
"Pulanglah!"
Akhirnya Ara setuju untuk pulan dan menjelaskan semua kepada keluarganya, terutama Baekhyeon. Hana merasa akan ada sesuatu yang terjadi, entah apa itu. Apa itu akan terjadi pada Ara atau pada dirinya sendiri. Dada Hana terasa sesak, Hana sempat berfikir apa itu ada hubungannya dengan misinya dan nyawa kedua? Entahlah Hana pun tidak tau, karena saat ini yang lebih penting adalah Baekhyeon. Kerapuhan hati Baekhyeon akan membuat hancur Ara. Dan kehadiran Hana akan memjadi sia-sia. Sesampainya dirumah Hana langsung pergi ke kamar Baekhyeon, banyak berbicara dengan Baekhyeon.
"Hai Baekhyeon, apa kau mau coklat? Aku membawa sebatang coklat kesukaanku lho."
"Aku tidak mau."
"Yakin kau tidak mau? Ini enak lho," mencoba merayu Baekhyeon dengan menbuka bungkus coklat dan mencoba mematahkan coklatnya sedikit."Benar-benar enak sekali coklat ini. Untung kau tidak mau Baekhyeon, jadi aku bisa menghabiskan semuanya."
"Aku mau noona." mengambil coklat dari tangan Baekhyeon.
"Ehm,boleh aku tanya sesuatu padamu?"
"Apa? Nyam nyam."
"Apa kau marah pada ibumu?"
"Nggak tau."
"Apa kau kesal pada ibumu?"
"Nggak tau."
"Heem, Baekhyeon. Apa kau tau kalau aku sangat merindukan ibuku?"
"Nggak tau, eh?"
"Aku sangat merindukan ayah dan ibuku, dan aku tidak bisa bertemu mereka. Sedangkan kau, saat kau rindu setiap saat kau bisa bertemu atau menelepon. Sedangkan akusama sekali tidak bisa."
"Dia selalu bekerja, dia tidak pernah mau bermain denganku."
"Kau tau, saat aku masih seusiamu aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Mereka selalu saja bekerja tanpa mengenal lelah, tidak bisa menghabiskan waktu denganku meskipun itu weekend. Itu sangat membuatku kesal. Tapi suatu hari nenek berkata padaku, kalau ayah dan ibu bekerja untuk masa depan kami nanti. Agar saat nanti ayah dan ibu tua mereka bisa menemaniku tanpa harus bekerja. Dan apa yang dikatakan nenek memang benar, semua lelah yang pernah dirasakan orang tuaku kini berubah menjadi ilmu yang aku dapatkan seumur hidupku. Meskipun aki tidak bisa bertemu dengan mereka lgi, tapi saat aku menggunakan ilmu yang pernah dapat aku selalu merasa kalau mereka ada disisiku dan sedang melihatku. Aku ingin mereka bangga padaku. Kau juga bisa seperti itu."
"Tapi dia tidak peduli padaku."
"Kau salah Baekhyeon, ibumu sama seperti orang tuaku. Ingin menemanimu saat semua jerih payahnya sudah terkumpul dan benar-benar dirasa sudah cukup."
"Tapi aku tidak suka dia dekat dengan lelaki lain."
"Kau akan mengerti saat kau dewasa. Dan sekarang bisa kita makan? Aku sangat lapar dan kau menghabiskan semua coklat dan biskuitnya."
"Kapan aku makannya? Kenapa bisa aku yang menghabiskan semuanya?"
"Apa kau benar-benar tidak tau?" Dengan memberikan ekspresi yang seram dan mulai mencubiti pipi Baekhyeon."Ayo keluar dan makan malam!"
"Iya noona."
Akhirnya Hana dan Baekhueon keluar kamar. Mereka berdua bergabung dengan yang lain. Suasana makan malam saat ini menjadi sangat sepi, tidak satu orang pun yang bersuara hanya terdengar bunyi dari sumpit yang beradu di atas mangkuk nasi masing-masing.
"Aku sudah selesai kakek."
"Kenapa kau tidak mengahabiskan makanmu Baekhyeon?"
"Aku sudah kenyang kakek. Aku kekamar dulu."
"Baekhyeon.."
"Tidak apa-apa paman, tadi Baekhyeon sudah makan coklat dan biskuit. Jadi mungkin dia merasa sudah kenyang."
"Baiklah."
"Ehm, Hana apa kau sudah berbicara dengannya?"
"Iya eonni."
"Apa aku bisa menjelaskan padanya sekarang?"
"Tentu saja eonni bisa berbicara dengannya sekarang. Mungkin dia akan merasa sangat senang."
"Iya," eonni bergegas ke kamar Baekhyeon. Sementara yang lain masih melanjutkan makan malam. Nenek merasa tidak enak badan dan bibi mengantarkan ke kamarnya. Paman juga sudah selesai dan kwmbali ke kamarnya. Keadaan sudah semakin membaik, tapi hati Hana masih merasa tidak tenang. Dia ingin segera pergi ke kamarnya dan beribadah berdzikir untuk menenangkan diri.
"Agassi, apa yang kau katakan padanya?"
"Tidak ada, aku hanya berbicara santai dengannya. Aku akan mencuci piring dulu, permisi." Hana meninggalkan Dongmin sendiri di meja makan. Dan Hana bergegas mencuci piring agar dia segera bisa kembali ke kamarnya.
"Hana, iatirahatlah! Kau pasti lelah karena masalah kami."
"Bibi biarkan aku membantumu mencuci mangkuk dan piring ini."
"Istirahatlah sayang, biarkan bibi yang mengerjakannya."
"Baiklah bibi." Hana segera kembali ke kamarnya. Sementara itu di kamr Baekhyeon, Ara menjelaskan tentang berita itu. Baekhyeon hanya diam saja dan Ara terus menjelaskan. Ara tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya untuk bisa membuat Baekhyeon memanggilnya eomma lagi.
"Baekhyeon, apa kau tidak percaya pada eomma?"
"Keluarlah, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Baekhyeon.."
"Keluar, aku tidak mau bicara lagi padamu."
Ara sangat sedih, dengan enggan dia keluar daei kamar anaknya. Ara ingin bertanya pada Hana, apa yn
ang sebenarnya Hana katakan pada anaknya, sehingga dia sangat marah pada Ara. Ara kemudian pergi ke kamar Hana, Ara langsung masuk tanpa mnegtuk pintu terlebih dahulu.
"Apa yang kau katakan pada anakku?"
"Ada apa eonni? Tenanglah dulu!"
"Baekhyeon tidak mau bicara denganku. Dan dia menyuruhku keluar dari kamarnya."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah eonni menemui Bawkhyeon karena eonni mau menjelaskan tentang berita itu? Apa eonni memgatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan berita itu atau menjelaskan kalau tentang pekerjaan eonni?"
"Aku sudah menjelaskan semua, bahkan keuntungan yang aku dapatkan dari menemani aktor itu untuk makan malam di sebuah hotel dengan teman aktor dan aktris lainnya."
"Keuntungan?"
"Iya, aku bisa ke Paris untuk menjadi model baju dari brand terkenal disana."
"Apakah eonni tidak tau kalau itu lebih menyakitkan dari pada melihat berita eonni ditelevisi? Apa yang sebenarnya eonni lakukan?"
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Dia tidak mau jauh dari eonni lagi, itu yang dia takutkan. Dia percaya kalau berita eonni itu tidak benar. Dan sekarang eonni mematahkan kepercayaan itu. Dia pasti sangat rapuh sekarang. Bahkan mungkin tidak percaya lagi padaku."
"Apa aku salah mengatakan hal itu? Itu adalah mimpi terbesarku."
"Mimpi terbesarmu? Bagaimana dengan Baekhyeon, apa masa depan dia bukan impianmu?"
"A, apa?"
"Aduh, berat banget kepala ini. Rasanya mau tidur aja. Eonni, tolong keluar ya aku mau tidur!" Ara keluar dengan rasa tidak percaya. Selama ini ternyata Ara tidak pernah memikirkan tentang masa depan Baekhyeon. Ara kembali ke kamarnya dan merenunginya. Sementara itu Hana yang sudah sangat kelelahan masih menyempatkan diri untuk melihat keadaan Baekhyeon.
"Baekhyeon, apa kau sudah tidur?"
"....."
"Aku tau kau belum tidur, jadi bangun dan duduklah!" Baekhyeon bangun dan kemudian duduk sambil melipat tangannya didada.
"Apa kau marah padaku?"
"....."
"Hei, kenapa kau marah padaku? Apa salahku?"
"Noona bohong padaku."
"Bohong? Aku tidak pernah bohong padamu."
"Noona bilang dia sama dengan orang tua noona, tapi kenyataannya tidak. Dia memang tidak pernah memikirkan aku."
"Bukan, bukan tidak Baekhyeon tapi belum. Percayalah padaku kalau kau lebih penting dari apapun didunia ini. Itulah yang akan tertanam dalam hati dan pikiran ibumu."
"Aku tidak percaya noona."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Aku tidak percaya padanya."
"Kalau begitu percaya kata-kataku saja, oke?"
"Iya noona."
"Sekarang tidurlah anak manis." Hana keluar dengan perasaan yang sedikit lega. Tapi juga dengan badan yang sangat lelah dan ngantuk. Tapi ternyata di depan kamar Hana ada seorang yang sedang menunggunya, yaitu Dongmin.
"Ada apa?"
"Tidak, hanya lewat dan aku melihat pintumu terbuka jadi aku penasaran dan menunggumu keluar dari kamar."
"Alasan yang nggak masuk akal, aku dari kamar Baekhyeon hanya untuk melihat keadaannya. Dan sekarang aku sangat lelah, aku mau tidur dan kau kembalilah ke kamarmu."
"Kau memerintahku? Kalau begitu ikutlah denganku sebentar."
"Kemana?"
"Taman belakang, seperti biasa temani aku minum disana."
"Tapi aku sangat lelah, tidak bosakah kita lakukan besok?"
"Sekarang, ayo cepat!"
"Baiklah." Mereka berdua pergi ke taman belakang. Dongmin membawa beberapa kaleng soda.
"Tumben cuma soda. Nggak bawa soju?"
"Kau mau minum soju?"
"Tidak hanya bertanya saja."
"Apa hubungan noona dan Baekhyeon semakin memburuk?"
"Iya, seperti yang kau tau."
"Dari dulu pergi ke Paris memang mimpi noona, tapi sejak ada Baekhyeon dia mengubur mimpi itu."
"Benarkah? Apa mimpi itu lebih penting dari seorang anak?"
"Mungkin kau benar, memang noona sangat egois. Tapi kita tidak bisa melarang dia untuk mewujudkan mimpinya."
"Karena kita tidak mau dia terpuruk lagi."
"Apa tidak bisa kalau kalian juga memikirkan Baekhyeon? Dia lebih rapuh dari semua yang ada disini, seakan dia tidak punya siapa-siapa ridak punya tempat bergantung."
"Dulu saat noona dilarang kembali ke dunia model, dia sangat terpuruk. Itulah alasan kenapa dia berpisah dengan suaminya. Dunia model adalah impiannya sejak kecil, dia berhenti saat melahirkan Baekhyeon dan setelah satu tahun vakum dia mau kembali lagi tapi suaminya menolak mengizinkannya. Mereka berdua bertwngakar setiap hari sampai akhirnya suaminya meminta berpisah. Dan...Agassi kau tidur?" Dongmin menoleh kearah kanan, dan ternyata Hana sudah tertidur dipundak Dongmin."Dasar agassi, bisa-bisanya dia tidur saat aku bercerita. Tapi dia kelihatan sangat lelah, apa aku bangunkan saja ya. Ah, kalau dia tidak bisa tidur lagi bagaimana?"
Akhirnya Dongmin menggendong Hana kembali ke kamarnya.