
"Bukankah Beakhyeon memang masih kecil."
Hana sedikit kesal melihat tingkah Ara, tapi semua itu ditahan oleh Hana karena Hana juga mau mengambil hati Ara agar tujuannya tercapai.
Mungkin adalah salah satu cara untuk bisa membuat Ara mengakui keberadaan Baekhyeon. Sudah lama sejak Hana berada di rumah sakit, baru kali ini Ara pulang kerumah.
"Eonni, apa kamu butuh sesuatu?"
"Eonni? Siapa kau berani memanggilku seperti itu?"
"Aku... Aku hanya tamu disini. Dan selama aku disini aku ingin membantu anggota keluarga ini."
"Oke, ambilkan aku soju dan bawalah ke kamarku!"
"Noona, apa yang kau lakukan?"
"Oh, Dongmin adikku. Bukankah dia pembantu? Aku hanya menyuruhnya untuk membawakan minuman ke kamarku.
"Dia itu bukan pembantu, noona."
"Aku tunggu di kamar ya?"
"Mr. Cha tidak apa-apa. Biar aku mengikuti kemauannya kali ini."
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya. Aku bawakan eonni minumannya dulu." Hana membawakan soju ke kamar Ara. Dan Hana juga memiliki sesikit niat untuk berbincang dengan Ara, kalau itu bisa terjadi sih."
"Eonni, ini minumanmu. Apa kamu butuh sesuatu lagi?"
"Tidak, kau bisa pergi."
"Apa kamu tidak merindukan Baekhyeon?"
"Hah, haha. Siapa kau berani bertanya seperti itu."
"Baekhyeon sangat merindukanmu meskupin dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada siapapun. Bahkan dengan nenek buyutnya."
"Bukan urusanmu. Pergi!"
"Baik eonni."
"Dan lagi, jangan pernah panggil aku eonni."
"Itu hakku, Eonni. Saya akan keluar."
"Dasar, menyebalkan."
Hana keluar dengan senyum yang sulit diartikan. Dan dia masih belum menyadari keberadaan Dongmin yang dudul dikursi untuk menunggunya keluar dari kamar noonanya.
"Ehem, sudah keluar."
"Mr. Cha, ngapain disitu?"
"Menungguku? Memangnya ada perlu lag."
"Ini," sambil mengulurkan paperbag kecil untuk Hana."Nenek menyuruhku untuk membelikan hp untukmu."
"Eh, ini tidak perlu. Bukankah ini hp keluaran terbaru, harganya pasti sangat mahal. Kamu kembalikan saja! Aku belum membutuhkannya."
"Ambil saja! Kalau tidak mau kembalikan saja pada nenek atau buang saja!"
"Ah, baiklah aku tidak akan mengecewakan nenek. Gomawo, Mr. Cha." Dongmin hanya tersenyum dan segera masuk ke kamar.
Berbeda dengan Dongmin yang langsung masuk kamar setelah memberikan hp kepada Hana. Hana masih berada di depan kamarnya dan mondar mandir sambil memikirkan sesuatu.
"Hana, kau belum tidur?"
"Paman, apa paman terbangun karena aku berisik?"
"Ah, tidak Hana. Aku sengaja bangun karena mau ambil minum."
"Tadi aku bertemu Ara."
"Apa dia sudah pulang?"
"Iya paman."
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Tidak paman."
"Baiklah kalau begitu, istirahatlah ini sudah larut malam."
"Iya paman, selamat malam!"
"Malam Hana, apa Dongmin yang memberimu hp itu."
"Ah, iya paman."
''tidurlah."
Keesokan paginya, Hana segera mencari nenek setelah tau nenek sudah bangun.
"Nenek, terima kasih untuk hp barunya."
"Iya, Dongmin yang memberikannya padaku semalam. Dia bilang karena nenek yang menyuruh."
"Oh, Dongmin. Iya, iya nenek yang menyuruhnya. Apa kau suka?"
"Iya nenek terima kasih. Tapi sebenarnya nenek tidak perlu memberiku hp ini."
"Bukankah kau juga butuh Hana? Apakah kau tidak bosan kalau tidak ada hp?"
"Aku sebenarnya belum terlalu butuh nenek. Dan lagi, kenapa aku harus bosan, disini ada Baekhyeon ada nenek ada bibi dan paman juga. Kehangatan kalian yang terasa padaku itu sudah cukup."
"Aku mendengar kalau kau sudah bertemu Ara. Apa itu benar?"
"Iya nenek. Semalam kami bertemu."
"Apa dia berkata tidak sopan padamu. Tidak nenek, dia tidak begitu. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya dan Baekhyeon."
"Apa kau mampu mendengar dia akan mengejekmu?"
"Itu tidak masalah nenek, tidak akan berpengaruh apapun kepadaku."
"Baiklah Hana, nanti aku akan memperkenalkanmu saat kita sarapan."
"Iya, ehm nenek. Apakah Ara sering seperti ini? Maksudku, tidak pulang kerumah selama ini."
"Iya Hana, sering sekali dia seperti ini. Pernah juga sampai sebulan dia tidak pulang sama sekali."
"Dia sangat sibuk bekerja ya? Tapi bagaimana dengan Baekhyeon?"
"Setiap hari Baekhyeon semakin menbenci Ara. Ara tidak pernah memberikan perhatian kepada anaknya, bahkan untuk bertanya kabar saat dia tidak pulang pun itu jarang sekali dilakukan oleh seorang ibu."
"Kasihan Baekhyeon."
"Lalu bagaimana perkembanganmu dengan Baekhyeon?"
"Baik nenek, aku akan terus berusaha agar aku bisa menjadi temannya."
"Sebenarnya Baekhyeon bukanlah anak yang nakal, hanya karena kesepian dan merindukan ibunya dia jadi seperti ini."
"Iya, aku tau nenek. Hanya saja, akan sedikit sulit untuk bisa membuat mereka merasakan saling membutuhkan satu sama lain."
Waktu sarapan sudah tiba, Hana dan keluarga yang lainnya tengah asyik ngobrol sambil makan. Tapi Baekhyeon hanya diam saja, Hana melihatnya tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa memulai percakapan dengan Baekhyeon. Waktu untuk itu akan segera tiba, karena orang yang ditunggu Hana sudah keluar. Yup, Ara ibu Baekhyeon. Hana menunggu Ara untuk memulai menyapa Baekhyeon. Saat Ara sudah duduk Hana memulainya.
"Baekhyeon, apakah kau mau mencicipi masakanku ini?" Hana menyodorkan masakannya kepada Baekhyeon, dan Baekhyeon pun menyambutnya dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Terima kasih."
"Wah, kau manis sekali Baekhyeon."
"Sejak kapan kau mau menerima makanan dari orang asing?" Tanya Ara sambil memakan makanannya.
"Bukan urusanmu!"
"Ternyata kau masih seperti biasanya ya, anakku."
"Ara, Hana vukan orang asing disini. Jadi jaga ucapanmu."
"Benarkah ibu? Kalau bukan orang asing, kenapa aku tidak kalau sebelumnya ada dia?"
"Karena eonni terlalu sibuk diluar jadi tidak tau apa yang ada didalam rumah."
"Wah, berani juga ya kau menjawab kata-kataku? Well, apakah kalian menyewanya untuk mengurus cucu kesayangan kalian?"
"Aku sudah selesai makan nenek buyut." Baekhyeon yang dari tadi hanya diam saja tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan menjauhi meja makan.
"Tunggu Baekhyeon, apakah kau tidak mau mengenalkan Hana dengan ibumu?" Tanya nenek untuk mencegah Baekhyeon.
"Bukankah dia seorang artis kakek? Kenapa nenek buyut menyuruhku untuk mengenalkannya dengan Hana. Aku sendiri saja tidak kenal dengan dia." Baekhyeon masih berdiri ditempatnya, tanpa mau kembali ke kursinya.
"Baekhyeon duduklah dulu! Dimana Dongmin, kenapa dia tidak ikut sarapan."
"Paman sudah brangkat kakek."
"Ternyata ini yang kau ajarkan kepada anakku, kenapa ayah tidak memilih pengasuh yang bagus sih?"
"Maaf eonni, tapi aku bukan pengasuhnya Baekhyeon. Aku hanya orang yang ingin berteman dengan Baekhyeon, dan bukan aku mengajarkan dia jadi seperti ini. Karena dia belajar ini semua darimu."
"A, apa maksudmu?"
"Eonni guru terbaik untuk seorang anak adalah seorang ibu, pengasuh terbaik untuk anak adalah ibu. Di negaraku ada salah satu bahasa yang bisa menggambarkan singkatan seorang guru. 'Guru: Digugu lan ditiru' yang artinya adalah diperhatikan dan diikuti. Jadi eonni, sikap baik atau buruk seorang anak tergantung orang tua yang mendidiknya kan?"
"Omong kosong, aku tidak pernah mengajarinya bicara tidak sopan begitu kepada orang tua."
"Itulah sebabnya Baekhyeon jadi seperti ini Ara, karena kau tidak pernah mengajarinya."
"Nenek, nenek membela orang asing ini?"
"Nenekmu hanya sedikit membenarkan Ara. Karena menurut ibu semua perkataan Hana benar."
Ara sangat kesal dengan suasana sarapan saat ini. Dia memutuskan untuk pergi dari meja makan dan kembali ke kamarnya.
Sementara Baekhyeon masih duduk di meja makan dengan wajah yang tertunduk. Entah kenapa dia merasa malu kepada Hana. Dan mungkin dia juga merasa senang karena Hana berani mengatakan hal itu kepada ibunya. Dan membuat ibunya marah.