
Esok paginya Fisya sudah benar-benar sadar. Dan keluarga nenek itu sudah berkumpul di kamar Fisya. Dengan perlahan Fisya membuka matanya. Saat matanya sudah membuka sempurna, Fisya kebingungan dengan apa yang dilihatnya.
"Dimana aku?" Fisya mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dalam pikirannya dia seperti melihat dirinya yang menghantam tiang dengan keras saat dia menolong seseorang. Tapi hal pertama yang terlintas dibenak Fisya adalah jilbabnya. Fisya mencoba meraba kepalanya.
"Tenanglah, nak! Penutup kepalamu sudah diganti ole suster." Nenek itu mencoba menenangkan Fisya. Tapi Fisya masih terlihat tidak nyaman." Tidak ada lelaki yang melihat saat penutup itu dipakaikan untukmu." Nenek itu kembali mencoba untuk menenangkan Fisya. Nenek itu tau kalau penutup kepala itu sangat berharga untuk orang yang memakainya. Seorang suster yang beragama sama dengan Fisya menjelaskan betapa pentingnya penutup kepala yang dipakai Fisya. Penutup kepala itu adalah sebuah identitas yang tidak sembarang lelaki bisa menyentuhnya.
Fisya terlihat lebih tenang dan lega sekarang. Dia mulai melihat sekelilingnya. Banyak orang yang sudah berkumpul disampingnya. Tapi yang ada dipikirannya sekarang hanyalah nenek yang dia tolong.
"Nenek, apakah nenek baik-baik saja?" Fisya memcoba untuk mencari tau keadaan nenek.
"Kau hampir saja meninggal, dak kau mengalami koma selama seminggu ini. Bagaimana bisa kau masih menanyakan keadaan orang yang sudah membuatmu seperti ini?" Nenek itu menahan tangisannya.
"Ibu tenanglah!" Menantunya mencoba menenangkannya.
"Nak terima kasih karena kau sudah mau mengorbankan dirimu untuk ibu kami." Anak laki-laki nenek itu menundukkan kepala untuk berterima kasih kepada Fisya.
"Ibu sudah baik-baik saja sekarang, dan itu berkat kau nak." Dengan memegang tangan Fisya.
"Tidak bibi. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan."
"Apakah kami boleh tau dimana alamatmu, nak?"
"Iya nak biar kami bisa menghubungi keluargamu."
"Keluarga?" Fisya teringat dengan keluarga yang sudah lama tidak dimilikinya.
" Kenapa nak?" tanya sang nenek.
"Suster hanya menemukan kertas kosong ini disakumu saat kau dibawa kesini." Dongmin membuyarkan lamunan Fisya.
" Kertas kosong?" Fisya mengambil kertas itu dan membukanya." Bagaimana ini bisa menjadi kertas kosong, orang banyak banget tulisannya. Apa jangan-jangan hanya aku yang bisa melihat tulisan disurat ini?" Gumam Fisya.
" Ada apa,nak? Apakah kamu sudah ingat keluargamu."
" Iya nenek aku sudah ingat."
" Baguslah, dimna alamat mereka?" Tanya paman itu penasaran.
" Disurga."
Semua orang diruangan itu terdiam. Tanpa mampu berkata apapun. Lidah mereka menjadi keluh, saat mereka tau gadis penyelamat jantung keluarga mereka tidak punya siapa-siapa.
"Maafkan kami, nak!" Nenek mulai memecah keheningan.
"Lalu kau tinggal dimana, nak?"
"Aku juga tidak punya tempat tinggal paman. Saat aku membuka mata aku sudah berada di bangku taman."
"Apa kau ini orNg gila? Saat menolong nenek kau hanya memakai sweter dan piyama juga penutup kepala. Apa kau tidak meras dingin. Atau kau tidak tau kalau sekarang sudah masuk musim dingin. Atau kau sedang berhalusinasi?" Dongmin mulai mendominasi pembicaraan diruang itu.
"Dongmin, apa yang kau bicarakan?" Paman menyenggol lengan Dongmin.
"Apa? Bukankah yang aku katakan adalah benar?"
"Dongmin cukup! Nak siapa namamu? Apa kau ingat?"
"Namaku NAFISYA."
"Kau berasal dari mana?"
Belum sempat Fisya menjawab, tiba-tiba ada seorang dokter yang masuk ke ruangan Fisya.
"Apakah ada cedera yang serius dikepalanya, dokter?" tanya paman penasaran.
"Semuanya baik-baik saja sekarang. Kemungkinan besar ada efek dari benturan itu, tapi efek itu tidak serius. Mungkin dia akan sering merasakan nyeri dikepalanya. Tapi semua akan baik asal dia bisa beristirahat dan menjaga stamina tubuhnya dengan baik."
"Kapan bisa dibawa pulang, dok?"
"Lusa baru bisa dibawa pulang. Karna pasien masih harus menjalani perawatan."
"Nenek buyut." Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari luar. Fisya mulai mencari asal suara itu. Dia terkejut ternyata suara itu berasal dari seorang anak kecil. Dan anak kecil itu adalah seorang anak yang dia temui dimimpinya. Meskipun saat dimimpi Fisya tidak melihat dengan jelas wajah anak itu, tapi Fisya yakin kalau anak itu adalah anak yang dia cari. Itu dibuktikan dengan adanya tanda lahir yang ada dibawah telinga sebelah kiri. Tanda lahir warna merah yang agak besar dan sangat terlihat dengan jelas.
"Dia? Anak itu yang aku cari. Apakah aku sudah benar-benar bertemu dengan keluarganya?" Gumam Fisya.
"Ada apa, nak?" Tanya nenek.
"Anak itu?"
"Ini anak dari cucu perempuanku, saat ini dia tidak bisa datang kemari. Baek Hyeon beri salam kepada kakak ini!"
"Selamat siang! Aku Baek Hyeon Kim." Membungkukkan badannya.
Banyak sekali kesedihan yang dilihat Fisya dari wajah anak itu.
"Dia sangat kesepian."