LUCEM

LUCEM
Chapter XXXIV



Saat kau fokus mengerjakan sesuatu waktu akan terasa seperti meloncat selincah kelinci yang sehat.


Hampir dua bulan aku, Marbella dan Maria berada di hutan pohon besar, terbiasa dengan alam dan mulai tidak merindukan keramaian dunia manusia. Itu yang aku rasakan.


Tapi berbeda dengan Maria, dia terlihat bersemangat hingga bersenandung ria saat mengemasi barang-barang, terlihat sangat antusias untuk kembali pada peradaban.


"Dimana.. dimana... dimanaaa...," Maria melantunkan sepenggal lagu yang memilki irama meliuk-liuk.


Latihan kami berakhir dengan baik, pengendalian ku meningkat pesat. Maria tidak perlu merasakan sakit dan penderitaan yang tidak seharusnya lagi. Dan Marbella, aku bahkan sulit memperkirakan apa yang telah menjalar masuk ke dalam dirinya setelah hampir dua bulan berkutat dengan sihir dan mantera.


Butuh berjalan cukup jauh untuk menemukan kendaraan pertama kami. Untunglah Marbella sudah meringkas barang yang harus kami bawa. Itu mempermudah perjalanan yang lumayan berat ini. Yang berbeda adalah Maria yang tidak lagi mengeluarkan keluhan terkait jalanan yang licin atau berlubang, alam guru terbaik.


Perjalanan panjang menuju kediaman Moonflower kembali ditempuh dengan kereta kuda. Menurut Marbella, kami tidak perlu berkontribusi menyumbangkan karbondioksida ke udara dan membayar untuk itu. Tapi kereta kuda membutuhkan lebih banyak sickel dari kendaran bermotor dan menyita waktu. Aku meluncurkan argumentasi ringan.


"Uang adalah alat perubahan yang penuh daya, Dik. Itu bukan tentang seberapa banyak yang kau miliki tapi tentang bagaimana cara kau menghabiskannya," Marbella membalas.


Tidak setuju sepenuhnya, tapi jawaban Marbella juga tidak salah. Aku menganggukan kepala.


"Aku telah menghabiskan banyak uang untuk produk-produk kecantikan dan kesehatan," ujar Maria.


"Kau berhasil terlihat cantik, Maria. Jadi, uang telah bekerja dengan baik pada kecantikanmu aku rasa, dan aku masih berpikir bahwa kau memang terlahir dengan kualitas tampilan yang sudah baik sebelumnya dan meningkat berkat uang." Sulit mengatakan kalimat Marbella ini adalah sebuah sanjungan atau sindiran.


"Apa yang kau lakukan dengan uang tentang kesehatanmu? Wanita muda seharusnya tidak mengidap penyakit terlalu dini kan?" Aku melemparkan rasa penasaranku.


"Temanku sangat mandiri," gumamku, saat teman yang terlintas di benakku adalah sepasukan tikus.


Marbella menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya hingga wajahnya memerah. Aku melirik kesal dan melemparkan sekeping keripik singkong rasa barbeque padanya.


"Eh, kau membuang-buang uang kita, Mars," Marbella mengambil keripik singkong yang jatuh di atas gaunnya dan memakannya.


Aku tersenyum mengejek. Menyodorkan sebungkus besar keripik singkong yang terbuka pada keduanya.


"Terima kasih, Mars," Maria tersenyum girang mengambil bungkusan keripik dari tanganku.


Kedua gadis itu mengunyah perlahan keripik singkong itu, menyadari kehadiran pengendara kereta diantara kami ternyata mampu menahan sisi liar mereka ketika berhadapan dengan keripik singkong. Aku memutar tubuh menikmati pemandangan di luar kereta. Angin bertiup semilir menyapu wajahku.


Aku membuka tutup botol air minum dan menenggaknya hingga setengah. Rooough... ough..ough... Aku kembali mengunyah perlahan keripik singkong balado. Pedasss. Tanganku kembali meraih botol air minum tapi... "Eh, tidak ada?" Aku menoleh ke belakang.


Marbella dan Maria menatap aku dan keripik singkong balado ku dengan tajam. Aku tersenyum manis dan menyerahkan keripik singkong balado ke tangan mereka dan menukarnya dengan air minum.


"Terima kasih," ucapku sopan.


ROOUGH...!! Maria dan Marbella membuat kunyahan besar. Pengendara kuda terperanjat.