LUCEM

LUCEM
Chapter LXIII



*******


"Hei, Jimmy tidakkah menurutmu ketenangan ini terlalu berlebihan, sementara rekan kita di luar sana masih menantikan kita untuk menyelamatkan mereka. Ini benar-benar membuatku gelisah," ucap seorang rekan kepada Jimmy.


"Aku memahami kekhawatiranmu tapi bertahanlah, Marbella dan yang lainnya pasti memahami situasinya," ucap Jimmy menenangkan rekannya.


"Ya, ini bukan penundaan tapi ini perencanaan," timpal Jiso dari kursinya.


"Tapi bukankah ini terlalu lama, bagaimana jika sesuatu yang buruk telah terjadi di sana, bagaimana jika kita terlambat?" rekan itu menumpahkan segala kegalauannya.


"Jika Marbella memiliki kekhawatiran kita akan terlambat, aku sangat yakin dia akan mengajak kita berlari sebelum itu terjadi. Kau mengerti?" balas Jiso.


"Tenanglah kawan, jika kau sangat takut dan khawatir aku akan dengan senang hati menemanimu berlatih untuk meningkatkan kemampuan diri sehingga ketika saatnya diperlukan kita adalah pasukan terbaik yang dapat Marbella andalkan," ucap Jimmy.


"Ah, yah jangan terlalu tegang sebelum kalian berlatih, ayo kembali menikmati teh ini aku rasa percakapan emosional ini telah membuat teh kita menjadi dingin sia-sia...., ayo ayo ambil ini," ucap Jisoo mendorong gelas-gelas kehadapan para tikus sambil tersenyum.


Keramahan Jiso membuat seluruh pasukan tikus merinding, dan mereka segera menyeruput habis teh masing-masing. Jimmy tersenyum canggung pada rekan-rekannya. Sebuah latihan malam dimulai.


Berlari, melompat, memanjat, berayun dan berguling semua para tikus bergerak dengan lincah. Belati dilemparkan, pedang diayunkan, anak panah yang melesat tepat sasaran, juga tendangan dan pukulan penuh tenaga. Magenta yang menyaksikan berdecak kagum.


"Oh, ya mereka sangat mengagumkan setidaknya tikus yang terdidik dan tidak telanjang sepenuhnya, Aku cukup puas dengan itu," Marbella tersenyum, memamerkan deretan giginya pada Magenta.


"Wow!" Magenta bertepuk tangan.


"Jika saja ada pistol atau senapan yang sesuai untuk ukuran mereka, maka mereka akan memilikinya," ucap Marbella.


"Pistol untuk tikus?" Magenta mengernyitkan dahi.


"Ya, senjata yang praktis, cepat dan efektif," Marbella membidik dengan jari tangannya.


"Tidak, aku harap kita tetap merahasiakan ini dari pembuat senjata... tikus tidak membutuhkan pistol. Mereka cepat dan mereka licin juga terdidik seperti yang kau katakan, bukankah itu cukup?"


"Ya, kau benar. Senjata api dan perang adalah lahan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar. Kompleksitas industri militer, kita tidak perlu melibatkan tikus kita di dalamnya, mereka telah memiliki tikus mereka sendiri yang menjijikkan," ucapan sinis melontar keluar dari bibir Marbella.


Bagaimana pemikirannya telah menentang setiap kebutuhan terhadap senjata perang, industri kotor, kata Marbella. Dipenuhi dengan rahasia dan korupsi. Produsen besar senjata dan pejabat-pejabat negara mereka, menyepakati kertas dengan perjanjian bermuka dua. Merekalah yang menantikan konflik untuk kemudian memperoleh lahan sebagai penyuplai senjata untuk genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, atau kejahatan perang lainnya. Lalu setelah semuanya, mereka mengumpat dan mengutukmu untuk kejahatan yang kau lakukan.


"Eh, tapi adikmu memilikinya satu," ucap Magenta.


"Oya!?"


"Ya, itu, ketika aku tanpa sengaja menyimak percakapan kecil antara Mars dan seekor tikus putih, sebelum kalian sampai di sini," jelas Magenta.


"Kau juga dapat melihat hal-hal hingga sedetil itu?" Marbella terkejut.


"Ya, terkadang... jika aku berkeinginan," Magenta mengangkat kedua bahunya.


"Oh, itu hebat sekali," Marbella menggenggam tangan Magenta.


"Kau konyol," kekeh Magenta.


"Oya, apa kau sudah melihat mimpinya juga?" tanya Marbella serius.


"Tidak, itu bukan sesuatu yang bisa aku masuki dengan leluasa," ucap Magenta.


Marbella menggigit bibirnya. "Aku hanya bisa menjadi saksi, aku tahu betapa beratnya hal itu untuk Mars... kau tahu, melihat tapi tidak dapat melakukan apapun untuk membantunya sungguh membuatku menderita."


Magenta mengusap lembut punggung Marbella. "Kau adalah saudarinya. Kau selalu melakukan hal terbaik yang dapat kau lakukan untuk melindunginya. Terkadang kita harus memahami bahwa, ada saat-saat masalah adalah milikmu sendiri untuk kau atasi."


Marbella menghela napas. "Ya, kau benar."


"Kalian memiliki pasukan yang mengagumkan. sihir pengendalian binatang adalah sesuatu yang tidak aku kuasai. Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Magenta.


"Sebenarnya aku tidak bekerja banyak, Mars yang melakukannya. Mars, dia menciptakan hubungan yang tidak dapat aku ciptakan. tahu kan, secara alami kucing dan tikus tidak berpelukan," Marbella memainkan alisnya.


Magenta tertawa.


Menemukan kakak beradik itu lebih dulu dari pasukan hitam adalah keberuntungan. Magenta telah menyaksikan bagaimana keduanya tumbuh dan berkembang. Kecerdasan Marbella dan ketangguhan Mars adalah kombinasi yang membuat mereka tidak mudah untuk ditaklukan oleh apapun.


Kini, ia hanya membutuhkan sebuah keyakinan bahwa Marbella, Mars dan yang lainnya telah benar-benar siap untuk bersama-sama membuka pintu berikutnya. Pintu yang ia sendiri enggan untuk kembali melewatinya, tapi ia harus. Ada orang-orang yang menantikan mereka kembali, untuk pelukan, untuk penebusan dan mungkin untuk hal lainnya yang tidak Magenta ingin ungkapkan.


"Komandan tikus itu, dia jauh lebih waspada dari perkiraanku," Magenta terkekeh.


"Ha?"


Marbella beralih menatap Jiso. "Kau berusaha menelusurinya?"


"Hanya iseng," sahut Magenta.


"Selain luka besar di wajahnya, apa ada hal lain yang membuatmu penasaran tentang Jiso?" tanya Marbella.


"Dia tikus besar, tapi jauh lebih kecil dari leluhurnya," ucap Magenta.


Marbella terkesiap. "Owanna?"


Magenta tersenyum. "Tapi kau tidak perlu mewaspadainya. Jejak luka di wajahnya itu bukan didapatkan dari pertarungan biasa, dia istimewa."


Mulut Marbella membulat, terbuka tanpa suara. Ia berpikir bahwa ia telah cukup mengenal tikus--tikus mereka, tapi ternyata ada rahasia-rahasia besar dan kecil yang tetap rahasia. Marbella mengerti bahwa satu-satunya hal yang perlu ia pastikan adalah loyalitas. Mereka memilikinya. Teman.


"Marbella, apa kau dapat mengendalikan Sisi dan TarNow?" Magenta bertanya hal yang tak terduga bagi Marbella.


"Astaga..., apa tidak ada rahasia yang bisa aku sembunyikan darimu?" Marbella memindai Magenta yang terkekeh.


"Ayolah..., mereka memang spesial, tapi kau mungkin tidak mengetahui cukup banyak tentang keduanya untuk menjadikan mereka rahasiamu," goda Magenta.


"Apa itu artinya, kau mengetahui yang aku tidak ketahui tentang dua orang aneh itu?" selidik Marbella.


"Kau menyebut mereka aneh," tawa Magenta meledak.


"Apakah mereka tidak?" Marbella ikut tertawa.


"Ya, ya.. aku akui mereka memang sedikit aneh," sahut Magenta berusaha meredakan tawanya.


"Untuk cara berjalan TarNow, aku sampai harus memastikan apakah ia benar-benar melangkah dengan kedua kakinya. Itu terlalu tegak," Marbella mengusap sisi matanya.


"Apa kau pernah terpikir untuk membelikannya sepasang alas kaki hanya untuk salah satu bagian, maksudku... seperti kanan atau kiri keduanya?" Magenta kembali terbahak.


"Sial, kau benar-benar mengenal pria kayu itu," Marbella sulit mengontrol tawanya kali ini.


*******


TarNow


Penggosip.


Sisi


Apa ini waktunya bersin?