
Tuan Jhonatan menghela napas panjang saat kakinya turun dari kendaraan yang membawanya menuju istana. Ia merapikan jas hitam yang ia kenakan dan juga topinya sebelum mulai melangkahkan kaki memasuki istana, tujuannya adalah sebuah ruangan berpintu merah dengan corak ukiran emas di permukaannya.
Sesampainya di sana, pintu itu perlahan terbuka. Tuan Jhonatan melangkah masuk. Tuan Jhonatan membungkukkan badan. "Salam, Bu..."
King Grimo membalikkan tubuh perlahan menghadap pemilik suara yang menyapanya ibu itu. Sebuah senyuman terbit di wajah pucatnya melihat kehadiran putra yang ia rindukan. "Anakku," sapanya.
Tuan Jhonatan melangkah mendekat untuk mencium tangan King Grimo yang terulur. Ketika tangan mereka saling menyentuh, tubuh King Grimo mengejang sesaat, dengan sigap tuan Jhonatan menangkap tubuh King Grimo yang telah terkulai sebelum menyentuh lantai. Tubuh itu kini terasa lebih dingin dan pucat dari sebelumnya. Tuan Jhonatan membaringkan King Grimo dengan hati-hati.
"Mengapa Ibu melakukannya, itu sangat berbahaya," ucap tuan Jhonatan dengan menengadahkan wajahnya yang tampak khawatir.
Sosok wanita dengan jubah hitam itu memandangi tuan Jhonatan dengan pandangan mata yang lembut, seutas senyum terukir di wajahnya. Tubuh yang melayang mendekati langit-langit kamar itu dengan perlahan turun mendekati tuan Jhonatan. Tangannya terulur membelai wajah pria yang ia panggil anak itu, tapi hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya tangan wanita itu melewati wajah tuan Jhonatan bagai udara. Kemudian sosoknya kembali tertarik ke sisi langit-langit.
"Apakah Ibu baik-baik saja?" Tanya tuan Jhonatan.
Wanita itu hanya menggeleng perlahan.
"Ibu, aku mohon kembalilah ke tubuhnya," pinta tuan Jhonatan.
Wajah wanita itu menjadi sendu, namun secara perlahan sosoknya bergerak turun menuju tubuh King Grimo yang terbaring dan perlahan menyatu dengannya. Tubuh King Grimo tersentak, sebuah tarikan dan hembusan napas yang cepat terdengar dari mulutnya. Tuan Jhonatan bersegera mendekat.
"Rasa sakit yang kubawa, ketakutan yang seharusnya aku tinggalkan. Aku melorot di bawah beban kesepian, rantai kekecewaan. Hatiku sendiri beratnya seribu pound. Aku sangat berat sehingga aku tidak bisa lagi diangkat dari bumi. Aku sangat berat, aku tidak punya pilihan sekarang selain dikubur di bawahnya. Aku sangat berat, terlalu berat," air mata lolos dari mata tua King Grimo.
"Bertahanlah Ibu, bersabarlah," ucapkan tuan Jhonatan ikut meneteskan air mata.
______________________
Kilatan emas di kejauhan.
Mars!
Seseorang memanggil namaku.
Suaranya besar, agresif. Suara itu memusingkan di kepalaku, mengembang dan mengerut. Aku tidak bisa menebaknya. "Siapa..., Siapa di sana!?"
Mars!
Aku menghembuskan napas saat tubuhku turun dengan cepat. Dunia tiba-tiba menjadi gelap. Mataku berkedip. Suara mendengung di telingaku, sesuatu seperti listrik yang tumpul dan stabil. Semuanya tenggelam dalam kegelapan. Pemadaman, pemadaman di alam. Rasa takut menempel di kulitku. Meliputi ku.
Marbi, Marbi...... Marbiiiiiiii!!!!
Marbella tidak datang untukku. Air mataku menetes cepat. Perasaan seperti pisau melubangi tulang-tulangku yang dengan cepat terisi oleh kesedihan, kesedihan yang begitu akut hingga membuatku terengah-engah. "Marbi tidak datang, Marbi tidak datang."
Aku kembali mengambang.
Tanpa bobot namun—terbebani, seperti
ditakdirkan untuk tenggelam selamanya.
Aku dipaksa untuk menarik napas, dipaksa untuk menghembuskan napas. Napasku sendiri yang keras dan gemetar.
Tiba-tiba cahaya redup memecah kegelapan di belakang mataku, dan dalam cahaya, aku melihat air.
Aku mendengar sesuatu.
Seperti bergema melalui tangki, logam kusam melawan logam kusam, tiba di telingaku seolah-olah dari luar angkasa. Aku menyipitkan mata pada kumpulan bentuk dan warna yang baru, bentuk yang kabur. Aku mengepalkan tinjuku tapi dagingku lembut, tulangku seperti adonan segar, kulitku mengelupas dalam serpihan lembab. Aku dikelilingi oleh air. Mataku terbelalak, napasku panik.
"Apa-apaan ini?" Aku masih mencoba bernapas. Aku melihat sekeliling. Jantungku berpacu. "Apa— apa semua ini?"
Kengerian yang merayap dan menakutkan bergerak ke seluruh tubuhku. Sosok besar kabut hitam ada di kepalaku. Dia ingin melihat apakah dia bisa membuatku bunuh diri.
Sosok itu menyeringai, seolah dia berharap jika aku bunuh diri saat dia ada di kepalaku, entah bagaimana aku bisa membunuhnya juga.
"Marbi, tolong aku..." Aku memelas. Putus asa.