LUCEM

LUCEM
Chapter XCIII



"Kita telah dikepung, tapi kita aman untuk saat ini, di sini. Mars, aku akan memeriksa Magenta," ucap Moonflower.


"Kau juga?" tanyaku pada Jiso yang telah berada dalam genggaman tangan Moonflower.


"Ya, akan lebih mudah menemukan pasukan kita di sana dengan adanya saya, kau pasti mengerti maksudku," balas Jiso.


"Tetapi-"


“Hei,” kata Moonflower, suaranya tiba-tiba tertutup. “Aku punya firasat, empat bulan lagi aku akan jatuh cinta padamu, jadi tolong jangan bunuh diri dan mati di sini, oke?”


Aku akan merespon kata-katanya ketika aku merasakan hembusan udara yang tiba-tiba. Aku mendengarnya meluncur, ke langit, dan meskipun aku tahu aku tidak akan melihatnya, aku menjulurkan leherku seolah ingin melihatnya pergi.


Dan begitu saja—


Dia pergi.


Jantungku berdegup kencang di dadaku, darah mengalir deras ke kepalaku. Aku merasa bingung, ketakutan, bersemangat, berharap, ngeri. Semua hal terbaik dan terburuk sepertinya selalu terjadi padaku pada waktu yang bersamaan.


Tidak adil.


"Sialan," kataku keras-keras.


"Ayo," kataku pada pasukan tikus. "Ayo pindah."


Kami bergerak melewati Marbella yang terdiam mengawasi sisi luar pelindung. Lusinan pasukan bersenjata berbaris menghadang kami dari segala sisi tanpa dapat menyentuh kami.


Saat Marbella memintaku untuk memainkan seruling lamaku, situasi perlahan memanas. Gelombang tikus masuk dari arah yang tidak bisa aku jelaskan ke dalam barisan pasukan penjaga, itu ratusan.. tidak, itu mungkin ribuan.


Aku menatap tak percaya pada pemandangan di luar. Bagaimana mungkin aku dapat memanggil ribuan tikus di tempat asing ini?


Marbella segera menyela keherananku, ketika tiulan serulingku terhenti, dia dengan tegas memintaku untuk terus mengalunkan irama, "jangan berhenti, Mars," katanya.


Aku mengerti. Seruling kembali mengalirkan nada-nada yang terdengar lembut di tekingaku. Setiap tiupan seruling seolah membangkitnya ribuan tikus dari dalam tanah. Pasukan bersenjata diserang kepanikan luar biasa. Ketidak teraturan telah membuka celah pertahanan mereka dan Marbella menyaksikan itu.


"King Grimo."


Mata Marbella berkilat tajam. Aku mengikuti pandangannya. Dan apa yang aku temukan adalah sosok yang mengerikan diantara kericuhan berdarah di luar sana. Seekor tikus besar dengan jubah putih dan topi tinggi di kepalanya, menatap nyalang pada kakakku.


Aku yakin, nyanyianku tidak memanggil tikus jenis itu, atau ada sesuatu yang telah berubah tanpa sepengetahuanku? Seluringku kembali terhenti.


Gelombang besar serangan tikus berhenti.


Dengungan berhenti.


Pasukan bersenjata kembali dengan sigap membentuk formasi dibawah teriakan komando dari seorang pria setelah mendapatkan serangan tikus yang memporak porandakan barisan pasukan yang mungkin telah berlatih untuk itu selama berhari-hari atau mungkin bulan, atau juga tahun tanpa memperkirakan bahwa kami memiliki bantuan besar jenis itu.


Marbella diam mematung. Wajahnya tegang, bukankah seharusnya ia merasa senang untuk hasilnya?


Dari kejauhan aku masih dapat menyaksikan genangan darah yang perlahan meresap di sela-sela rerumputan. Tubuh-tubuh tanpa bagian yang lengkap tergeletak di sembarang tempat. Tubuh-tubuh penuh luka menggeliat di tanah.


Tidak yakin, aku tidak yakin itu nyata.


Serangan singkat kurang dari lima menit telah membuat banyak tubuh mengeluarkan darah. Serangan yang nyaris tanpa perlawanan berarti. Kejutan.


Inikah perang itu? Aku bergidik.


"Marbi."


"Kenapa kau berhenti?"


"Ada seekor tikus yang terlalu besar, tapi aku tidak yakin."


Aku kembali melihat ke tempat yang aku yakin tikus besar itu berada, tapi... tidak ada.


"Aku yakin dia tadi ada di sana," tunjukku.


Hembusan angin, kencang datang dari atas. Magenta, Moonflower dan Jiso kembali. Tanpa pasukan tikus yang kami cari.


Aku bertanya segera. Dan Jiso menggelengkan kepalanya. "Mereka di tahan di tempat yang tidak dapat kami tembus begitu saja, mereka benar-benar telah memperkirakan kehadiran kita. Tapi Magenta telah menemukan petunjuknya, kita akan mendapatkan mereka kembali."


Aku mengangguk untuk menguatkan pernyataan Jiso. Kami pasti dapat keluar dari sini secara bersama-sama, dan kembali ke rumah.


"Marbi, apakah itu sebabnya aku tidak dapat merasakan keberadaan mereka?"


Marbella mengangguk. "Setidaknya, kita sudah berada di sini."


Moonflower tiba-tiba memekik, tajam dan menyakitkan. Tapi, itu bukan suara miliknya yang biasa. Gadis itu telah berubah ke dalam sosok setengah burung.


Seperti sebuah perintah—


Ribuan tikus di luar kembali bangkit, bergerak, seperti gelombang air di lautan, menerjang barisan bersenjata dengan mudah. Seperti tidak nyata.


Lalu, pekikan lain terdengar dari luar sana. Dan gelombang hitam menggulung gelombang besar tikus-tikus kami. Percikan darah di udara dan jeritan kesakitan. Isi perutku mendesak naik. Manusia dan tikus terlempar di udara dan berdebam keras menyentuh tanah. Patah, berdarah... aku yakin terpisah. Tubuh mereka, jiwa mereka. Aku terhuyung.


Marbella menarikku untuk berbalik. "Ini aku," katanya. "Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk melihat yang kau tak ingin."


"Ya... Ya... Ya...," Jawabku. Napasku pendek-pendek.


"Aku menemukan dia, dan kau akan segera terbebaskan," ucap Marbella. Tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku.


Aku mencerna ucapan Marbella. Lambat.


Ini semua untukku? Semua kekacauan ini untukku? Untuk apa? Apa? Semua pertanyaan itu muncul memenuhi kepalaku, lalu disusul pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan memuakkan dengan jawaban-jawaban yang juga memuakkan milikku sendiri.


Gerakan-gerakan lambat kembali datang memenuhi pandanganku. Suara-suara tidak lebih dari dengungan berirama. Ruang pelindung begetar. Aku menyaksikan gambar yang berbeda dari seharusnya.


"Jangan biarkan dia kehilangan kesadaran!" suara Magenta merambat ke dalam telingaku.


Wajah panik Marbella, kakakku berkata sesuatu. Dia berteriak, keras. Tapi aku tidak dapat mendengar suaranya.


Sebuah pukulan di wajahku. Sakit, itu sakit. Aku ingin mengeluh tapi bibirku tidak dapat digerakkan.


Mengapa Marbella memukulku begitu keras. Gerakan tangannya lambat, tapi mengapa hasil pukulannya begitu sakit, pipiku terasa panas sekarang dan sudut bibirku mengeluarkan darah. Dan sekarang dia memelukku. Eh, kenapa kakakku menangis?


Aku merasakan tubuhku terangkat. Aku mencoba untuk membuka mata. Berhasil, sedikit. Aku mengintip dari balik bulu mataku yang basah, terasa berat untuk disingkirkan. mataku terasa perih sehingga membuatku kembali memejamkan mataku.


Kini suara Marbella perlahan terdengar lagi, lebih cepat dari sebelumnya. Keramaian kembali masuk memenuhi pendengaranku. Teriakan, pekikan, orang-orang bersahutan dalam percakapan riuh yang sulit dimengerti.


Suara Moonflower.


Jiso.... Jiso!?


"Akh... pufft, ummmm.. apa yang kau lakukan di sana. Mengapa kau menduduki hidungku, tikus?" aku melompat bangun.


Tanganku mengusap kasar wajah dan mulutku. Jiso terkekeh.


"Berhasil," katanya.


Aku melotot.


Aku kembali melotot lebih lebar saat mataku menangkap pemandangan di luar pelindung dan menyadari keberadaan kami. Perang benar-benar telah terjadi. Moonflower di garis terdepan dengan sayap hitam lebar yang mengepak keras menyapu udara.