LUCEM

LUCEM
Chapter LXVII



"Tunjukkan pada kami dimana batu itu kau sembunyikan!" Magenta membentak, dan menyeret pria berambut coklat menaiki tangga untuk keluar dari ruang bawah tanah.


"Itu tidak ada padaku lagi," ucap pria itu, wajahnya berantakan, basah dan berdebu.


Magenta berhenti. Ia menatap pria itu dengan tatapan dingin. Sebuah belati cahaya di tangannya.


"Baik... baik, aku katakan—ucap pria itu tergesa-gesa begitu melihat belati di tangan Magenta. Batu biru itu telah aku serahkan pada pemimpin kelompok tikus besar, dia membayarku banyak untuk mendapatkan itu, kau...., kalian boleh mengambil semua uang-uang ini,—pria itu menguras isi jaketnya dan mengeluarkan semua uang dan benda berkilau yang ada di sana. Aku mohon lepaskan aku, aku tidak akan pernah muncul dihadapan kalian lagi, aku berjanji." Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar.


"Sampah," desis Magenta.


Pria itu kini terbaring di tanah dengan wajah terkejut, sebuah belati cahaya tertancap di antara kedua alisnya. Mati.


Aku menarik napas, berjalan mendekati tubuh kaku pria itu, memastikan aku tidak melewatkan apa pun sebelum kami pergi. Aku menarik sebuah rantai dengan liontin biru dari tangan pria itu.


"Bababawanna."


Magenta menoleh cepat ketika aku menyebutkan nama itu.


"Ayo," ajaknya.


Aku menyambar tubuh Magenta dan terbang melesat menuju lembah tikus.


Jejak darah di mana-mana saat kami mendarat di lembah. Tanah retak dan pohon-pohon tumbang.


"Kita tidak dapat mengatasi kerusakan ini dan akan terus terjadi tanpa benda itu," ucap Magenta.


"Pulang," gumamku.


Sayapku terbuka, tapi aku kembali menutupnya segera.


"Napas tikus, ada yang hidup." Aku bergerak ke salah satu sudut. Seekor tikus dengan luka menganga di wajahnya merintih. Aku mengulurkan tangan meraih tubuhnya. Tidak hanya wajah, seluruh tubuhnya penuh luka pertarungan.


"Kau yakin ingin membantunya?" Tanya Magenta.


"Bukan tikus biasa, aku berminat," jawabku.


Tikus ini akan menjelaskan bagian yang kami belum ketahui. Ditambah keterampilan bertarungnya, tikus ini spesial. Tapi aku ingat dengan semburan rasa takut, hal lain yang kami temukan bertahun-tahun yang lalu ketika kami memasuki lembah ini. Iblis lembah tikus.


Kepalaku terasa seperti berputar. Ketika Magenta membaca mantra tanpa henti mencari sesuatu yang sepertinya cukup sulit.


"Jadi beberapa iblis memutuskan untuk memasang tenda." Tawa tanpa kegembiraan keluar dari mulutku. "Itu yang akan kamu katakan?"


"Ya," kata jawab Magenta. " Tapi bukan beberapa, hanya satu."


"Satu?" Aku mengulangi dengan ketidakpercayaan yang sama seperti yang Magenta rasakan.


"Bagaimana?" tanyaku hampir mati rasa.


Magenta menggeleng.


"Ah, sudahlah. Bagaimanapun kita tidak datang sia-sia," aku menatap tikus sekarat di tanganku.


Membuka lebar kedua sayapku. "Kita pulang."


〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


...POV----------------MAYA...


Aku mengusap air mata yang lolos dari mataku. Menangis tidak akan ada gunanya, dan toh tidak ada waktu untuk itu.


"Tikam aku," aku menyelesaikan. "Jika kau tidak menerima cintaku, maka bunuh aku."


Ichan berjalan mendekat, mengusap lembut rambut dan bahuku.


"Tidak," ucapnya.


Aku menatapnya dengan pandangan tak berdaya.


"Aku memaafkanmu, aku tidak akan membunuh seseorang karena dia mencintaiku," Ichan tersenyum.


Aku menatap dadanya, bajunya, itu masih basah. Darah pekat yang belum mengering, jejak pisauku di sana, saat ia dengan tegas menolak untuk menerimaku dan mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada saudariku. Aku marah dan menikamnya tepat di sana, tepat saat aku akan memutar gagang belati di genggamanku mata kami bertemu, kemarahanku menguap begitu saja, aku menarik keluar belati perak dari dadanya. Dengan tangis, dengan penyesalan, dengan rasa sakit milikku.


"Ini lebih menyakitkan dari mati....," aku menahan dadaku yang sesak.


Aku memukul frustasi dadanya yang belum pulih, tetapi alih-alih menahan tanganku dari menyakitinya, dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkanku reda di sana.


Kesunyian sesaat, sampai kegilaan lain merasukiku. "Aku punya ide lain," gumamku tepat sebelum mulutku miring ke mulutnya.


Ichan sangat terkejut sehingga ia tidak bergerak selama beberapa detik. Itu cukup lama bagi Ichan menahan tertunduk karena tanganku yang melingkari tengkuknya. Mulutku terbuka, lidah mencari jalan masuk, tapi Ichan menarik kepalanya menjauh.


"Apakah kau kehilangan akal?" Ia berusaha melepas rangkulanku dengan paksa.


Aku menyeringai. "Mengingatkanku pada hari kita bertemu. Seperti yang kamu ingat, aku tidak keberatan kau menjadi kasar. Nyatanya, itu membuatku menginginkanmu."


Kemudian aku mencengkeram rambutnya cukup keras untuk menarik helaiannya. menggunakannya sebagai pengungkit untuk mengaitkan mulutku ke lehernya. Ichan mengepalkan tinjunya, keras, aku merasakan itu di sisi tubuhku. " Hentikan Maya, jika saudarimu ada di sini, ini akan membuatnya marah padamu dan padaku terutama," bisik Ichan di dekat telingaku.


Beberapa hal yang pria itu tidak mengerti, adalah fakta bahwa aku mencintainya, aku benar-benar menginginkannya. Karena ia telah memasukkan campuran cinta itu ke dalam hatiku.


Takdir yang bermain-main denganku, aku mungkin tidak beruntung dan hidup saat seseorang memasang lonceng cinta di kakinya lebih menarik perhatian pria ini dibanding aku yang memujanya siang dan malam. Beberapa kedutan yang salah, hati yang salah.


Aku tidak benar-benar membutuhkan hari lain lagi untuk mengetahui bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk dicintai. Jika bermesraan dengan Ichan memberiku kesempatan untuk menginjak wanita di dalam hatinya, maka aku akan melakukannya dengan penuh semangat.


Aku berjinjit mengejar dagu dan bibirnya.


"Oh, ya, rasanya enak sekali," keluhnya, saat aku menjilati lehernya. Dan kali ini Ichan tidak mendorongku, ia malah menariknya lebih dekat. Detak jantungnya berpacu.


Ichan menunduk di bahuku, terdiam, mengatur napasnya di sana. "Hentikan Maya, ini tidak akan berakhir baik."


"Aku tidak bisa, cintai aku sekali ini saja, tidak apa-apa hari ini saja... Aku putus asa, aku akan berhenti setelah semua ini," aku terisak, memohon dengan menahan kepalanya di pundakku.


Napasnya menggelitik leherku saat dia tertawa.


"Aku tahu. Aku benar-benar berbakat." Aku tertawa dan menahan tangisku kembali.


"Kau benar-benar narsistik," ucapnya.


Ichan mengangkat kepalanya, menatapku teduh.


"Aku yang bersalah, aku seharusnya tidak hadir diantara kalian," ucap Ichan. Ia menarik tubuhku kedalam pelukannya, mengacak-acak rambut hitamku dengan tangannya, aku melingkari pinggangnya erat memaksakan persetujuan.


"Apa pelukan ini cukup?" Tanyanya setelah beberapa waktu.


"Tidak!" Aku menjawabnya terkejut saat ia berusaha menjauhkan tubuhnya dariku.


Aku harus bermain umpan untuk mendapatkannya, aku harus. Aku tidak lagi memperdulikan jika Ichan merasa aneh melihatku menggigit dan menjilati kulitnya, sementara ia tanpa sadar mengerang dan meminta lebih.


Dan meskipun ia tidak pernah mengakuinya, aku telah memanfaatkan kelonggarannya dengan efektif karena aku pandai dalam apa yang aku lakukan.


Aku kembali menarik kepala Ichan, memberinya jalan untuk mengakses leherku. Aku dapat mendengar napasnya yang berderu. Aku merasakan tangannya bergerak


menarik kerahku dari bahuku, melepaskan beberapa kancing dalam prosesnya. Tidak membiarkannya reda, aku menarik bajunya hingga terbuka, mengecup pelan sebagian kulitnya yang terlihat sebelum kembali meraih wajahnya.


Ichan memalingkan wajahnya dariku, tapi aku menangkap bibirnya berkedut. Matanya memancarkan kilauan yang pasti saat aku menarik sisa-sisa kemeja dari tubuhku, meninggalkanku hanya dengan pelindung dada dan celana panjangku.


Aku menyentuh dada Ichan yang terbuka, noda darah kering di dekat bagian tengah dadanya adalah bukti sisa seberapa dekat ia dengan kematian. Aku menundukkan kepalaku di sana, menjilatnya.


Sebuah geraman rendah datang dari kiri kami. Aku tidak melihat ke arah itu, tetapi menekan kepala Ichan lebih dekat. Ichan mencoba menolak. Dan kami tahu siapa itu.


"Ooh, pertunjukan terbuka." Terdengar seperti Magenta menjatuhkan diri ke lantai agar lebih nyaman menonton.


"Bagus. Dan kupikir datang ke sini akan membosankan," sambungnya.


"Itu benar," kataku, suaraku rendah dan serak. "Sekarang aku akan mencicipi miliknya."


Kekuatan berderak di udara, tumbuh lebih kuat namun juga terasa compang-camping, seperti tepi pecahan kaca yang mencoba menyatukan kembali. Aku tidak menoleh ke arah Magenta, tetapi mengepal rambut Ichan dan menarik kepalanya ke samping, memperlihatkan lehernya yang pucat dan tegang.


Langkah lain di lantai, diikuti suara dari seorang pria yang akrab. Aku mengabaikannya juga. Lalu perlahan aku menundukkan kepalaku.


Raungan maskulin yang penuh di tenggorokan.


"Apa yang kalian lakukan!?" Geramnya.