
...POV----------------MOONFLOWER...
〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Aku menyusuri jalan berkerikil yang menuju ke rumahku. Ranting-ranting pohon yang telanjang bergoyang tertiup angin dan udaranya cukup segar untuk melihat napasku, jika ada.
Hari itu disebut sebagai Festival Pasar Perawan , ketika sebuah area terbuka menjadi zona perang tawar-menawar dan juga rayuan bagi para pemuda dan pemudi yang mencari penawaran terbaik untuk jodoh.
Untuk sampai ke sana dari rumahku kami harus melewati bukit berhutan curam dengan pemandangan indah di atasnya. Demi hadiah yang saudariku idamkan, itu adalah seorang pria berambut cokelat yang tidak mengakuinya di depan umum.
Aku tahu ketika kehadiran kami terdeteksi oleh keheningan percakapan yang tiba-tiba, pria itu gugup, ia terkesiap saat mata saudariku menatapnya dengan air mata tertahan. Pria itu menghampiri saudariku dan berkata bahwa ia telah menemukan seorang gadis yang ia ingin hidup dengannya untuk selamanya, itu berarti perjalan kasih sayang mereka selama tiga tahun harus dihentikan. Lalu dengan mulut yang seolah tidak bersalah, ia meminta saudariku untuk berhenti berharap dengan sikap tubuh dan suara yang tenang dan sopan.
Sopan. Bagaimanapun juga, suara pria itu telah mengganggu sarafku.
Di hari itu, tidak ada kata-kataku yang berguna untuk menghibur hati saudariku. Air matanya tidak dapat aku hentikan. Rasa sakitnya menjalariku. Aku memutuskan untuk memberinya waktu untuk menenangkan diri, sendiri di ruangannya.
Dan aku memilih untuk memasuki satu ruangan terpenting bagi kami, menaiki tangganya yang basah. Dan sesampainya di atas, diantara bebatuan lebar dan rata. Langkahku berhenti. Jantungku berhenti. Menatap tonggak kosong di tengah ruangan.
"Tidak!" aku menutup mulutku yang terbuka.
Batu penjaga milik kami tidak ada di sana. Batu biru bercahaya, tanpa itu kami dan seluruh kedamaian akan berakhir. Aku berlari ke tempat aku meninggalkan saudariku, mengatakan semua yang telah aku lihat. Ia ternganga tidak percaya.
"Aku telah membawa pria itu ke sana beberapa hari yang lalu, ia mengatakan ingin melihatnya saja." Saudariku bercerita dengan suara bergetar. Tangisnya terhenti.
Malam larut, aku memutuskan untuk mendatangi kediaman pria itu seorang diri keesokan hari.
"Sayang, aku datang!" Aku berteriak keras, mempercepat langkahku.
Pada saat aku mencapai pekarangan kecil rumahnya, pintu depan terbuka dan seorang wanita yang aku lihat pria itu merayunya di Festival Pasar Perawan berdiri di dalamnya. Wajahku merentang menjadi senyuman yang terasa lebih seperti seringai. Tidak perlu lagi berpura-pura yang biasa, aku berada di bawah pengaruh iblis.
"Nona, halo kamu. Bisa suruh calon suamimu keluar?"
"Kamu tidak diterima di sini, Moon," katanya, seolah-olah dia pemilik tempat itu.
"Kamu, Nona. Sudah putus atau tidak sebuah cerita, aku masih memiliki banyak pembicaraan penting dengan pria itu. Jadi, kirim pria itu keluar, atau aku masuk."
Pria itu berdiri di ambang pintu, raut wajah matangnya berubah menjadi bidang yang keras dan tak terbaca. Hanya perlu sekali menatap matanya untuk mengetahui bahwa pria berambut coklat atau si wanita telah memerintahkannya untuk membunuhku.
Tekanan luar biasa yang tiba-tiba di leherku datang sebelum aku mencoba kesempatan untuk berlari, bukan berarti berlari akan ada gunanya. Tentu saja aku melawan, aku tidak membutuhkan pria itu untuk merobek kepalaku.
Secepat serangan yang mengerikan itu dimulai, secepat itu pula aku dapat membuatnya berhenti. Sebuah titik merah muncul di dahinya, darah kental yang lebih gelap berceceran di ambang pintu di belakangnya. Dia berlutut, ekspresi paling aneh di wajahnya saat dia perlahan-lahan melangkah maju.
"Tembakan yang bagus, Moon," gumamku, lalu berlari menuju pintu.
Satu peluru perak tidak akan membunuh pria itu, ia hanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, dan jika dia cukup beruntung ia akan tetap dapat duduk dan makan dengan baik setelahnya. Dan begitu itu terjadi, jika kita masih ditakdirkan untuk berjumpa kembali, kita akan bersulang. Janjiku padanya.
Ditengah ledakan rasa sakit yang dirasakan pria itu dan suara berderak yang tidak pernah ingin aku dengar lagi, aku melihat sekilas pria berambut coklat dan wanita tadi berlari berputar menuju pagar. Aku mengejar dengan kecepatan yang tidak mereka duga.
Pria itu terkejut dan berhenti berlari. Si wanita mundur mengambil jarak. Aku mengatur napas, tapi pria itu tidak ingin aku berbicara. Sebuah pukulan ia layangkan menuju kepalaku. Aku merunduk, tangannya yang pucat membentur dinding di belakangku, tapi kemudian sebuah besi mengenai sisi tubuhku. Wanita itu.
Aku tidak memblokir serangan dari depan dan samping. Bukan karena mereka melakukannya tanpa cara mematikan, dan itu bukan pilihan. Aku tidak ingin membunuh tanpa perhitungan atau pergi tanpa hasil. Dinding menghalangiku dari belakang dan orang yang marah memblokir jalanku. Yang bisa aku lakukan hanyalah berharap bahwa mereka akan berhenti menyerang dan memutuskan untuk berbicara sebelum kesabaranku benar-benar musnah.
Setelah beberapa saat merunduk, memutar, meninju, mengulang, mereka seharusnya menyadari sesuatu seperti yang telah mereka dengar. Aku sedang tidak bertarung seperti biasanya, diriku yang mematikan. Tapi pesan itu tidak sampai pada mereka seperti yang aku harapkan. Atau pria itu terlalu panik karena telah membawa pergi sesuatu yang tidak seharusnya ia bawa setelah berani menyingkirkan saudariku.
Sebuah ledakan terdengar dari arah rumah. Kami berhenti, dan segera melihat kebelakang dinding batu apa yang terjadi. Sebuah lubang besar berasap sekarang berada di bagian tengah tubuh pria paruh baya tadi. Saudariku dan bola api hitam.
Pria berambut coklat berputar untuk menilai ancaman baru ini, tapi aku menariknya kembali saat saudariku melompati reruntuhan jendela depan.
"Halo, semuanya!" Saudariku berseru. Dengan seringai buas, dia membuang bola api yang masih membara dari tangannya dan melompat ke arah si wanita di balik tembok.
Wanita itu bernapas cepat dan terisak. Memohon untuk nyawanya. Sedangkan pria berambut coklat memilih menjauh. Aku berusaha membantu, tapi satu-satunya cara yang aku bisa adalah dengan melumpuhkan saudariku. Haruskah?
Aku harus mendapatkan pria berambut coklat tapi aku harus meredakan amarah saudariku. Pilihan sulit. Ketika aku nyaris membuat keputusan, saudariku melesat cepat dan kembali. Kini pria dan wanita itu di dalam cengkraman tangan saudariku.
Ketika ia berhenti bergerak, dia melemparkan keduanya ke seberang ruangan dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya menghancurkan lemari porselen di sana. Di tengah suara kaca pecah, aku mendengar teriakan keduanya. Aku terpaku.
"Tunggu apa lagi? Keluarkan Maya dari sini!" Suara Magenta datang dari belakangku.
Apakah Magenta mengira aku berhenti untuk mengecat kukuku? Aku sibuk mencoba menangkis upaya saudariku untuk memisahkan kepalaku dari bagian tubuhku yang lain. Ia telah dikuasai ruh pemilik api hitam. Putri Owanna.