
___________________
"Moonflower, pakai ini!" Marbella merentangkan sebuah piyama untuk Moonflower pakai.
" Wow!!" Kata itu meloncat dari bibir Moonflower ketika benang-benang sihir yang ditenun ke dalam pakaian panjang itu meredam seluruh rasa sakit di tubuhnya, terasa perlahan sakit kepala di dalam tengkoraknya seolah menumpul dan emosi bahagia merasukinya.
Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. "Ini lebih baik," bisiknya pada dirinya sendiri.
Ketukan lembut Maria di pintu membuat senyum di bibir Moonflower. "Masuk, Maria."
Dia membuka pintu, lalu berbalik ke kasur mementalkan dirinya seperti anak kecil, senyum di bibirnya mengangkat rasa lelah dari hati Marbella. Ia masih sibuk merapikan sisa-sisa rempah yang berceceran.. "Aku harap kau tidak terlalu memikirkan kejadian hari ini, Maria."
"Ya, aku terkejut.... Sangat... Tapi, aku dapat mengatasi itu," Maria tersenyum.
"Lihatlah dia," ucap Marbella sambil memajukan bibir bawahnya.
"Hehhe, aku senang melihat Moonflower pulih dengan cepat berkat dirimu," Maria berjalan mendekati kasur.
"Temani dia, aku akan keluar untuk melihat-lihat," ucap Marbella. Ia melangkah menuju pintu dan meninggalkan kedua gadis itu.
Maria memperhatikan wajah Moonflower. "Moon, apa yang membuatmu begitu gembira?"
"Entahlah, aku rasa karena ini," Moonflower menarik sedikit pakaian yang ia kenakan. Maria menyapu seluruh seluruh pakaian itu dengan matanya. "Pakaian baru?"
"Ini dibuat dengan tehnik sihir, Marbella memintaku memakainya," jelas Moon. Bibir Maria membulat, sejenak kemudian kedua gadis itu larut dalam perbincangan berkepanjangan dan saling melempar tawa.
Sementara Marbella, dia menemukan Mars dan James di dapur, tempat yang jarang dia kunjungi selama tinggal bersama Moonflower. Marbella baru menyadari, kini ruangan itu hanya dilengkapi dengan kursi-kursi keras dari kayu hitam pekat, lalu sebuah lemari besar sebagai penyimpanan dan peralatan masak yang tertata rapi berdekatan dengan kompor. Selama ini Marbella lebih banyak bepergian dari rumah atau mengurung diri lama di kamarnya. Berkutat dengan buku dan peralatan-peralatan yang ia punya, kadang ia menghabiskan waktu di halaman belakang yang memiliki sebuah panggangan sederhana untuk barbeque juga sebuah kursi panjang berayun.
Mars lebih dulu menyadari kedatangan Marbella dan ia seperti memberikan laporan positif tentang James segera agar Marbella mengetahui. "James tua kita bekerja cukup keras hari ini."
Marbella menyembunyikan senyumnya saat dia mengangguk pada kedua pria berbeda jenis itu, lalu memilih kursi ruangan yang paling besar dan paling nyaman untuk diduduki. Dia menggerakkan jarinya di sepanjang kayu gelap yang halus, merasakan butiran di bawah pernis. James memandangnya dengan dingin.
.
____________________
Suasana dapur terasa sedikit menegangkan saat Marbella memasukinya. Aku memberitahu Marbella bahwa James tidak memakan sesuatu yang buruk untuk tubuh dan juga telah berolahraga dengan baik. Tapi, kelihatannya Marbella dan James memiliki perang kecil mereka sendiri.
"Apa kau lapar, Marbi? Aku bisa memasak sesuatu untukmu," aku berpikir mungkin Marbella akan merasa lebih santai setelah makan.
"Umm..., aku ingin mie dengan rempah," jawab Marbella.
James menggeleng. "Napas ku masih sesegar aroma rumput di halaman belakang."
Tampaknya itu kalimat keluhan sekaligus pernyataan bahwa sayuran hijau bukanlah favorit tikus. Aku tersenyum geli mengingat betapa tertekannya tikus putih tua itu dengan peraturan ketat Marbella setelah ia ketahuan memakan pantangannya. James bahkan berpikir Marbella memasang pemantau di setiap sudut ruangan dan mengawasinya dari sebuah ruangan.
"Baiklah, aku akan memasak ini.. silahkan berbincang-bincang santai, ini tidak akan lama," aku berjalan menuju kompor.
Sebuah panci stainless dengan gagang coklat sangat pas untuk seporsi mie. Aku mulai memasak mie sederhana dengan rempah dan tambahan telur. Marbella menolak ketika aku menawari untuk menambahkan sayuran pada mie, ia beralasan bahwa perutnya lapar dan butuh untuk diisi segera.
"Marbi, tolong ambilkan mangkuk di sana," pintaku.
"Tidak perlu, berikan panci itu saja padaku..," balasnya.
"Oouh, etika makan gadis sekarang telah bergeser ya...," sindir James.
Marbella tampak tak perduli dengan sindiran James, ia mengulurkan tangan meraih sumpit yang masih ku genggam dan mulai menyantap mie-nya dengan lahap.
Slruupp.. slruup....slrup
James terlihat menelan ludah, aku menahan senyum memperhatikan tikus tua itu.
Aku mencium aroma rempah obat dari tubuh Marbella. 'Haruskah aku membuat pertanyaan lagi?' pikirku.
Aku berjalan ke sisi belakang Marbella, memperhatikannya diam-diam dari sana. Tidak ada yang terlihat salah selain aroma rempah yang sedikit menyengat darinya, aku mengurungkan pikiran untuk bertanya tentang itu.
"Aaaah, ini enak, Mars," ucap Marbella setelah menyeruput kuah terakhir dari sendok.
"Aku khawatir itu akan sedikit keasinan tadi, aku tidak sengaja menambahkan dua kali garam ke dalamnya," aku tertawa kecil.
"Eh! lidahku mungkin sedikit mati rasa karena panas," ujar Marbella.
Aku mengedikkan bahu. "Minum ini!"
Aku menyodorkan kotak susu yang masih terisi setengahnya, Marbella segera meminum habis.
"Ooooooowh, tidak bisakah kau minum perlahan saja, Nona?" keluh James.
Marbella melirik James tajam. "Buatkan segelas teh hijau untuknya!"
James terhenyak.