LUCEM

LUCEM
Chapter LXXXVIII



"Ngomong-ngomong, aku ingin mendengar kisah yang ringan dari kalian," ucap Venus setelah diam beberapa waktu.


"Ringan yang seperti apa?" balasku.


"Kau tidak mengerti," kata Jiso pelan. Dia masih terus menatap lurus ke depan. Menatap bagian belakang kursi di depannya seolah itu akan hilang jika ia berkedip.


"Kau tidak akan pernah tahu itu sebelum mencobanya," kataku berargumen.


"Hah, kau bisa mencobanya," sinis Jiso.


Aku beralih pada Venus, dan pria itu menatap menungguku.


"Um.. baiklah, aku tahu sesuatu yang ringan seperti perjalanan kami menuju kota Ahem pertama kali, aku rasa kau tidak akan menduga petualangan apa yang telah kami lalui," aku memulai.


"Oh, hentikan itu, Mars... Itu membebaniku, cerita tanpa bobot," potong Jiso kemudian.


"Eh, bukankah kita tadi mengatakan tentang cerita ringan?" Aku melongo.


"Cerita yang tidak membosankan dan baru," ucap Venus.


"Ooooo.... apa aku punya itu?" Aku beralih pada Jiso.


Tikus agak besar itu hanya tertawa sinis menatap kursi.


Untuk beberapa saat kami semua kembali terdiam. Aku tidak memiliki cerita ringan seperti yang kami butuhkan dan aku tidak berharap jika itu Jiso yang kemudian mengambil alih untuk bercerita. Tikus komandan itu tidak terlihat memiliki sesuatu yang bisa dikatakan ringan, aku pikir.


Setelah kesunyian danb berpikir sejenak, aku kembali bertanya.


"Bagaimana jika kau bercerita tentang hubungan kasihmu dengan wanita cantik itu," aku menunjuk Magenta dengan daguku.


"Oh, itu tidak benar-benar ringan, tapi menarik," sambar Jiso.


Aku melihat sorot antusias di matanya sekilas. Dan tertawa dalam hati, 'tikus penggosip'.


Venus tampak sedikit terkejut tapi kemudian dia mulai bercerita.


"Baiklah, sesuatu yang baru untuk kalian ketahui. Magenta dan Lusio pernah bertunangan," kata Venus pelan, tangannya gelisah di atas kain celananya yang kusut karena telah ia pelintir berulang kali.


"Apa?" Jiso dan aku terdiam setelahnya. Menatap Jiso yang matanya terbelalak. Sangat lebar. Lebih lebar dari pesawat. Matanya melebar begitu lebar sehingga pada dasarnya memenuhi langit.


"Kapan? Bagaimana? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” Jiso melemparkan rentetan pertanyaan.


"Venus sudah memberitahumu baru saja dengan percaya diri," kataku tajam, Jiso dan Venus serempak balas menatapku tajam.


"Aku tahu." Aku mengangkat bahu. “Tapi Venus benar. Kita adalah tim sekarang, suka atau tidak suka, dan kita harus mengungkapkan semua ini secara terbuka. Keluarkan rahasia-rahasia kecilmu.” ucapku sembarangan.


"Cih," Venus dan Jiso kompak membuang muka.


“Terbuka di tempat terbuka? Bagaimana dengan fakta bahwa kau dan Moonflower atau kau dan Maria berada dalam hubungan yang tidak pernah kau sebutkan bentuknya?” ejek Jiso kemudian.


“Hei,” kataku, “aku akan—”


"Tunggu. Tunggu." Jiso memotong pembicaraanku. Dia mengangkat tangannya. “Mengapa kita mengubah topik pembicaraan? Magenta, bertunangan! Oh, astaga, ini— Ini sangat bagus. Ini masalah besar, apakah ini bisa memberi kita keuntungan sep—”


"Itu bukan hal besar." Aku berbalik, mengerutkan kening padanya. “Kita semua tahu hal semacam itu bisa saja atau atau akan datang. Keduanya pada dasarnya ditakdirkan untuk bersama, Magenta dan pria Lusio itu. Maksudku itu mungkin saja, bahkan aku bisa mengakuinya.” Aku memiringkan kepalaku, mempertimbangkan. “Maksudku, benar, kupikir mereka masih terlihat muda, tapi—” sekarang aku jadi bingung sendiri.


Jiso menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak. Bukan itu yang saya bicarakan. Saya tidak peduli dengan pertunangan yang sebenarnya. Dia berhenti, menatap ke arah Venus. “Maksudku—um, selamat dan segalanya, apakah kita oerlu mengucapkan itu dan menagih sebuah pesta, kecil saja mungkin.”


Venus terlihat sangat kesal.


“Maksudku, ini mengingatkanku pada sesuatu. Sesuatu yang sangat bagus. Saya tidak tahu mengapa saya tidak memikirkan ini lebih awal. Astaga, itu akan memberi kita keunggulan yang sempurna. Pria jenius dan penyihir.


Tapi Jiso bangkit dari kursinya, berjalan ke arah Venus dan, dengan hati-hati, aku mengikuti. "Apakah kamu ingat," kata Jiso kepadanya, "ketika kamu dan Magenta bersama?"


Jiso menembak Venus dengan pandangan berbisa dan berkata, dengan nada dingin yang dramatis, "Saya lebih suka tidak melakukannya."


Venus mengabaikan pernyataan Jiso dengan tangannya. “Yah, aku ingat. Aku mengingat lebih banyak dari yang seharusnya, mungkin, karena Magenta selalu mengeluh kepadaku tentang hubungannya dengan pria itu. Dan aku ingat, secara khusus, betapa pria itu berharap untuk dapat hidup bersamanya di masa depan, mereka pernah saling berjanji untuk itu."


"Janji diri mereka sendiri?" Aku mengerutkan kening.


"Ya, seperti—" Dia ragu-ragu, lengannya berputar-putar saat dia mengumpulkan pikirannya, tetapi Venus tiba-tiba duduk lebih tegak di kursinya, sepertinya mengerti.


"Aku tidak benar-benar mengenal Lusio, tapi aku mengenal Magenta. Dia wanita yang serius walau memiliki sisi humor yang baik," Venus menerawang.


"Ah, kisahmu rumit, kawan," aku menepuk paha Venus. "Terus terang saja aku tidak memahami bagian manapun selain fakta bahwa Magenta pernah bertunangan dengan seseorang dan itu bukan kau," aku mengangguk-angguk prihatin.


"Brengsek kau," Venus mendorongku menjauh dan kembali menuju ruang kendali.


"Selamat, kau telah membuat percakapan ringan menjadi kehilangan citra renyah dan meriahnya," tunjukku pada Jiso dengan wajah yang dibuat setengah serius.


"Heh."


"Venus!" Jiso tiba-tiba berseru.


"Pelan-pelan saat mendarat, tolong," pinta Jiso dengan suara di tahan.


Venus mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat bahwa ia telah mendengar permintaan tikus itu.


"Menurutmu pesawat ini bisa turun dengan lembut?" Tanyaku.


"Jangan tanya aku, kau yang sudah merasakan penerbangan pribadimu," dengus Jiso.


"Oh, itu apa termasuk penerbangan?" tanyaku mengulum senyum.


Jiso tidak meresponku. Dadanya membusung, tampak ia sedang berkonsentrasi penuh saat pesawat perlahan merendah.


Beberapa tikus terbangun dan terlihat linglung. Sebagian dari mereka mulai duduk dengan tegak seperti yang Jiso lakukan.


Dan aku secara perlahan dan hati-hati berjalan menuju kursi di sisi Marbella. Dia masih memejamkan matanya sama seperti sebelumnya.


Aku dengan sengaja menyentuh sedikit jari-jarinya, dan seperti yang aku harapkan, dia membuka matanya.


"Kau takut?" tanyanya.


"Takut? Tentu saja tidak, aku sangat terbiasa setelah tujuh jam di udara," kataku berlebihan.


Seperti sebuah kutukan dari kebohongan yang tidak direstui alam, pesawat tiba-tiba kembali berguncang. Dan aku dengan sigap menangkap tangan Marbella, cepat. Marbella terlihat menahan napas dan menegakkan lehernya ke kursi.


Begitu guncangan mereda aku menarik benar-benar menghembuskan napas dengan lega, melirik Marbella lalu tertawa pelan. "Hei, Marbi.. apa kau memucat?" Tanyaku.


"Mars...."


"Ya, Marbi?"


"Kau hampir meremukkan tanganku, Dik," katanya sambil menatap tanganku.


"Oooh... Hehehe,. maaf," aku tertawa canggung dan mengangkat kedua tanganku ke udara, lalu bersiul menatap jendela. Dan pesawat kembali berguncang.


ASTAGA! Apa aku benar-benar tidak boleh berbohong?