Mr. Cha, wait me!

Mr. Cha, wait me!
nyawa pertama



Hari sudah berganti, dan Fisya harus bangun lebih pagi lagi agar bisa bersiap-siap untuk mencari pekerjaan lagi. Tapi sepertinya apa yang sudah direncanakan Fisya akan mengalami kegagalan. Karena saat membuka mata Fisya tidak tau dia sedang berada dimana, semuanya sangat asing baginya. Ingin sekali bertanya pada orang di sekitar tapi kebanyakan dari mereka malah menatap Fisya dengan tatapan aneh.


Saat itu Fisya terbangun di sebuah bangku taman. Dan masih memakai busananya yang semalam. Fisya tidak tau bagaimana dia bisa terbangun di bangku taman, padahal kalu diingat-ingat lagi dia sedang tidur di kasurnya sendiri yang empuk itu. Dan Fisya sangat kedinginan di bangku taman itu.


"Dingin banget, sebenarnya ini dimana sih? Orang-orang yang lalu lalang juga beda banget sama orang-orang yang pernah aku temui. Dan taman ini, dimana sih? Pasti aku mimpi deh, biar ku coba cubit pipi. Auw... sakit ini bukan mimpi..."


Fisya hanya bisa menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari sebuah petunjuk tentang keberadaanya saat ini. Dia mulai melangkah untuk mencari papan nama dari taman tersebut. Fisya sangat terkejut saat tahu kalau papan nama yang dia lihat itu ditulis dengan huruf Hangeul atau alfabet yang digunakan untuk menulis Bahasa Korea.


" Inikan tulisan Bahasa Korea. Kenapa ada taman di Indonesia yang bertuliskan huruf Hangeul. Atau jangan-jangan ini memang di Korea. Kok bisa? Perasaan semalam aku tidur di rumah, tapi paginya terbangun di taman ini. Mending tanya orang dulu, tapi gimana aku kan gak bisa Bahasa Korea?" Fisya sedikit khawatir dengan kemampuannya.


Fisya mulai kebingungan, mau tanya tapi dia tidak tau bahasanya. Kalau tidak tanya malah akan semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Fisya memutuskan untuk keluar dari taman tersebut dan bertanya kepada seseorang.


" Annyeong haseyo.." Fisya belum meneruskan perkataanya tapi dia sudah terdiam. Karena dia merasa ada hal yang aneh lagi. Ternyata Fisya bisa Bahasa Korea, tapi sejak kapan ya? Keanehan yang begitu bertubi-tubi bener-bener buat Fisya semakin pusing dan khawatir. Dan saat dia sadar dari kebingungannya dia mulai bertanya lagi kepada seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


" Permisi nyonya. Ini namanya kota apa ya?"


" Siapa kamu? Apakah kamu gembel atau orang gila? Kenapa memakai pakaian seperti itu saat berada di luar?"


Fisya hanya bisa melongo mendengar orang itu berbicara tanpa tau titik dan koma. Bukan hanya itu saja, dia pergi gitu aja meninggalkan Fisya tanpa menjawab pertanyaan Fisya. (Anggap aja mereka bicara pakai Bahasa Korea ya, guys😆)


" Orang itu kenapa lagi? Cuma tanya doang." Fisya mencoba meraba saku piamanya, barang kali ada petunjuk. Saat dia mencoba meraba saku sebelah kanan dia menemukan sesuatu." Apa ini?" Fisya mencoba mengingat-ingat tentang mimpinya semalam." Ini kan surat dalam mimpiku semalam. Tapi belum ada petunjuk apapun buat nemuin anak kecil itu. Atau aku tanya aja dimana taman bermain anak siapa tau dia sekarang lagi main disana."


Fisya melanjutkan perjalanannya, saat dia bertemu dengan seorang kakek-kakek dia berhenti dan bertanya.


" Hei, anak muda. Mau apa kamu mencari taman bermain anak? Apa kamu mau menculik mereka?"


" Tidak, tuan. Saya mau mencari adik saya."


" Bagaimana kamu bisa tidak tau dimana taman bermain di daerah ini? Apa kamu hanya pura-pura sedang mencari adikmu?"


" Sebenarnya saya baru di daerah ini, dan saya takut kalau adik saya tidak bisa pulang nanti."


" Oh, begitu. Baiklah akan aku beri tau. Kamu lurus saja ke depan kemudian belok kiri jalan terus disana ada taman bermain anak."


" Terima kasih, Tuan."


" Jaga adikmu baik-baik! Dan jangan lupa pakai pakaian yang tebal, atau kamu nanti akan sakit."


" Terima kasih, Tuan. Saya akan ingat itu."


Setelah si Tuan itu pergi Fisya juga buru-buru pergi ke tempat yang dia tuju. Tapi dalam perjalanan dia ingat kalau dia belum makan dan minum apapun. Tapi sepertinya itu bukan halangan untuk memenuhi tujuannya.


Saat Fisya akan belok ke kiri, tepat dibelahnya adalah tempat penyebrangan. Fisya melihat disana ada seorang nenek-nenek yang mau menyebrang tapi saat dia berada di tengah jalan raya lampu akan berganti ke warna hijau. Fisya masih berhenti dan memperhatikan nenek itu, tapi Fisya tersadar bahwa ada mobil yang berjalan dengan kencang ke arah nenek itu. Tidak banyak pikir Fisya langsung berlari untuk menolong nenek itu, Fisya menarik nenek itu ke arahnya tanpa disadari ternyata ada tiang disitu dan BRUUKKKKHHH. Tubuh Fisya menghantam tiang itu dan juga ditindih oleh nenek yang dia tolong. Banyak darah yang keluar dari kepala belakang Fisya. Mereka berdua pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.