar lho dan aku berani kok disini sendiri. Diluar juga banyak perawat, apa yang harus aku takutkan?"
"Apa kau tidak apa-apa kalau kami tinggal sendiri?"
"Iya paman, biar nenek juga bisa cepat istirahat dan Baekhyeon juga bisa cepat memakan masakan bibi. Hehehe."
"Hana kau ini bisa saja."
"Tapi benar bibi, lebih baik kalian cepat pulang."
"Baiklah Hana, kalau begitu kami pulang dulu. Biar nanti Dongmin aku suruh cepat kemari."
"Iya paman."
"Padahal dia bilang hanya pergi sebentar, tapi sampai sore begini dia belum kembali."
"Sudahlah Seongji mari kita pulang, biar Hana juga bisa istirahat."
"Iya ibu, Hana kami pulang dulu besok kami akan kembali lagi."
"Iya paman, hati-hati!"
Paman, bibi, dan nenek pulang. Hana kembali beristirahat, setengah jam berlalu Dongmin datang dengan membawa seseorang yang sangat ingin bertemu Hana. Hyemin eonni, dia tau tentang kejadian itu. Karena tidak sengaja dia bertemu dengan Dongmin di depan rumah sakit.
"Hana, apa kau baik-baik saja?"
"Eonni, eonni datang dengan siapa dan bagaimana eonni tau?"
"Hei Dongmin, apa benar dia sakit?"
"Entahlah, kalau melihat dia sekarang mungkin dia bukan orang sakit."
"Hei, kenapa kalian bicara begitu? Aku kan cuma tanya eonni."
"Tapi bagaimana bisa seorang yang baru saja menjalani operasi bisa terlihat sangat sehat seperti ini?"
"Eonni, bukankah ada Dia?" Menunjuk ke atas.
"Ahh, iya kau benar. Aku membawa kue untukmu, apa kau mau?"
"Tentu saja eonni, itu pasti enak."
"Eh, dimana Dongmin tadi?"
"Oh iya, tadi di depan aku bertemu dengan Dongmin dan dia bilang kalau kau kemrin ditusuk orang, jadi aku minta dia untuk membawaku kemari."
"Iya eonni, terima kasih sudah menjengukku. Dan membawa kue ini juga."
"Hei agassi, dari tadi handphonemu bergetar terus. Kenapa tidak dijawab?"
"Sejak kapan kau duduk disana Dongmin? Mau kue?"
"Tidak noona terima kasih."
"Ahh, kenapa aku tidak mendengar getarnya ya?"
"Memang siapa aih yang menelponmu sampai berkali-kali seperti itu?"
"Oh dia hanya kenalanku."
"Kau punya kenalan lain selain kami Hana?"
"Iya eonni, ceritanya panjang sekali. Kapan-kapan akan aku ceritakan."
"Kenapa tidak diangkat?"
"Biar saja, gak penting juga. Lebih enak ngobrol sama eonni."
"Hei Dongmin, siapa wanita yang berbicara denganmu tadi?"
"Teman."
"Teman? Benarkah? Tapi kelihatannya kau senang sekali bertemu dia."
"Tidak juga, biasa aja."
"Wah, jangan-jangan mantan pacarmu ya? Siapa itu namanya? Yu, Yunmi? Iya kan?"
"H, hei kau ini. Kenapa bahas dia, bikin kesal aja."
"Wah, ternyata Dongmin bisa marah juga. Hahahah."
"Emang dia sebaik apa eonni, sampai tidak bisa marah?"
"Dongmin itu anak yangsangat baik Hana, dia oenurut sekali lho."
"Wah, benarkah?"
"H,hei, kenapa kalian membicarakan orang di depan orangnya langsung?"
"Wah, pasti besar kepala deh dia."
"Hahahahah."
"Aku mau beli kopi saja, noona mau?"
"Iya Dongmin terima kasih."
"Eonni, kenapa eonno datang ke rumah sakit? Apa ada yang sakit?"
"Tidak Hana, aku hanya menemui dokter kenalanku. Dia bekerja di rumah sakit ini."
Beberapa menit kemudian Dongmin datang dengan membawa 2 gelas kopi. Hyemin sedang menerima telepon saat Dongmin datang.
"Mana noona?"
"Dia sedang menerima telepon."
"Kau cuma bawa 2 gelas?"
"Memangnya kenapa? Kau juga minum kopi?"
"Tidak juga, aku hanya bertanya.Hehe."
"Aku akan meminta selimut lagi."
"Ahh, Mr. Cha kau tidak perlu menginap disini. Aku tidak apa-apa kalau disini sendirian."
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu? Kau kan korban, bagaimana kalau ada orang jahat yang mau mencelakaimu?"
"Kau terlalu berlebihan, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Bodoh, kalau aku pulang bisa-bisa aku yang jadi perkedel."
"Haha, baiklah. Eh iya, apa nanti kau akan mengantar eonni?"
"Kenapa?"
"Ahh tidak, hanya saja kalau kau keluar aku mau kau membelikan aku sesuatu."
"Apa?"
"Buku komik detektif?"
"Komik detektif?"
"Iya, aku bosan sekali disini. Kalau tidak ada orang aku hanya tiduran saja."
"Baiklah, nanti aku belikan."
"Terima kasih."
"Dongmin, apa kau bisa mengantarku ke butik. Sepertinya mereka membutuhkanku disana."
"Iya noona."
"Hana, maaf aku harus pergi sekarang. Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama lagi."
"Iya eonni aku mengerti."
"Tetap semangat ya Hana, swmoga kamu lekas sembuh."
"Terima kasih eonni."