
Saat Hana terbangun, dia sudah berada di ranjang rumah sakit. Hana mengedip-ngedipkan matanya, kemudian mulai menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Tersenyum dengan tubuh yang sangat lemah, pandangan yang sayu nemun penuh arti.
Iya, Hana saat ini berada di rumah sakit. Saat Dongmin menerima kabar tentang orang tuanya yang selamat dari kecelakaan itu, Hana keluar dari kamar dan kemudian pingsan di depan pintu kamarnya. Tubuh Hana sangat lemah, dia hanya bisa tersenyum tepatnya hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum karena dia hampir tidak punya kekuatan sama sekali.
"Hana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ara yang terlihat sangat cemas. Tapi Hana lagi-lagi hanya membalasnya dengan senyuman."Apa kau perlu sesuatu Hana?"
"Ti-dak eonni." Hana mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa berbicara. Sungguh keadaan yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya.
"Sayang, katakan pada kami apa yang kau inginkan. Agar kami bisa memenuhinya." Kata nenek dengan mata berkaca-kaca.
"Pa-man bi-bi." Dengan terbata-bata Hana menanyakan keadaan paman dan bibi.
"Kami ada disini Hana," dengan masih menggunakan kursi roda paman meminta Dongmin untuk mendorongnya mendekati Hana, begitupun dengan bibi.
"Kami baik-baik saja, sayang. Maaf, hiks maafkan kami Hana!" Dengan isak tangis bibi mengatakan maaf yangembuat Hana pun ikut mengeluarkan air mata.
Hana hanya tersenyum kemudian memejamkan matanya. Mereka semua sangat terkejut karena Hana tiba-tiba menutup mata, mereka mengira kalau Hana sudah meninggalkan mereka. Dongmin yang dari tadi hanya diam saja, kemudian berlari keluar dan memanggil dokter.
"Tidak apa-apa tuan, pasien hanya tertidur." Kata dokter menenangkan.
"Sebenarnya dia sakit apa dokter?" Tanya paman penasaran.
"Entahlah tuan, bahkan sampai sekarang kami belum bisa memastikan. Dan obat yang kami beri hanya sekedar vitamin untuk menjaga stamina saja. Kalau begitu saya permisi"
"Iya dokter, terima kasih!"
Dokter keluar dari ruangan, dan tidak lama kemudian Dongmin ikut keluar. Dongmin terlihat sangat kacau, dia sangat merasa bersalah kepada Hana. Ingin sekali dia berteriak, meminta maaf kepada Hana dan mengatakan perasaan dia yang sesungguhnya.
"Apa kau sesedih itu Dongmin?"
"Noona? Aku sangat merasa bersalah noona."
"Iya, aku tau. Bahkan akupun sangat merasa bersalah, karena tidak bisa menghentikan Hana. Tapi, selama aku mengenal Hana, aku tau kalau dia adalah wanita yang cerdas. Dia selalu mempertimbangkan dulu apapun yang akan dilakukannya. Jadi, tenanglah! Dia akan baik-baik saja."
"Bukan hanya cerdas noona, tapi dia juga sangat kuat. Bahkan lebih kuat daripada aku, dia sangat hebat bisa melalui kehidupannya sendirian. Tanpa ada ayah dan ibu disampingnya. Kau tau, itulah yang membuatku jatuh cinta kepadanya."
"Ahh, ternyata adikku sudah besar ya? Aku jadi sedih harus kehilangan anak anjing kesayanganku, hehe."
"Pulanglah, noona. Biar aku yang menjaga disini."
"Apa kau tidak apa-apa? Makanlah sesuatu, kau belum makan sama sekali semenjak Hana masuk rumah sakit."
"Iya noona, ajaklah nenek pulang biar bisa beristirahat!"
"Iya, aku akan berpamitan dengan ayah dan ibu dulu. Besok aku akan membawa Baekhyeon kemari, dari tadi dia terus menelponku menanyakan kabar Hana."
"Iya, dia pasti senang melihat noonanya."
"Jaga kesehatanmu juga Dongmin!"
"Iya, noona."
Ara pulang dengan nenek, dan Dongmin masih ada di rumah sakit untuk menemani orang tuanya dan juga Hana. Setelah dari kamar Orang tuanya kemudian Dongmin menemani Hana, Dongmin bercerita tentang perasaannya terhadap Hana. Karena Hana masih dalam keadaan tidur makanya Dongmin berani berbicara.
"Kau tau agassi, aku sudah memiliki rasa terhadapmu saat pertama kali bertemu. Bisa dikatakan itu adalah cinta pada pandangan pertama. Tapi aku tidak pernah menyadarinya, yang aku tau hanya aku harus bisa melihatmu dan senyummu setiap hari. Tanpa aku tau kalau perasaan itu adalah CINTA. Aku sangat mengagumimu, mengagumi kepintaranmu, kecerianmu, kepolosanmu, dan kejujuranmu. Semua itu membuatku jatuh cinta semakin dalam terhadapmu. Dan aku sangat merasa bersalah karena aku memintamu untuk mengorbankan dirimu. Bahkan itupun sangat sulit untukku. Tapi aku tidak berdaya kalau menyangkut orang tuaku, hehe bukankah aku sangat cengeng? Agassi, aku sangat merindukan saat-saat dimana aku berbincang denganmu. Apakah bisa kembali seperti biasanya?"
Keesokan harinya Hana mulai sadar kembali, dengan keadaan yang sedikit lebih berstamina dibandingkan kemarin. Dia melihat Dongmin yang tertidur di sampingnya sambil mengenggam tangan Hana erat, Hana mencoba menarik tangannya. Tapi genggaman Dongmin terlalu kuat, akhirnya Hana hanya bisa pasrah sampai Dongmin bangun dari tidurnya dan melepaskan tangan Hana. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Dongmin bangun juga. Hana tersenyum ketika melihat sosok lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Agassi, kau sudah sadar?"
"Ahh, iya maaf."
"Apa kau semalaman tidur dengan posisi duduk?"
"Ahh, iya. Tapi sepertinya kau semakin membaik?"
"Iya, tapi aku rasa ini tidak bertahan lama."
"Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa, bagaimana keadaan paman dan bibi? Apa mereka sudah lebih baik?"
"Kau baru saja sadar tapi sudah banyak sekali pertanyaan yang kau tanyakan."
"Hehe, aku tidak sakit kau tau. Aku hanya sedikit lemah."
"Apa kau yang melakukan ini?"
"Apa?"
"Ayah dan ibu, apa mereka selamat karena kau?"
"Hei, aku bukan Tuhan aku hanya manusia biasa. Kalau memang paman dan bibi selamat, itu karena memang belum saatnya untuk mereka pergi kan? Harusnya kau bersyukur mereka selamat kan? Kenapa masih saja memusingkan aku?"
"Ternyata kau benar-benar sudah sembuh ya?"
"Hehe, iyalah. Aku ini gadis yang kuat tau?"
"Iya aku percaya. Maaf!"
"Eh? Maaf apa?"
"Maaf karena aku kau jadi seperti ini! Kau harus merasakan sakit karena aku."
"Hei, apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak sakit aku hanya lemah."
"Iya aku tau, tapi ini karena aku kan?"
"Bukan, karena ini memang misi terakhirku. Aku tidak tau sampai kapan aku masih bisa ada disini bersama kalian? Aku harap aku masih punya waktu lebih banyak."
"Apa maksudmu? Memangnya kau mau pergi? Pergi kemana? Agassi..."
"Siapa yang akan pergi?" Kata paman menyela kata-kata Dongmin.
"Paman, apa paman sudah lebih sehat?"
"Iya nak, aku sudah lebih sehat sekarang. Bagaimana denganmu?"
"Aku sudah lebih sehat juga paman."
"Hana, aku senang sekali bisa melihatmu sehat."
"Rerima kasih bibi."
"Kalau begitu kau akan keluar sebentar. Noona juga akan kesini sebentar lagi dengan Baekhyeon."
Paman, bibi, dan Hana banyak berbincang di kamar Hana. Bahkan perawat pun sampai mengantarkan makanan paman dan bibi ke kamar Hana. Hana sangat senang bisa melihat paman dan bibi lagi. Meskipun di hati Hana terbesit sebuah kesedihan yang akan dialaminya.