LUCEM

LUCEM
Chapter XXIX



Pertarungan dahsyat di Grimoland. Lebih dari sepuluh ribu nyawa melayang tanpa Rong sadari, tiga perempat dari total bangunan hancur. Rong tidak mau bercerita bagaimana ia bisa tahu, tapi dia membuat Tunik ketakutan setengah mati saat ia menceritakan penggalan kisah hingga akhirnya ia berakhir di kaki pegunungan Colonomis dan bertemu gadis itu. Rong hanya mengatakan bahwa prakiraan itu sudah ada dalam sistem, dan Rong sangat paham soal itu.


Tunik menghela napasnya. “Tak perlu dikatakan lagi, aku benar-benar penasaran, Tom.”


Tom, adalah nama baru yang digunakan Rong. Ia masih berusia empat puluh lima tahun saat ia terpaksa meninggalkan Grimoland dan keluarganya, terjebak beberapa waktu dalam pelarian dan pencarian. Saat itu adalah tahun ke dua baginya berada di kaki pegunungan Colonomis sebagai Tom.


Tunik telah berubah menjadi wanita dewasa yang menyusup dalam kehidupannya. Dengan cara yang nakal, Tom sering mengingatkan istrinya bahwa ketika pertama kali bertemu dalam pertarungannya di sisi pegunungan, Tunik samasekali tidak membuat Tom dimabuk gairah. Kala itu Tunik gempal, pekerjaannya mengumpulkan tanaman dan rempah sihir, rambutnya berantakan, stress berat sebagai pekerja, kebiasaan makan yang buruk dan semacam itulah. Sedangkan Tom, wajahnya bahkan layak dipajang pada sampul majalah meski kulitnya cenderung pucat, sejak dulu Tom sebagai bintang di masa mudanya terkenal dan cemerlang, dalam benak Tom terukir gambaran tubuh pemandu sorak atau gadis harem kerajaan.


Terus terang Tom tidak pernah memikirkan hal-hal romantis bersama Tunik sampai diet ketat dan latihan mengubah tubuh gadis itu dan menjadi lebih indah dari jam pasir.


“Berarti aku memang picik,” Tom akan mengakuinya jika seseorang mengingatnya soal itu.


Penampilan bukanlah satu-satunya penghalang diantara mereka, Tom juga harus memperkenalkan Tunik pada kesinisan. Mulanya Tunik adalah murid sihir yang menyebalkan, cerewet dan terlalu mudah senang, membuat Tom mual. Mirip virus lambung. Namun, Tom adalah guru yang baik dan sabar. Di bawah bimbingannya, Tunik belajar untuk mencurigai kekuasaan, membebaskan diri dari birokrasi, terbiasa menyerempet bahaya dan kemajuan sihir yang membanggakan.


Sampai suatu hari, ketika menghadapi jalan buntu dalam pertarungan dan pencarian yang mustahil, Tom sadar bahwa gadis ini melakukan semua itu untuknya, mengubah segalanya habis-habisan. Tom mendapati tubuh Tunik yang mungil begitu menggairahkan, ia bisa mendekap dengan kedua tangannya dan kakinya hingga tubuh Tunik hampir lenyap. Tom menyukai tekstur rambut coklat Tunik yang seperti sutra, wajahnya yang bersemu merah hingga ke leher karena tersipu. Tunik cerdas dan berani. Pengetahuannya yang luas mengenai sihir dan budaya sangat menggelitik, bahkan untuk pria kutu buku yang menganggap budaya sebatas dokumen saja. Melebihi segalanya, Tom mendapati bahwa Tunik adalah keturunan Ghoyanta yang orang tuanya terbunuh karena dituduh sebagai penyihir liar dan sesat.


Memiliki keluarga kecil dengan seorang anak perempuan yang ceria dan disusul oleh seorang anak laki-laki yang tampan. Namun, kebahagian mereka tidak bertahan lama. Jejak Tom terendus. King Grimo dan kerajaan menyebarkan kabar bahwa sang raja telah mendengarkan wahyu tentang penyihir liar di tanah luar. Pengetahuan sihir ratu Maya dapat merasakan munculnya penyihir terpilih lalu mengirimkan Owanna dan prajurit kerajaan ke setiap penjuru negri hingga melewati perbatasan dan juga berusaha membuka pintu dimensi. Kaki pegunungan Colonomis tidak lagi aman dan damai, Owannna merajalela. Orang-orang saling berkhianat dan mencurigai satu sama lain. Tunik diam-diam telah mengajarkan kepandaian sihir pada gadis kecilnya dan menyiapkan beberapa catatan penting jika dibutuhkan.


TarNow telah lama menghilang sejak Rong menjadi Tom, namun tiba-tiba ia kembali ketika Owanna berhasil menguasai wilayah di kaki pegunungan Colonomis. Satu kali waktu Tom, Tunik dengan bantuan TarNow berhasil memukul mundur pasukan Owanna namun semua tidak bertahan lama. Ribuan Owanna kembali datang dan meluluh lantakkan segalanya. Wilayah kaki pegunungan Colonomis telah dikuasai kerajaan dan utusan-utusan telah di posisikan. Tom dan Tunik diseret kembali ke Grimoland, Tunik berhasil menyembunyikan keberadaan kedua anak mereka, mengirimkannya diantara pengungsi menuju sebuah kota. Kedua bocah itu menggelandang, bertahan hidup dalam kekacauan tanpa kedua orang tuanya. Tom dan Tunik tahu mereka akan baik-baik saja jika berhasil melewati masa-masa suram dan menemukan jalan mereka sendiri.


Putri cerdas mereka dapat diandalkan, mereka yakin itu. Gadis kecil yang kemudian memenuhi kepalanya dengan uang, sinis, kritis, licik dan tangkas.


“Berdiri rapat di belakangku, Mars,” itu yang akan ia katakan pada bocah laki-laki di belakangnya setiap mereka harus berjibaku mengantri makanan yang dibagi-bagikan di sisi jalan. Ia tidak akan sungkan beradu tinju baik dengan pria brengsek atau wanita gila yang meneriakinya. Marbella adalah tameng Mars yang paling kokoh. Bocah laki-laki bernama Mars, tubuhnya kurus dan lemah namun ia tidak memiliki keraguan sedikitpun akan perlindungan dan rencana-rencana gila Marbella. Mereka adalah Yin untuk Yang, dan Marbella adalah cahaya bagi Mars.


Ketika dengan lihainya Marbella mendapatkan sebuah seruling yang akan mengubah hidup mereka, Mars dengan setia mengikuti setiap arahan Marbella tanpa bertanya. Uang datang dan hidup berubah. Sebuah rumah yang ia dapatkan dari sebuah petunjuk di buku peninggalan orang tuanya, Mars dan Marbella menuju dataran tinggi pegunungan Colonomis. Tidak lagi menggelandang dan memiliki pekerjaan dengan bayaran, mereka hidup aman dan berkecukupan.


Marbella tidak lantas merasa cukup. Ada hal-hal diluar pengetahuan Mars dan yang lainnya sedang Marbella coba tuntaskan. Apapun itu dan bagaimana pun cara Marbella melakukan, Mars tidak pernah merasa keberatan. Buku dan seruling adalah cukup untuknya.


Hingga akhirnya, rencana Marbella membawa mereka ke kediaman Moonflower saat ini. Mars telah beranjak remaja. Kehidupan berjalan jungkir balik bersamanya. Tapi, selama ada Marbella, Mars tidak memiliki ketakutan yang berarti sama sekali.