LUCEM

LUCEM
Chapter XXII



Suara ketukan pintu berulang memaksa mataku terbuka. Terdengar suara Moonflower memanggil dari balik pintu.


“Mars, bangun dan bersiaplah untuk makan malam,” pintanya.


Aku mengiyakan dari kamar.


Suara langkah Moonflower terdengar menjauh, aku bangkit untuk membersihkan diri sebelum kemudian bergabung di meja makan.


Terlihat Marbella telah duduk bersama kumpulan memenuhi sisi meja makan seperti sebuah keluarga yang terlalu besar dan tidak terencana. Sedikit sulit untuk digambarkan bagaimana itu seharusnya terlihat.


Aku menarik kursi yang tersisa di sisi Marbella, seketika suasana mendadak riuh dengan decitan dan kecapan. Tampaknya aku telah membuat acara makan malam ini sedikit tertunda, sehingga beberapa perut menjadi tidak sabar lagi untuk diisi. Marbella dan Moonflower terlihat tidak terusik sama sekali.


Piringku telah terisi, aku dan Marbella mulai terlibat dalam percakapan meja makan. Tapi rasanya sedikit sulit untuk mengarahkan Marbella pada topik yang aku inginkan, ia lebih tertarik untuk memberiku saran-saran seperti, makan lebih banyak atau tentang hal-hal remeh lainnya.


_________________


Malam hari, James, Jiso dan pasukan telah kembali ke ruangan yang paling dekat dengan tanah di rumah ini, beristirahat setelah melakukan beberapa kegiatan fisik. Sedangkan aku sendiri telah beristirahat dengan cukup untuk hari ini. Marbella tidak menampakan diri lagi, kembali ke kamarnya beberapa saat setelah makan malam usai.


Aku berjalan menghampiri Moonflower yang duduk di tangga teras, tangannya memegang secangkir coklat hangat yang ia seruput perlahan-lahan. Ia menoleh sejenak dan tersenyum melihat kedatanganku dan kembali menatapi halaman. Aku duduk pada tangga teratas sejarak dari tempat Moonflower berada. Angin bertiup perlahan ke arah kami, dan aku menyadari wanita ini memiliki aroma vanilla lembut yang selalu melekat padanya.


Tidak ada hal lain yang harus dilakukan, aku berinisiatif mendatanginya untuk mengurangi beban penasaran yang memenuhi kepalaku seharian ini.


“Bagaiama kalau ceritakan rahasiamu padaku?”


Moonflower terkekeh. “inikah bagian dari seribu pertanyaanmu?”


“Kau bisa menganggapnya begitu,” balasku.


“Berbagi rahasia pada pria yang baru dua kali aku lihat?” ia melirikku dan menyunggingkan senyuman.


“Tapi kau terlihat sangat akrab dengan kakakku,” aku terus memancingnya.


“Kami menjadi akrab setelah aku menyelamatkannya beberapa kali dari kurungan, aku menyukai kucing dan kucing menyukaiku, juga sebagai manusia kami adalah dua orang wanita muda, begitulah...” Moonflower mengatakannya tanpa melihatku.


“Kau ini apa?” tanyaku tanpa menutupi rasa penasaranku yang bertambah.


Memutar tubuhnya dan menatapku lekat. “Memangnya aku terlihat seperti apa?” balasnya bertanya.


Aku tidak memberinya jawaban, untuk beberapa saat kami terdiam. Moonflower bangkit dari duduknya, lalu berpamitan untuk beristirahat.


Kini hanya aku, memandangi langit malam, cuacanya cukup baik dan angin bertiup semilir. Suasana menjadi sangat tenang dan aku terpikir, mungkin aku harus kembali belajar cara berkomunikasi dengan manusia setelah sekian lama.


Hal-hal sederhana yang kadang terasa sulit untuk diwujudkan ketika kepala bertemu kepala.


Aku menghela napas untuk mengurangi tekanan ketidak tahuan ini.


Perlahan mataku menutup lalu terbuka lagi dengan sedikit terkejut karena serangan kantuk tiba-tiba. Terjadi berulang kali, tapi aku enggan beranjak.


Seorang wanita bergaun putih kusam dengan tangan terikat digiring menuju ke tanah lapang. Di susul dengan sosok pria yang tangannya terikat kebelakang dan kepalanya ditutupi kain hitam, kedua lengannya digenggam erat oleh dua orang pria yang memakai seragam bewarna menyerupai lumut.


Orang-orang yang menjadi penonton berseru dalam kata-kata kotor dan sumpah serapah dari pembatas. Tomat busuk dan telur dilontarkan walau jauh dari sasaran. Tubuh wanita itu ditarik kasar, berdiri beberapa meter di hadapan pria dengan kepala tertutup. Wanita itu terlihat meronta dan memohon, wajahnya yang berdebu bersimbah air mata dan darah tak dapat dikenali, sedangkan tubuh si pria terlihat lemah tanpa suara.


Pria dengan kepala tertutup itu diseret kebelakang dan tubuhnya dirobohkan pada balok kayu yang membentuk palang, tangan dan kakinya diikat dengan erat pada kayu tersebut. Beberapa pria maju untuk mengangkat palang kayu dan menegakkannya dalam sebuah lubang yang telah disediakan. Mereka bergerak cepat menyalakan api membakar tumbukan jerami dan ranting kering yang ditimbun mengelilingi balok kayu tempat pria dengan kepala tertutup berada. Api membesar dengan segera.


Seorang pria paruh baya berjubah putih, memegang sebuah kantung di tangan kirinya. Ia berjalan mengitari api dengan langkah berirama. Tangan kanannya berulang kali merogoh isi kantung untuk kemudian dilemparkannya ke dalam api yang berkobar sembari mengeluarkan teriak-teriakan lantang, cacian dan makian atas kejahatan yang dituduhkan pada pria yang tengah meregang nyawa dalam api yang membara.


Suara gemeretak dari kayu dan tubuh yang terbakar. Api terus menjilati setiap inci tubuh pria itu, rasa panas yang menembus seluruh lapisan kulitnya merambat hingga ke setiap syaraf dan mematikannya, seluruh jaringan ototnya mengkerut, menyusut karena suhu tinggi dan perlahan-lahan menjadikannya arang menuju abu.


AAAARRRRRGGGGGHHHHH...AAAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHHH....” jerit kesakitan terdengar dari mulut si pria itu lalu perlahan-lahan mereda, menghilang dalam kobaran api yang menyala-nyala. Jasad hitam itu terlihat membeku dalam tarian lidah api.


Sementara, dua orang pria di sisi wanita bergaun putih kusam, mencengkram kasar rambut si wanita kebelakang, mendongakkan paksa wajahnya untuk terus menatap pada kobaran api yang melahap sosok laki-laki dihadapannya, kilatan api membayang di wajahnya yang basah air mata dan darah. Ia memohon, meronta dan menjerit dalam kepiluan menyaksikan kengerian yang teramat sangat, hingga akhirnya terkulai tak berdaya lalu dijatuhkan ke tanah begitu saja.


Pria berjubah putih berseru. “Pendosa telah binasa... pendosa telah binasa....!!”


Orang-orang ramai bertepuk tangan dan bersorak sorai mengacung-acungkan tangan mereka ke udara dengan wajah-wajah puas. Pemandangan yang sangat memuakkan, menjijikkan dan tidak bernalar. Kepalaku terasa berputar.


“Akh, astaga...!!” Aku tersentak, terengah-engah dengan tubuh basah keringat. Aku memegangi dadaku yang sesak dan perutku bergejolak mual yang menjejal hingga ke tenggorokan, memaksaku memuntahkan isi perutku seketika membuat tenggorokanku terasa pahit dan memanas. Aku berusaha berdiri dengan kaki yang goyah, cairan pekat kembali keluar dari mulut dan hidungku membasahi baju yang kupakai.


Marbella berlari keluar menghampiriku, tidak memperdulikan cairan dari perutku yang belum mereda, ia memelukku erat.


Tubuhku terus gemetar tak dapat dihentikan, Marbella memelukku. “Aku di sini, tidak apa-apa, Mars, aku di sini.”


Ia terus mengusap punggung dan kepalaku dalam pelukannya, hingga rasa tenang perlahan aku dapatkan kembali, tapi tenagaku lenyap tak bersisa. Aku menarik Marbella jatuh. Marbella sekuat tenaga menahan tubuhku, aku dapat merasakan kakinya yang bergetar menahan beban. Saat aku berusaha mengeluarkan suara, aku kembali tergugu dalam tangis yang tak tertahankan. Ada rasa sakit yang tidak dapat aku artikan.


Tubuhku terasa beku tak berdaya dan kulitku terasa dingin. Moonflower membantu Marbella memapahku memasuki rumah dan membersihkan diri. Marbella melakukan semuanya untukku, tanpa bertanya dan mencari tahu apapun dariku.


Setelahnya, Marbella membantuku bersandar dan memijat pelan jari-jariku sembari duduk. Diamnya Marbella membuatku tidak lagi berani berpikir, setidaknya untuk malam ini. Marbella tidak meninggalkanku sedikitpun dan pasukan yang terus mengawasi kami bubar setelah diminta. Malam berjalan lambat-lambat menuju pagi, terasa jauh lebih panjang dari malam-malam lainnya.


Beberapa kali Marbella mencoba membuat lelucon kecil untuk memaksaku tertawa, dan sekuat aku memaksa diri untuk lupa, aku semakin mengingatnya. Otakku tidak memahami kerjasama kali ini. Rekaman itu diputar berulang kali, lagi dan lagi. Berkelebat singkat bertarung dengan upayaku menenangkan diri. Aku kalah berkali-kali dan menang sesekali ketika menatap wajah lelah Marbella yang menjagaku.


“Marbi, siapakah mereka?”


Aku memandangi wajah lelah Marbella yang terkulai pulas di bahuku.


Ah, sudahlah... sekarang aku hanya sangat merindukan pagi dan matahari. Cepatlah datang.


*****