Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Hana 2



 


Hana masuk ke kamar Baekhyeon dengan membawa nampan penuh dengan makanan.


 


Tok, tok,tok...


"Tidak ada yang boleh masuk ke kamarku!!" Teriak Baekhyeon dari dalam kamarnya.


Ceklek.


"Aku membawa makanan untukmu Baekhyeon."


"Kau tidak perlu sok perhatian padaku, aku tidak membutuhkannya."


"Pedas sekali kata-katamu Baekhyeon. Kayak bubuk cabe bibi."


"Kenapa masih kesini?"


"Aku membawakan makanan untukmu, kau pasti lapar karena baru pulng berolahraga."


"Aku tidak lapar. Kau bisa keluar."


"Aku akan keluar kalau semua makanan di nampan ini habis semua."


"Aku tidak mau makan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu untuk memakannya. Kebetulan aku juga belum makan." Hana memakan kimbabnya, dengan sedikit gaya yang dilebihkan untuk membuat Baekhyeon menelan ludah.


"Wah, kimbab ini enak sekali. Bahkan nenek pun suka. Baekhyeon apa kau tidak mau mencobanya, ini enak lho?"


"Apa itu kimbab? Kenapa bentuknya seperti itu? Jelek sekali."


"Hei, kau belum mencobanya bukan? Coba satu gigitan aja, kau pasti suka."


"Nggak mau, orang jelek gitu. Emang bisa dimakan."


"Bisalah, buktinya aku udah makan. Paman, bibi, nenek, dan Dongmin pun sudah mencobanya. Yakin gak mau coba?" Kembali mengangkat kimbab yang ada di nampan.


"Aaaaaa,,,,"


"Sini biar aku coba!"


"Oke, ini makan yang banyak ya!" Baekhyeon mengambil kimbabnya dan memasukannya ke dalam mulutnya.


"Gimana Baekhyeon, enak?"


"Ini pasti buatan nenek, karena rasanya sangat enak. Aku mau lagi."


"Kau bisa mengahabiskan semua Baekhyeon. Tapi asal kau tau, kimbab ini buatanku lho. Ya meskipun bentuknya biruk sih. Tapi yang penting rasanya kan?" Baekhyeon benhenti mengunyah sejenak. "Baekhyeon, seperti kata-kata ibumu yang tadi. Mungkin dia berkata begitu karena dia tidak bisa mengungkapkan perasaanya, betapa senangnya dia bisa keluar denganmu. Kimbab ini kalau dilihat memang sangat buruk bentuknya tapi rasanya sangat enak seperti yang kau bilang. Kata ibumu juga begitu, sangat kasar didengar tapi sangat lembut kalau diartikan dengan melihat ekspresi wajahnya."


"A, apa maksudmu?"


"Saat ibumu berkata seperti itu, dia berkata dengan ekspresi wajah yang berseri-seri. Kau pasti tidak melihatnya bukan?"


"Tidak."


"Dia sangat menyayangimu Baekhyeon, bahkan akupun tau kau sama seperti dia. Hari ini kau pasti sangat senang bukan?"


"Iya," menundukkan kepalanya.


"Aku tau kalau kau ingin dia dirumah weekend ini karena kau takut dia sakit kalau pergi pagi pulang malam. Karena 2 hari ini suhu akan sangat dingin pada malam hari. Jadi kau ingin ibumu hanya diam di rumah tanpa pergi kemana-mana." Baekhyeon terbelalak kaget, karena dia tidak mengira Hana tau tujuan dia membuat ibunya ada di rumah selama weekend.


"Bagaimana kau bisa tau?"


"Karena aku melihatmu menonton saluran berita dengan kakekmu."


"Lalu bagaimana kau tau kalau aku ingin itu dengan alasan ini?"


"Karena kau khawatir kalau ibumu sakit, dan kau tidak bisa melihat ibumu kesakitan." Baekhyeon hanya menunduk mendengar semua kata-kata Hana.


"Makan makananmu, aku akan keluar karena aku sudah lapar?" Saat Hana mulai beranjak pergi, Baekhyeon memanggilnya dengan sebutan yng dirasa Hana agak canggung.


"N, noona?"


"Apa? K,kau memanggilku noona?"


"I, iya noona Hana. Bolehkah aku menjadi temanmu?"


"Hah? Ehm,.."Hana berpura-pura seakan dia berfikir bagaimana menjawab pertanyaan Baekhyeon.


"Tidak bisa ya? Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi."


"Aku sangat suka kalau kau mau menjadi temanku Baekhyeon. Aku juga suka kau memanggiku noona seperti pamanmu yang memanggil ibumu."


"Terima kasih kau sudah banyak membantuku."


"Iya."


Hana keluar dengan wajah yang sangat bahagia, dia tersenyum lebar. Dan saat sampai di meja makan, ternyata semua orang sudah selesai makan. Masih ada Dongmin disana yang sedang minum soda.


"Apakah semuanya sudah selesai makan?"


"Iya, tinggal kau saja. Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu?"


"Karena aku sedang bahagia."


"Apa sebahagia itu sampai kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila?"


"Pasti dong, apa kamu mau tau apa alasannya?"


"Apa?"


"Aku sudah berteman dengan Baekhyeon. Taraaa :)."


"Pft, bwahahahhaa. Hanya itu?"


"Kenapa tertawa, ada yang lucu?"


"Kau yang lucu. Receh banget, hanya jadi teman Baekhyeon kau bisa sebahagia ini. Hah, hahaha."


"Hei, bukankah kau juga tau bagaimana aku berusaha untuk menjadi temannya?"


"Iya aku tau, tapi aku tidak menyangka kalau kau akan sebahagia ini."


"Aku kan hanya berekspresi saja, memangnya tidak boleh?"


"Iya boleh, terserah kaau saja!"


"Oh ya Mr. Cha. Apa eonni tadi makan?"


"Iya makan, kenapa?"


"Kirain nggak makan, kan Baekhyeon sedang marah sama dia."


"Dia nggak akan berhenti makan walau dalam keadaan sesedih apapun."


"Benarkah, tapi dia model lho. Apa nggak takut badannya gendut?"


"Entahlah, sepertinya tidak. Bagi dia perut nomor satu."


"Wah, hebat."


"Apanya yang hebat?"


"Hebat dong. Dia wanita, seorang model pula. Wanita biasa pun tidak mau terlihat gemuk apalagi seorang model. Hebatnya eonni makan tanpa taku gemuk kan? Itu namanya hebat."


"Memang banyak wanita yang menjaga bentuk tubuhnya agar selalu ramping. Banyak melakukan diet, olahraga ekstrem, bahkan sampai gak makan atau memuntahlan makanan yang dia makan. Bukankah itu terlihat miris?"


"Nggak bisa dibilang gitu juga sih. Setiap orang memiliki pilihannya sendiri-sendiri, entah itu diet atau olahraga. Buat aku sih yang penting mereka masih bisa menjaga kesehatan."


"Kalau kau bagaimana?"


"Aku? Aku sih semua yang aku suka semua yang halal pasti aku makan, asal tidak terlalu kenyang sih. Hehe. Kalau aku sih tidak tidak pernah memperhatikan bentuk tubuhku, entah gemuk atau kurus. Hanya saja aku lebih memperhatikan pola makan yang seimbang banyak minum dan juga olahraga. Mungkin karena itu aku tidak bisa gemuk."


"Masa cuma itu?"


"Ada satu lagi kok, yaitu bersyukur. Mensyukuri setiap nikmat yang diberi."


Setelah semua percakapannya dengan Dongmin. Hana kembali ke kamar untuk mandi, tapi tiba-tiba nenek memanggilnya. Nenek menyuruh Hana untuk pergi ke toko baju langganan nenek untuk mengambil syal yang pernah nenek pesan. Nenek menyuruh Hana untuk pergi dengan Dongmin. Mereka segera berangkat setelah Hana mandi.


"Apakah tokonya jauh?"


"Sekitar setengah jam perjalanan kalau menggunakan mobil."


"Kau sering kesana?"


"Kalau nenek minta diantar. Kau belum pernah keluar kemana-mana kan sejak disini?"


"Iya."


"Apa yang mau kau makan? Mumpung kita ada diluar rumah."


"Sebenarnya sih aku mau tteobokki."


"Cuma itu?"


"Sebenarnya banyak sih. Tapi sekarang aku mau tau rasa tteobokki dulu. Kan di drakor sering tuh ditampilkan."


"Ya udah setelah ambil barang nenek aku akan mengajakmu ke tempat yang jualan tteobokki yang enak."


"Benarkah? Terima kasih Mr. Cha."