
Rasanya sudah beberapa jam berada di rumah ini. Tidak ada pembicaraan berarti yang terjadi sejak kedatangan kami. Wanita itu tidak kembali untuk menemuiku setelah acara minum teh.
Aku berpikir dia mungkin hanya tertarik pada sesuatu yang belum aku ketahui 'tentangku'.
Namaku bukan sesuatu yang tertulis di koran pagi atau diteriakkan di saluran radio, tapi wanita itu menyapaku seolah telah memiliki namaku lama di benaknya.
Aku menghampiri Marbella di ruangan yang akan menjadi kamar kami selama berada di rumah ini. Lagi-lagi dekorasi gambar tanaman merambat di seluruh ruangan, yang berbeda hanyalah dasar warna pada kertasnya, merah muda. Dan lantainya yang dibiarkan telanjang. Sebuah kasur ditutupi selimut dengan banyak motif seperti roti tebal yang disusun berkotak-kotak, sangat menggodaku untuk melompat ke sana.
"Jangan lakukan itu, kita tidak ahli dalam merangkai besi jika ini berserakan," Marbella seperti membaca pikiranku.
"Ok, baiklah... ayo duduk kalau begitu," ajakku.
Marbella duduk dengan melipat kakinya di kasur dan aku duduk berjuntai.
"Ia melihat melampaui kita." Ucap Marbella.
Aku mengerutkan kening. Melihat ke atas.
“Aku sedang membicarakan wanita itu, Magenta. Kemampuannya untuk melihat jarak jauh,” ujar Marbella.
Dia mengambil pensil dari tanganku dan memainkannya. “Sungguh keterampilan yang luar biasa. Kemampuan supranatural Magenta untuk melihat jarak jauh adalah yang meyakinkanku akan ancaman ratu Maya sejak awal. Beberapa hari yang lalu, ketika teman-teman tikus kita—Marbella menarik napas.
Dia menggunakan data untuk menunjukkan dengan tepat lokasi tikus-tikus kita di kurung. Dia telah menghabiskan banyak waktu untuk mencari mereka hingga bisa mendapatkan gambaran kondisi para tikus dan mengirimkannya padaku. Dia juga bisa melihat ayah dan ibu kita, yang merupakan hal yang paling aku pedulikan—suara Marbella melambat.
Walau Kilatan kehidupan mereka, tidak sepenuhnya jelas, tapi hidup dan stabil, gambaran ini mungkin tidak terlalu menjamin, tapi aku bersedia mengambil peluang sedikit apa pun itu," Marbella menatap kosong pada dinding.
"Ratu Maya?" Pertanyaanku membuat Marbella menoleh.
“Pokoknya, ya. Magenta itu hebat, ”katanya, meregangkan tubuhnya dan merebahkan diri di kasur.
Aku tidak mengulangi pertanyaanku. Yang membawaku kembali ke titik awal. Pasukan tikus, ayah dan ibu, mereka akan baik-baik saja. Dan hal-hal lainnya akan menemukan jawabannya lalu semua akan baik-baik saja. Aku menjanjikan itu dengan tekadku. Dunia berutang padaku setidaknya sebanyak itu, kan?”
"Marbi, apa kau dapat menebak berapa usia Magenta?"
"Mereka memiliki usia yang hampir sama dengan ayah dan ibu," jawab Marbella.
Aku berbalik. "Benarkah?"
Marbella mengangguk.
"Ternyata tebakanku salah," gumamku.
"Aku sudah menduga itu. Melihat matamu yang berbinar saat melihatnya," ucap Marbella.
"Aku tidak berbinar," bantahku.
"Kau tidak bisa membohongi kakakmu yang super ini," kata Marbella.
"Mungkin hanya terpukau," jawabku pelan.
"Kau pasti tidak menduga usianya, kan? Sama seperti Moonflower yang telah menempati ruang waktu begitu lama, membeku dalam usianya ketika ia mulai melompat masuk," ucap Marbella.
"Apa maksudmu kau percaya bahwa Moonflower benar-benar telah berusia seribu tiga ratus tahun?" tanyaku penasaran.
"Itu seribu tiga ratus tahun lebih, dan dia menetap di dua puluh satu tahun secara fisik," jelas Marbella.
"Jadi berapa usia fisik Magenta?" tanyaku.
"Eh, kau mengapa begitu antusias? Apa kau berusaha mengabaikan pria yang ada bersama Magenta itu? Kau sungguh pria pemberani, Dik," Marbella membuat wajah kagum yang menyebalkan sembari duduk di hadapanku.
"Ah...,"
"Dia mungkin berusia sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh tahunan secara fisik, itu tebakanku," ujar Marbella.
"Sangat cantik di usia itu, hmm... La bella Magenta" aku menjulurkan tangan ke udara.
Marbella tertawa, menendang kecil kakiku. " Kau akan menyakiti perasaan para penggemar Simonetta Cattaneo, Dik."
'Ada apa dengan kecantikan, suatu hari saya bertanya-tanya, apa yang membuat pria berpikir bahwa mereka berhak menginginkan Anda? Kecantikan itu berarti Anda secara otomatis setuju, entah bagaimana, untuk didambakan, diinginkan? Bahwa kecantikanmu milik semua orang?' Marbella mengutip kalimat populer mengenai ratu kecantikan itu.
Aku mengambil ujung selimut dan membentuknya segera menjadi sekuntum bunga, lalu berlutut menyerahkannya pada Marbella.
Marbella meraih bunga itu dan menciumnya sebelum melemparkannya kembali padaku.
"La bella Marbella," ucapku dengan mencuri nada penyair.
Kami tertawa bersama. Marbella kembali berbaring. "Jangan menjadi Giuliano, oke? Aku akan menemanimu bermain 'mengagumi', jadi kita hanya perlu mengagumi kecantikan itu secukupnya, setuju?"
"Setuju," aku menyambut jari kelingking Marbella yang melengkung.
Aku ikut berbaring di sisi Marbella, ia menoleh. Ia mengacak rambutku. "Sapi besar, kau terus menempel padaku. Siapa gadis yang akan bersedia menjagamu kelak?"
"Kucing gila, aku bahkan belum sekalipun melihat seorang pria berani mendekatimu. Aku khawatir harus menjagamu seumur hidup," aku memandangi langit-langit kamar yang kakakku pandangi.
"Kau terlalu peduli, tapi terima kasih sudah mengajukan diri," ucap Marbella.
"Salahkan kau jadi kakakku yang tidak laku," ucapku.
"Apa kau baru saja mengutukku, dik?" Marbella bangkit.
"Tidak," jawabku. Membalikkan tubuhku waspada.
Dan serbuan kelitikan mendarat di tubuhku tak terelakkan. Dia terlalu hebat, aku tidak memiliki kesempatan untuk membalas dan hanya dapat bertahan.
Serangan itu berakhir setelah permohonan ampun berkali-kali dan air mataku. Tawaku mereda.
"Aaaah, lelah sekali.. ayo tidur," ajak Marbella.
Aku kembali berbaring di samping Marbella. "Marbi, apa kita akan bertemu ayah dan ibu segera?"
Tidak ada jawaban. Aku menoleh, dan melihat kucing itu sedang mendengkur lembut. Suaranya hampir terus menerus. Marbella pernah mengatakan bahwa dengkurannya adalah mekanisme untuk menjaga tulang dan otot kucingnya agar senantiasa dalam kondisi prima. Tapi bagiku dengkurannya telah menjadi komunikasi nonverbal diantara kami, aku secara alami dapat membedakan jenis dengkuran Marbella, baik saat ia merasa tenang dan nyaman atau dengkuran di kala ia terganggu, cemas atau tengah mengobati rasa sakitnya.
Jika dia menolak menjawabku saat terjaga, maka aku akan mencari jawabannya saat ia tidur.
Hanya saja terkadang kakak kucingku ini mengasingkan dirinya sebelum mulai mendengkur, dan itu memberiku penjelasan pasti bahwa ia tidak baik-baik saja dan mungkin sedang merasa ketakutan. Ketika itu, aku akan berada di suatu tempat yang tidak akan mengusik tidurnya.
"Selamat malam, Marbi. Tidurlah yang nyenyak, aku di sini. Lakukan apapun yang kau inginkan. Bertindak konyol. Jadilah naif. Jadilah tak terduga. Jadilah orang baik. Jadilah tidak tahu apa-apa. Jadilah yang selalu antusias. Ingin tahu. Jadilah aneh. Kau bisa menjadi menjadi semua itu sambil tetap cerdas dan sensitif. Aku selamanya akan menjagamu, Kak."
......................