Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Pesta keluarga 2



"Kapan kau membuat kuenya?"


"Semalam eonni, waktu semua sudah tidur."


"Kau tidak tidur sama sekali?"


"Hehe, tidur kok. Sebentar sebelum subuh."


"Kau melakukan itu untuk kami Hana?" Tanya bibi heran.


"Iya bibi. Aku tidak bisa memberikan apapun pada kalian, dan hanya ini yang aku bisa. Sebenarnya aku membuatnya juga sebagai tanda terima kaih, karena kalian sudah mau peduli denganku hanya karena aku menyelamatkan nenek. Aku juga berterima kasih karena aku bisa merasakan sebuah keluarga saat berada ditengah-tengah kalian. Terima kasoh banyak semua."


"Hana, kau membuatku terharu." Bibi mendaratkan pelukan hangat untuk Hana. "Ini adalah kado yang paling berkesan untuk kami. Bukan hanya kami berdua, tapi seluruh keluarga. Kami beruntung karena ada kau ditengah-tengah kami. Terima kasih juga Hana."


"Mulai deh dramanya. Well, sekarang kita udah bisa menikmati hidangan malam ini kan? Karena perut si model ini udah sangat kelaparan." Kata Ara tanpa basa basi lagi.


"Ahh, iya kalian silahkan makan dulu. Aku ada perlu sebentar," seru Hana dan segera meninggalkan meja makan.


"Cepat kembali dan bergabung dengan kami ya. Karena setelah makan kita ada acara potong kue dan sesi foto-foto."


"Iyaaa,,," Hana segera kembali ke kamarnya karena dia baru ingat kalau belum sholat isya', karena tadi sesudah sholat magrib dia langsung kembali kepesta.


"Hana tidak pernah lupa ibadahnya ya?"


"Iya ibu, dia sangat taat." Jawab paman sambil berhenti memainkan sendoknya. "Dia anak yang sopan, berani, dan baik. Entah dimana bisa menemukan anak sebaik dia."


"Ayah, bukankah Ara ada disini? Ara adalah anak terbaik ayah kan? Bukankah aku selalu bisa membuatmu bangga ayah?"


"Cukup Ara, kau tau semua jawabannya."


"Kenapa eomma selalu membuatku kesal sih. Cari perhatian ya?"


"Dasar anak kecil, membuatku jadi tidak nafsu makan saja." Sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi kedalam mulutnya.


"Paman, kenapa kau bisa punya saudar perempuan seperti dia?"


"Itu ibumu bocah, yang sopan kalau bicara!"


"Lihat tingkahnya dong! Lebih anggun noona Hana lho."


"NOONA!?" Seru Ara dan Dongmin bersamaan. Sementara paman dan nenek hampir tersedak makanan.


"Kenapa kalian kaget begitu sih?"


"S, sejak kapan kau memanggilnya noona?" Tanya Dongmin sedikit gagap.


"Iya Baekhyeon, sejak kapan kau memanggil sia seperti itu?"


"Baekhyeon, kau membuat kakek dan nenek buyut hampir tersedak."


"Nenek kenapa tidak terkejut juga?"


"Aduh, karena aku tau kau sudah mulai menerima Hana."


"Hei anak kecil, jawab dong kalau ditanya." Tanya Ara agak kesal karena merasa diabaikan Baekhyeon.


"Sejak sekarang." Dengan ekspresi datar dan masih memegang sumpit yang memang akan dia gunakan untuk mengambil ayam goreng kesukaannya. Hari ini memang bibi sedang masak sangat banyak, semua masakam kesukaan dari setiap anggota keluarga ada disana. Bibi juga membuat tteobokki, karena bibi tau kalau itu makanan favorit Hana. Dari mana bibi tau ya? Apa dari Dongmin? Entahlah, yuk kita cari tahu!


"Menantu, kenapa kau membuat tteobokki?"


"Iya ibu, aku membuatnya karena Hana suka. Masing-masing dari memiliki makanan kesukaan dan semua sudah ada disini kan? Dan Hana pun menyukai satu masakan dari negri ini yaitu tteobokki. Jadi aku berinisiatif untuk membuatkannya, Hana suka sekali masakan pedas. Dan aku membuatkannya dengan sangat pedas. Entah dia akan suka atau tidak."


"Pasti suka ibu, karena dia bisa menghabiskan banyak tteobokki pedas dalam beberapa menit." Kata Dongmin santai, tanpa sadar semua mata sedang tertuju pada dia. Dan saat dia hendak mengambil sayur, dia merasa ada yang memperhatikan. "Ke, kenapa kalian menatapku seperti itu?"


"Hei Dongmin, kau banyak tau ya tentang dia?" Tanya Ara penasaran dan semakin mendekatkan matanya kepada Dongmin, karena mereka duduk bersebelahan.


"Noona, k, kau ini kenapa sih? Tentu aku tau dong, tadi siang pas aku ajak pergi membeli kado buat ibu dia minta ditraktir tteobokki yang sangat pedas dan dia memakannya didepanku. Tentu saja aku jadi tau."


"Oh, begitu ya? Kirain ada sesuatu."


"H, hei kalian semua juga berpikir begitu ayah ibu nenek?"


"Ayah, kau tidak percaya padaku?"


"Paman, jangan merengek seperti anak kecil dong! Malu sama noona tau, tuh dia sudah datang."


"Ada apa? Kenapa kalian semua memandangku seperti itu? Apa aku terlalu lama?"


"Ahh, tidak Hana duduk dan makanlah!"


"Iya nenek."


"Oh iya Hana, ini ada makanan kesukaanmu. Tteobokki."


"Bibi buat tteobokki? Kok aku tidak melihat bibi membuatnya?"


"Aku membuatnya sebelum kau datang Hana."


"Tapi, bagimana bibi tau kalau aku suka tteobokki." Dengan sedikit melirik kearah Dongmin.


"Kenapa kau melirikku?" Seru Dongmin pada Hana." Ada apa sebenarnya dengan semua orang hari ini, dia juga." Gumam Dongmin.


"Dongmin tidak mengatakan apa-apa Hana. Aku tau saat membangunkanmu tadi pagi, kau tidur sambil berbicara dan yang aku dengar adalah tteobokki. Aku pikir mungkin itu makanan kesukaanmu, dan ternyata benar."


"Terima kasih bibi, aku jadi malu karena bibi melihatku berbicara saat tidur."


Meraka semua sudah selesai makan malamnya, dan sekarang waktunya untuk pemotongab kue. Hana merasa khawatir, takut kalau nanti kuenya tidak enak. Paman dan bibi mulai memotong kuenya, dan Dongmin mulai mengabadikannya. Dan setelah itu mereka mulai mencicipi kuenya. Saat gigitan pertama, mereka dibuat takjub oleh rasa dari kue tersebut. Bahkan disetiap potongannya terlihat buah-buahan segar.


"Hana, apa ini benar kue buatanmu?"


"I, iya bibi. Apa kuenya tidak enak?"


"Apa yang kau bilang, tidak enak? Bahkan aku model berkelas pun mengakui kalau kue ini kue terenak yang pernah aku makan. Benar kan nenek?"


"Iya Hana ini sangat enak. Tidak hanya rotinya yang lembut dan empuk tapi creamnya juga sangat enak bahkan ada buah yang terasa sangat segar."


"Ibu, ibu seperti seorang chef yang sedang mengomentari masakan anak buahnya saja. Tapi Hana ini memang sangat enak."


"Terima kasih paman. Aku jadi sangat bangga karena kalian semua menyukai kue buatnku. Apa kau juga menyukainya Baekhyeon?"


"Sangat suka noona. Nyam, enak."


"Noona? Kau memanggilku noona?"


"Iya."


"Tapi sejak kapan?"


"Sejak tadi."


"Wah kau benar-benar membuatku senang Baekhyeon, bolehkan aku memelukmu."


"Ehh, tetap tidak boleh."


"Ahh, kau manis sekali Baekhyeon."


"Dongmin, kenapa kau diam saja. Apa kau tidak suka kue Hana."


"Iya ayah, eh tidak. Aku suka kuenya enak."


"Kenapa kau jadi gugup lagi. Sebenarnya ada sih denganmu? Hari ini kau aneh sekali."


"Noona, kau terlalu berlebihan sampai harus memperhatikanku."


"Hei, aku ini saudarimu satu-satunya. Kalau bukan aku yang memperhatikan adikku ini lalu siapa lagi? Ternyata kau sama saja dengan Baekhyeon."


"Hei eomma, jangan samakan aku dengan Paman Dongmin! Aku lebih pintar darinya."


"Dasar bocah, lagi-lagi kau membuatku kesal ya." Mendekati Baekhyeon dan menggelitiknya.