Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
Cemburu



Keesokan harinya saat Dongmin berpapasan dengan Hana, dia soelah enggan untuk menyapa Hana. Apa mungkin Dongmin cemburu karena melihat Hana bersama Sunghoo kemarin? Sedangkan Hana sendiri juga merasa kalau Dongmin berbeda dari biasanya.


"Mr. Cha, apa kau punya masalah?"


"Kenapa?"


"Kau terlihat murung. Apa masalahmu?"


"Aku tidak punya masalah yang serius."


"Oh, aku kira kau punya masalah, mungkin saja aku bisa membantumu."


"Tidak, aku berangkat dulu."


"Eh, ini masih pagi dan kau juga belum sarapan kan?"


"Aku akan makan diluar."


"Apa kau perlu membawa bekal? Biar aku siapkan sebentar."


"Tidak perlu, kau kan bukan ibuku."


"Ah, iya maaf."


Dongmin pergi meninggalkan Hana dengan perasaan yang entah dia juga tidak mengerti.


"Kenapa aku bicara seperti itu padanya? Ahh, tau ah jadi bingung."


Sedangkan Hana yang agak kaget dengan sikap Dongmin pun bertanya-tanya dengan perubahan sikap Dongmi.


"Ada apa dengan dia jadi bingung deh, perasaan kemarin tidak berantem atau apa? Ya udahlah diemin aja, kalau mau kan diluar ya terserah. Toh dia punya uang juga, ngapain aku repot-repot mikirin dia."


Matahari sudah hampir tenggelam, dan Dongmin masih belum menjemput Hana untuk pergi ke kebun.


"Hana, kau tidak perlu menunggu Dongmin."


"Kenapa nenek?"


"Dia sudah berada di kebun, tadi menelpon nenek dan mengatakan kalau kau tidak perlu menunggunya. Hari ini kau bisa libur dulu."


"Ahh, iya nenek. Kalau begitu akan membantu Bibi Jung saja dulu."


"Iya nak."


Hana meninggalkan nenek dan menuju dapur, selama perjalanan menuju dapur Hana banyak bergumam."Ada apa ya dengan Mr. Cha? Apa aku punya salah? Tapi apa salahku? Nggak habis pikir aku jadinya." Saat Hana sedang sibuk bergumam sendiri, handphone yang ada di sakunya bergetar ada panggilan dari Sunghoo.


'Halo'


'Halo Hana, apa kau sibuk?'


'Ahh, tidak. Ada apa?'


'Tidak, aku hanya mau mengobrol denganmu. Apa kau ada waktu?'


'Kalau sebentar mungkin bisa sih'


'Apa tadi kau pergi ke kebun?'


'Tidak, hari ini aku istirahat di rumah. Ada apa memangnya?'


'Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu'


'Apa kau merindukanku? Rindu itu berat lho'


'Berat lagi mencintai tapi tak dicintai dong'


'Wah, kau buat syair lagu ya?'


'Apa bisa begitu?'


'Mungkin saja, apa kau bisa menyanyi?'


'Semua bisa menyanyi kan, hanya saja suara bangus kan todak semua orang memilikinya'


'Eh, sudah dulu ya aku mau bantu-bantu masak buat makan malam'


'Ahh, jadi laper pengen makan masakan buatanmu'


'Kapan-kapan deh, dah...'


Tut tut tut


Hana menutup telponnya dan ergwgas membatu Bibi Jung. Sementara itu di seberang sana Sunghoo senyum-senyum sendiri setelah dapat berbincang dengan Hana, apa lagi obrolan mereka terasa sangat dekat satu sama lain.


"Hana, apa aku bisa lebih dekat denganmu? Aku begitu nyaman saat bersama denganmu, semua ketulusanmu bisa aku rasakan."


Sunghoo bergumam sendiri, dia merasa sudah sangat dekat dengan Hana meskipun dia tidak tahu siapa sebenarnya Hana ini? Yang dia tahu dia merasa sangat nyaman dan ingin terus dekat dengan Hana.


Saat Hana membantu Bibi Jung di dapur, nenek dan Baekhyeon menyusul Hana dan berbincang dengan Hana yang sedang sibuk memotong-motong sayur.


"Noona, apa hari ini kau baik-baik saja?"


"Eh? Kenapa bertanya seperti itu?"


"Iya Hana, hari ini kau aneh. Dari tadi pagi kau terlihat tidak bersemangat. Apa kau sakit?"


"Tidak nenek, aku baik-baik saja. Apa begitu terlihat kalau aku tidak baik-baik saja?"


"Entahlah Hana, tapi anak kecil ini juga melihat hal yang sama terhadapmu."


"Benarkah Baekhyeon?"


"Iya noona, kau aneh seharian ini. Kau jarang sekali menjawab apa yang aku tanyakan padamu. Sekalinya menjawab kau malah tidak fokus."


"Wah, nenek ternyata cucu nenek ini memang sudah dewasa ya. Apa aku boleh menyukainya nenek?"


"Noona, kau menggodaku?"


"Sudah Hana jangan menggodanya, atau mulutnya akan semakin maju lagi." hihihi.


"Nenek buyut juga? Hemp," sambil melipat tangan di dada Baekhyeon masuk ke kamarnya.


"Mau kemana Baekhyeon? Apa kau mau meninggalkanku? Hahaha."


"Apa kau punya masalah Hana?"


"Tidak nenek, hanya saja aku kepikiran Dongmin."


"Kau kepikiran Dongmin? Apa kau...?"


"Tidak nenek, bukan kepikiran yang seperti itu. Nenek jangan salah paham dong! Aduh, nenek ini."


"Hhehe, iya Hana iya. Kau tidak perlu malu juga kan?"


"Mana ada aku malu nenek, nenek ada-ada aja."


"Tapi wajahmu sudah seperti kepiting rebus lho."


"M, mana ada," menutupi wajahnya dengan kedua tangan."Nenek mau mendengarkan ceritaku atau tidak?"


"Hehehe, iya coba ceritakan!"


"Ada yang aneh sama Dongmin."


"Dongmin? Apa yang aneh darinya?"


"Apa nenek tau alasan kenapa dia berangkat pagi sekali dan tidak sarapan di rumah?"


"Dongmin tidak sarapan di rumah?"


"Nenek tidak tau?"


"Tidak, aku kira tadi dia meminta bekal padamu untuk dimakan di jalan."


"Itu yang aneh nenek, selama aku disini aku tidak pernah melihat dia tidak sarapan di rumah."


"Kau benar Hana, dan kalau pun dia kesiangan dia pasti meminta bekal kepada ibunya."


"Iya nenek, tadi aku juga menawarkan bekal untuknya tapi dia menolak."


"Biar nanti aku bertanya padanya saat dia pulang."


"Apa tidak apa-apa nenek, aku takut mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pribadi."


"Pribadi apanya, meskipun sudah tumbuh besar dan dewasa tapi dia tetap cucuku kan?"


"Iya nenek, ternyata nenek memanjakannya sekali ya?"


"Aish, tentu saja meskipun sudah dewasa tapi dia tetap Dongminku lucu."


"Hahaha, apa nenek mau ber..."


"Tentu saja mau," kata nenek ngegas.


"Aduh, kaget aku. Emang nenek mau apa?"


"Katamu nenek harus bertanya pada Dongmin kan?"


"Apa yang harus nenek tanyakan?"


"Ya bertanya apakah dia punya pacar? Kalau iya kenapa dia berubah?"


"Aduh nenek, apa hubungannya dengan pacar?"


"Katamu tadi dia berubah kan? Padahal kemarin dia tidak ada masalah denganmu."


"Tapi bukan itu nenek maksudku, nenek harus menanyakan kenapa dia tidak sarapan di rumah? Apa ada masalah di kantor, atau masalah dengan temannya?"


"Oh maksudmu itu?"


"Iya nenek."


"Oh iya Hana, paman dan bibimu sudah berapa hari ya?"


"Sudah hampir 2minggu nenek, ada apa?"


"Apa mungkin Dongmin sedang merindukan orang tuanya makanya sikapnya aneh?"


"Apa mungkin begitu ya, karena tadi pagi saat aku tawari bekal dia tolak dengan berkata 'Memangnya kau ibuku?'"


"Apa dia berkata begitu?"


"Iya, aku tidak tau juga sih masalahnya, jadi aku tidak berani bertanya."


Hana dan nenek merenung, berfikir tentang sikap Dongmin yang tiba-tiba berubah. Mereka fikir kalau Dongmin merindukan orang tuanya, karena memang Dongmin dari kecil tidak pernah berpisah jauh dari orang tuanya. Dan memang harus diketahui kalau Donin sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Tapi padahal Dongmin bersikap begitu karena Dongmin cemburu melihat Hana dengan Sunghoo. Dongmin dan Hana saja yang sama-sama tidak menyadari.


"Ahh, akhirnya sampai rumah juga. Nenek Baekhyeon dimana? Nenek, Hana? Mereka berdua melamun ya? Harus dikagetin nih. Hihi."


"KEBAKARAN, TOLONG KEBAKARAN!!" Ara membuyarkan lamunan nenek dan Hana.


"Hah, ada kebakaran nenek ayo segera keluar."


"A, apa ada kebakaran? Dimana?"


"Tidak ada kebakaran."


"Eonni, sudah pulang?"


"Ara, kau sengaja ya berteriak-teriak seperti itu?"


"Habisnya kalian ditanya diam saja. Terpaksa deh pakai cara kayak gitu. Lagian kalian ngapain sih?"