
"Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui kalau kau menyukainya?"
Pertanyaan Ara ini sangat sulit untuk dijawab Dongmin, dia hanya diam dan kembali mengingat-ingat kapan perasaan ini mulai muncul. Tapi tetap saja tidak ketemu.
"Apa kau menyukainya sejak pertama bertemu di rumah sakit."
"Entahlah noona, aku memang merasa dia berbeda. Tapi aku tidak tau kalau itu adalah perasaan suka. Aku berfikir kalau aku hanya sekedar mengaguminya."
"Mungkin cinta itu berawal dari rasa kagummu. Apa kau tidak mau mencoba untuk mendekatinya?"
"Entahlah noona, aku merasa dia sangat jauh dariku meskipun dia ada didekatku. Dan aku tidak percaya diri untuk mendekatinya atau masuk dalam hatinya."
"Apa kau adikku Dongmin?"
"A, apa maksudmu noona? Apa kau tidak mengenali adikmu sendiri?"
"Dasar bodoh, kau ini adik Ara seorang model yang terkenal cantik dan banyak bakat. Siapapun akan bertekuk lutut dihadapanku, dan meminta agar bisa berbincang atau sekedar menyapaku."
"Bertekuk lutut tapi tak punya pacar atau suami sampai sekarang." Kata Dongmin memelankan suaranya.
"Aku bisa mendengarnya Dongmin. Mau mati kau, hah?"
"Iya maaf, tapi aku tidak mengerti apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Dengan Dongmin adikku sayang, kau ini tampan banyak wanita yang tergila-gila padamu karena visualmu ini. Jadi manfaatkan pesonamu untuk mendekati Hana."
"Bagaimana bisa noona? Sunghoo juga tampan, apalagi dia artis terkenal."
"Apa Hana pernah menatap Sunghoo dengan tatapan yang penuh rasa suka atau kagum?"
"Entahlah, sepertinya tidak. Bahkan saat berbicara denganku pun dia tidak pernah menatap mataku."
"Berarti Hana tidak memiliki perasaan kepada Sunghoo."
"Juga tidak punya perasaan terhadapku."
"Hei, aku belum selesai. Begini Dongmin, Hana memang sangat polos. Dia tidak menyadari tentang perasaanmu kepadanya, jadi tunjukkanlah kalau kau memang menyukainya."
"Caranya?"
"Untuk langkah awal, ajak dia nonton film setelah berkebun. Atau, kau bisa libur berkebun sehari dan ajak dia nonton film dengan alasan pergi ke kebun."
"Tapi noona, bagaimana kalau dia menolak?"
"Dasar laki-laki bodoh, bagaimana mungkin Dongmin seorang adik dari Ara kim bisa sebodoh ini? Kau hanya perlu menjemputnya lalu pergi ke bioskop, kalau dia tanya arah bilang saja kalau mau ke toko ada bahan yang habis atau pupuk untuk tanaman ayah habis."
Dongmin semakin bingung, semakin canggung untuk sekedar menyapa Hana atau meminta maaf tentang yang tadi pagi. Dongmin melihat Hana sedang murung di taman belakang, mau nyamperin tapi malu, nggak nyamperin malah lebih g enak hati. Huh, Dongmin bikin gemes deh. Dan saat Dongmin mau masuk kamar ada nenek yang menyapa Dongmin.
"Dongmin, apa kau mau makan buah demgan nenek?"
"Iya nenek."
"Duduklah disini! Hana sudah mengupaskan buah untuk nenek."
"Kenapa nenek tidak menyuruhku saja untuk memgupas buah, aku kan juga bisa nenek."
"Aish, sudahlah makan saja!"
"Baiklah."
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu?"
"Aku? Aku tidak apa-apa nek, aku tidak sakit. Memangnya kenapa nek?"
"Dasar kau ini, mau nenek pukul."
"Nenek sama noona ini sama saja, main pukul-pukul aja."
"Karena kau bodoh dan pantas untuk dipukul Dongmin. Kalau kau suka Hana cepat tunjukkan, jangan malah menjauhinya." Seketika itu mata Dongmin terbelalak dan menatap nenek."Iya nenek tau kalau kau suka Hana."
"N, nenek tau dari mana? N, nenek salah dengar kali."
"Salah dengar dari mana, dari hatimu? Nenek tidak mendengar siapapun, nenek tau itu saat melihat tingkahmu."
"A, apa begitu terlihat jelas?"
"Kau bicara pada nenek, tidak perlu gagap seperti itu!"
"T, tapi, tapi nenek bisa menyimpulkan seperti itu dari mana?"
"Dari perhatian dan kekhawatiran yang sering kau tunjukkan pada Hana. Juga dari wajahmu yang selalu berseri saat kau melihat Hana."
"Nenek pasto bohong."
"Eh, tidak sih. Tapi nenek tolong jaga rahasia ini ya! Jangan sampai dia tau!"
Tap tap tap, tiba-tiba Hana datang dari luar dan ikut duduk dengan nenek dan Dongmin.
"Hana, makanlah buah yang tadi kau kupas!"
"Iya nenek," Hana memberikan isyarat kepada nenek, bertanya bagaimana dengan Dongmin apa masih marah padanya? Dan nenek menggeleng cepat. Hana tersenyum lega.
"Dongmin, bukankah tadi kau mau mengatakan sesuatu pada Hana?" Nenek memulai pembicaraan saat ada Hana.
"Eh? Ehm, i, itu," belum selesai Dongmin dengan kata-katanya nenek sudah berdiri dan pamit ke kamarnya.
"Nenek mau tidur?"
"Iya Hana, hari ini nenek lelah sekali jadi mau tidur dulu."
"Baiklah nenek selamat tidur." Nenek meninggalkan mereka, sementara Dongmin masih gugup harus berkata apa pada Hana?"Bukankah kau mau membicarakan sesuatu padaku?"
"Eh? Iya, anu itu aku mau minta maaf."
"Buat apa?"
"Yang tadi pagi, aku tidak sengaja berkata kasar padamu. Dan lagi aku juga tidak sopan padamu karena telah menolak bekal darimu."
"Oh, tidak apa-apa kok. Wajar sih kalau kau banyak pekerjaan, mungkin juga kau sedang kelelahan karena harus kerja dan mengurus kebun."
"Ah iya, mungkin kau benar."
"Ya sudah kalau cuma itu, kau harus jaga kesehatanmu. Minum vitamin juga, aku mau tidur dulu. Selamat malam!"
"Ehm, apa kau besok ada waktu?"
"Kenapa? Apa kau mau menjemputku untuk ke kebun?"
"Ya? Ah, iya ke kebun ya? Iya besok aku aku jemput."
"Oke," kembali melanjutkan jalan ke kamar.
Dongmin mulai merencanakan sebuah kencan yang istimewa, meskipun sampai detik ini dia masih belum memiliki kepercayaan diri. "Mungkin hanya sebuah jalan-jalan saja, kalau aku menyebutnya kencan sepertinya itu berlebihan karena belum tentu dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku." Dongmin bergumam sendiri di kamarnya sambil mondar mandir tidak jelas.
Keesokan paginya, Dongmin masih saja canggung saat bertemu dengan Hana.
"Pagi Mr. Cha. Kau ikut sarapan di rumah?"
"Iya, aku sudah tidak sibuk juga."
"Oh iya, hari ini aku buat nasi goreng spesial apa kau mau mencicipinya?"
"Nasi goreng dari negaramu?"
"Ya, anggap saja begitu. Aku jamin pasti kau suka."
"Percaya diri sekali."
"Pastilah, makan yang banyak ya!"
Dongmin mulai menyendok nasi gorengnya, sesendok dua sendok tiga sendok. Dan habis. Dongmin makan dengan sangat baik pagi ini, Hana yang melihatnya hanya bisa melongo smdan tersenyum kecil.
"Apa seenak itu?"
"Nggak, kurang garam." Menyembunyikan kekagumannya akan nasi goreng buatan Hana.
"Wah, padahal kurang garam tapi bisa habis dalam beberapa menit."
"M, mana ada habis. Ini luhat masih ada sisanya." Memperlihatkan piring dan setelah dia melihatnya sendiri wajahnya memerah karena malu.
"Baiklah kalau begitu besok akan aku buatkan lagi. Atau kau mau tambah sekarang?"
"Apa ini? Kenapa kalian berisik pagi-pagi? Mana Bibi Jung?"
"Bibi Jung sedang di dapur eonni."
"Apa yang kau makan Dongmin?"
"Itu nasi goreng eonni, apa eonni mau mencobanya?"
"Aku ini sedang diet, bagaimana bisa kau mau memberiku nasi goreng?"
"Coba saja eonni, Mr. eh Dongmin aja sudah habis satu piring."
"Mana ada satu piring? Cuma sedikit juga."