LUCEM

LUCEM
Chapter LXII



Di sore yang lain setelah latihan panjang bersama Magenta. Aku dan Venus memutuskan untuk kembali ke kursi panjang di sisi taman untuk bersantai.


"Kemampuanmu meningkat pesat, kawan," Venus menepuk pundakku.


"Guru-guruku luar biasa, aku mendapat apa yang mereka katakan bahwa aku harus mendapatkannya. Magenta dan juga yang lainnya sangat murah hati dalam berbagi keterampilan, aku sungguh beruntung," ucapku.


"Ya, kau sungguh beruntung dan juga berkat bakat," balas Venus.


"Entahlah, aku beberapa kali mendengar kalimat sejenis, berkat, bakat dan keberuntungan... Mungkin aku memang memilikinya," aku mengangkat bahu.


"Kau diberkati dengan bakat juga cinta dari saudarimu, itu yang istimewa," ucap Venus.


"Kau benar lagi, kawan. Walau aku tidak tahu untuk apa semua ini," aku menatap rumput di bawah kakiku.


"Jangan pikirkan itu untuk apa, karena kau akan tahu kegunaan sesuatu saat kau membutuhkannya," Venus berdiri.


"Untuk saat ini anggap saja para gadis sedang berbagi ilmu denganmu. Setiap orang adalah guru bagi yang lain dan setiap orang adalah murid. Bagi seorang guru, kalau tidak berbagi ilmu, percuma saja.


Di luar pekerjaan dan cinta, aku akan menambahkan dua bahan lain yang memberi makna pada kehidupan.


Pertama, untuk memenuhi bakat yang kita miliki sejak lahir. Sebanyak kita diberkati oleh takdir dengan kemampuan dan kekuatan yang berbeda, kita harus berusaha mengembangkannya secara maksimal, alih-alih membiarkannya berhenti berkembang dan membusuk. Kita semua mengenal orang-orang yang tidak menepati janji yang mereka tunjukkan di masa kanak-kanak. Kau ingat? Cita-cita.


Banyak dari mereka dihantui oleh gambaran akan menjadi apa mereka nantinya. Tapi, alih-alih menyalahkan takdir, aku pikir kita harus menerima diri kita apa adanya dan berusaha mewujudkan impian apa pun yang ada dalam kemampuan kita.


Kedua, kita harus mencoba meninggalkan dunia di tempat yang lebih baik daripada saat kita memasukinya. Sebagai individu, kita dapat membuat perbedaan, apakah itu mengeksplorasi rahasia alam, membersihkan lingkungan dan bekerja untuk perdamaian dan keadilan sosial, atau menumbuhkan semangat ingin tahu dan semangat anak muda dengan menjadi pembimbing dan dibimbing," ucap pria Venus, dengan kebijaksanaan yang baru aku kenal.


Aku mengangguk-angguk, pria yang berkilau. Aku menjadi 'berisi' hanya dengan duduk dan berbincang dengannya.


"Apa kau pernah mencoba mempelajari sihir?" Tanyaku.


"Sihirku adalah masakan, itu yang Magenta katakan," Venus tertawa.


"Ya, tanganmu memilikinya," balasku tertawa.


"Oya, kawan... apa menurutmu ruang dimensi ini tidak terasa membingungkan?" Aku kembali bertanya.


"Aku akui, hal yang paling tidak aku mengerti di dunia ini adalah ruang dimensi ini. Rasanya seperti memasuki dunia paralel dengan sebuah planet yang mirip dengan bumi, dengan sebuah rumah yang tidak dapat dibedakan dari milikmu, dihuni oleh orang-orang yang mirip dengan diri kita, yang saat ini sedang berbincang-bincang dan bayangan itu adalah kita, di galaksi yang jauh,—Venus berbicara dengan gaya yang misterius.


Dan.... tidak hanya ada satu salinan yang seperti itu, seperti kita,—ia berbalik. Di alam semesta tanpa batas, ada banyak sekali kita, ia merupakan seseorang yang tidak ingin kau temui di lorong gelap," ucap Venus, matanya membola.


"Seperti doppelganger?" Tebakku.


"Ya! doppelganger-mu sekarang membaca kalimat ini bersamamu," Venus bergerak lambat-lambat bersama kata-katanya.


"Owh!" Ia memegangi kepalanya dramatis.


"Ada apa?" Tanyaku penasaran.


"Mungkin—bayanganku, dia melewatkan atau merasa butuh camilan," ucap Venus dan ia segera berlari kecil menuju dapur.


Realitas tersembunyi ruang dimensi mungkin tidak seperti yang diceritakan Venus, tapi memiliki kisah ruang dimensi versi manapun tidak akan pernah menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaanku. Aku tahu pasti akan hal itu.


Saat Venus kembali dengan setoples camilan dan coklat panas, percakapan kami kembali di mulai.


"Ruang dimensi mungkin hal baru untukmu, tapi bagiku ini adalah rumah yang sebenarnya," ucap Venus, ia menyeruput coklat panasnya perlahan.


"Karena kau bersama dengannya, kan?"


"Itu juga, dan di sini... Kau tahu, seperti berkendara. Kau dapat pergi kemanapun yang kau inginkan, tapi ada lagi yang istimewa dari itu," ucap Venus.


"Oya, apa itu?" Tanyaku.


"Ini mungkin hal yang sulit dicerna, sejauh apapun kita bepergian dalam ruang dimensi, kita tepat berada di tempat semula diwaktu yang bersamaan," ujar Venus.


"Pergi dan tetap di tempat, Seperti itukah? tanyaku lagi.


"Yup, temukan koordinat rumah ini, maka kami pasti ada di sana.. selama kami tidak benar-benar keluar melewati pagar itu," tunjuk Venus.


"Kami juga memiliki batas yang mirip seperti itu di rumah Moonflower, dan aku berpikir kami benar-benar telah berkelana jauh di ruang dimensi. Itu empat hari atau lebih," ucapku.


"Aku memahami itu, bergerak tapi tidak... Kalian hanya telah memiliki koordinat kami dengan tepat," jelas Venus.


"Terlalu sulit untuk segera dipahami," aku terkekeh.


"Aku bahkan berpikir kewarasanku telah hilang pada awalnya, hari yang berganti setiap kali kita lengah menghitung dan waktu yang kadang berlari kadang tersendat. Dan kini aku memahami bahwa ruang dimensi tidak untuk dikejar, hanya perlu diikuti, nikmati dan mereka akan menyesuaikannya dengan dirimu," Venus membuka toples yang berisi kuaci dan menyodorkan isinya padaku.


"Aku bahkan belum memecahkan misteri pintu dalam rumah Kalian," aku mengambil segenggam kuaci.


"Hahaha, aku sangat menyarankan kau untuk tidak berpikir terlalu banyak jika itu tentang rumah seorang penyihir," ucap Venus.


"Wow, seseorang baru saja meralat ucapannya kemarin," aku mengangkat alisku bergantian.


"Oh!...Hahaha...," gelak Venus. Tidak dapat disangkal, pengguna sihir adalah penyihir."


"Aku pernah mendengar kadang orang-orang datang untuk meminta ramuan atau mantra sihir pada penyihir dengan tujuan tertentu, itu seperti memanfaatkan sihir untuk tujuan komersil dan memuaskan keinginan seseorang," ucapku.


Aku memisahkan antara kuaci gemuk dan kuaci kurus.


"Umm.. ya, aku pernah menjadi saksi untuk kekonyolan jenis itu. Masalah pacar, kau mengerti? Dia memintaku untuk menemaninya menemui seorang penyihir ternama di desaku dulu, Morpheus. Untuk "mantra pengikat" temanku itu mengatakan bahwa itu untuk melindungi pacarnya dari "voodoo emosional" mantan kekasihnya." Venus mengatakan semua itu sambil menambah kecepatannya dalam mengunyah kuaci.


"Lalu bagaimana?" aku semakin antusias.


"Morpheus memberi kami selembar kain usang dengan 'mantra pembeku, yang tertulis di atasnya. Dan kau tahu— kami juga harus berbelanja, itu melibatkan pembelian lidah sapi dari tukang daging, temanku mengirisnya, memasukkan sesuatu yang mewakili mantan kekasih, fotonya, dan menuliskan apa yang ingin dilakukan temanku pada mantan kekasihnya itu.—Venus memotong ceritanya dan minum.


Kemudian,—lanjutnya. Tulisan Morpheus menginstruksikan agar temanku menambahkan foto itu dengan campuran beberapa bahan makanan... Mustard untuk gangguan, lada merah dan hitam untuk membuat kata-kata buruk terbakar di mulutnya, cengkeh atau kulit kayu elm yang licin untuk menentang pembicaraan jahat, dan yang paling penting, tawas, untuk menghentikan lidahnya. Terakhir, jahit atau jepit lidahnya, bungkus dengan kertas timah dan masukkan ke dalam freezer," Venus menatapku lekat.


Aku berhenti mengunyah.