LUCEM

LUCEM
Chapter L



Moonflower melangkah memasuki ruangan tempat Marbella berada. Menyapa James dengan anggukan saat ia melewatinya lalu berjalan ke sisi tempat tidur di mana Mars terbaring.


"Aku atau kau yang akan menyuapinya?" Tawar Moonflower.


" Um, apa itu? Marbella melihat ke dalam panci keramik dalam genggaman Moonflower. "Wah, kau membuat bagna cauda?"


(Bagna cauda di baca sebagai banya cowda, masakan yang terdiri dari bawang putih, minyak zaitun, dan teri yang disajikan dalam sebuah panci keramik.)


"Ya, aku pikir ini akan dapat membantu memulihkan kondisi Mars, kau dapat menyuapinya sekarang.. ini telah dibumbui sihir," ucap Moonflower dengan menyerahkan sendok ke tangan Marbella.


Ia menaruh panci tersebut pada nampan kayu yang terdapat di meja. Kemudian duduk di sebelah Marbella dengan memangku nampan, menatap Mars yang terlihat tidur dengan raut tenang.


"Bagaimana caranya menelan?" Marbella menjadi bimbang.


"Berikan sendoknya padaku. Aku akan memulainya dengan minyak, dan sangat berharap dia bisa memakan sisanya setelah bangun," ucap Moonflower.


Marbella menyerahkan sendok dalam genggamannya pada Moonflower. "Rasanya sulit untuk berpikir dengan baik jika kau tidak mendapatkan porsi tidurmu dalam tiga hari."


"Empat hari," sahut Moonflower.


"Ya, mungkin empat hari," Marbella bangkit dan menggerakkan sendi-sendi di tubuhnya yang terasa membeku. Menggeliat dan kemudian ia melangkah meninggalkan kamar itu untuk sejenak menghirup udara segar di luar. Kakinya terasa melayang saat ia melangkah dan kepalanya terasa membebani. Berdenyut. Ia bahkan kehilangan minat untuk bertanya pada James saat indera penciumannya menangkap aroma manis biskuit yang berasal dari James. Marbella hanya melewati tikus putih yang tengah menahan napasnya itu dan menyeret langkahnya menuju halaman. James menghembuskan napas lega.


"Nasib baik tikus baik," gumamnya. Tangan kecilnya menempeli dada.


*******


Sesuatu menyentuh bibirku dengan lembut. Dingin, tidak, ini sedikit hangat. Sentuhan yang menuntunku membuka bibirku perlahan. "Oh, sesuatu meluncur masuk."


Aku berusaha menahannya tapi itu mengalir dengan cepat melewati kerongkongan dan....


"Mars!"


Telingaku menangkap sebuah panggilan dan kelopak mataku terbuka dengan cepat, bola mataku terasa sakit saat bertemu cahaya yang terasa begitu menyilaukan. Aku menyipitkan mata dan berusaha mengangkat lenganku, tapi sebuah telapak tangan mendahuluinya.


"Maria?"


Bibirku menyebut nama gadis itu tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Aku mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dan perlahan mendapati wajah berbintik Moonflower yang tersenyum memandangku. Aku berusaha membalasnya. Ia perlahan menarik telapak tangannya.


Ada sisa rasa asin dan lengket yang menempel di kerongkongan, aku menelan ludah dan merasakan sakit di sana. Moonflower beralih menyuguhkan segelas air dari tangannya. Aku meraihnya dan tanganku bergetar tanpa tenaga saat menyentuh gelas membuat riak kecil pada air di dalam gelas.


"Permisi," ucap Moonflower menyelinapkan tangannya diantara bantal dan tengkukku.


Ia membantuku duduk dan meminumkan air dari gelas. Air terasa begitu sulit di telan. Aku sampai harus memejamkan mata untuk memaksanya masuk.


"Aku akan menyuapkan ini sedikit lagi padamu, kau membutuhkanya," ucap Moonflower.


Aku menatap sendok dan apa yang ada di dalamnya bergerak menuju mulutku. Ini butuh upaya dua kali dibanding air tadi untuk menelannya. Tenggorokanku seperti menggesek dinding yang kasar saat minyak dari sendok melewatinya. Aku mengerjapkan mata perlahan memandang Moonflower, memohon untuknya menyudahi suapan.


"Beberapa lagi," balasnya mengerti.


"Aku tidak menyangka kau sangat tidak berdaya tanpa makan yang baik beberapa hari, lihat ini...," Moonflower menyentuh bibirku dengan jarinya. Tidak sempat untuk terkejut, rasa sakit yang tajam mengambil alih saat ia menekan bagian itu.


"Ooouughh..," aku mengerang.


Jari telunjuk Moonflower berdiam di pusat rasa sakit itu untuk beberapa saat, dan secara ajaib... rasa hangat menjalar di sana dan meredakan rasa sakit yang ada.


"Sudah," ia menarik tangannya.


Aku mengerjap tak percaya, menyentuhkan gigiku pada bibir dan menggesekkannya beberapa kali. "Tidak sakit." Suaraku terdengar berat.


Moonflower tersenyum senang. Ia telah siap dengan suapan berikutnya. Aku memasang wajah memelas tapi itu tidak berhasil untuk menangkis suapan-suapan selanjutnya. Perlahan rasa sakit di tenggorokan turut mereda hingga aku hampir lupa rasanya. Suapan besar dibagian akhir saat Marbella terlihat memasuki kamar. Ia tertegun. Lalu tersenyum mendekati.


"Kau hebat, terima kasih," Marbella memeluk Moonflower.


Aku meraih gelas di meja dan meminum habis isinya.


"Bergeser, aku mengantuk sekali." Marbella menyerobot bagian tepi kasurku. Ia telah berbaring di sisiku dan memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama, dengkuran halus mengalun dari Marbella yang tidur menekuk tubuhnya menghadapi dinding.


Aku menarik selimut yang melilit kakiku dan menyelimutinya.


"Kau ingin kamar kecil atau sebagainya?" tanya Moonflower pelan.


Aku menggelengkan kepala. "Aku akan tidur."


"Jangan lagi!" Moonflower berseru dengan menarik lenganku saat aku bersiap untuk membaringkan diri. Rasanya lelah.


"Kau sudah tidur terlalu banyak," lanjut Moonflower mencegahku.


Aku menatapnya untuk sesaat. "Baiklah, aku hanya akan berbaring dan menemani Marbi."


Aku berbaring, melilitkan tangan ke perut Marbella dan bersandar di punggungnya. Detak jantungnya yang teratur membuatku merasakan ketenangan yang mengaliri tubuhku cepat. Begitu tenang.


Moonflower menyentuh bahuku dan berbisik. " Jangan tidur, aku akan kembali memeriksamu."


Langkah kaki Moonflower terdengar menjauh dan berhenti sebelum mencapai pintu. "Ikuti aku!"


Aku menoleh untuk melihat, ada James di sana, berdiri di kursi kayu dan dengan gugup mengibas-ngibaskan tangan ke seluruh tubuh hingga kakinya, juga senyuman bodoh di wajahnya. Ia menuruni kursi hati-hati dan berdiri dengan tegap. Tikus tua itu terlihat berbeda di saat santai, pikirku. Dia lucu, selucu tikus. Aku melepaskan tatapan saat keduanya menghilang di balik pintu, kembali memeluk Marbella, menghirup aroma lembut dari rambut coklatnya. Mencoba mengambil semua ketenangan yang bisa aku dapat. Sesuatu yang sempat hilang.


Marbella bernapas perlahan dan teratur. Aku menyangga tubuhku, melihat pada wajah kakakku. Sangat tenang, namun gurat kelelahan terukir jelas dibawah garis matanya yang menggelap. "Aku membuatmu lelah lagi, kan?"


"Marbi, Aku berjanji... aku akan—aku harus mengambil kemudi hidup ku sendiri di antara yang hidup, dan bahkan jika kita menemukan badai atau ketenangan di perjalanan,  kita tetap harus tiba di pelabuhan yang baik pada akhirnya."


Aku meninggalkan sebuah kecupan pada rambut coklat Marbella dan membiarkannya melanjutkan tidur. Aku berjalan menuju ruangan lain, berjalan perlahan-lahan seolah ini pertama kalinya aku menemukan rumah ini dan memasuki ruangan demi ruangan.


Langkahku berhenti di depan pintu kamar Maria yang setengah terbuka. Moonflower di sana, berbicara pada Maria yang berbaring di kasur. Apa Maria sakit?


Aku tertegun agak lama di sana, belum memutuskan apakah akan masuk atau tidak. Saat tikus Sam menyela untuk masuk, aku memutuskan untuk ikut masuk bersamanya.