LUCEM

LUCEM
Chapter LX



Sebuah ruangan di balik pintu adalah ruang makan dengan kursi yang cukup untuk semua orang. Para tikus berjajar di sebuah kursi hijau memanjang dan sebuah meja yang serupa di depannya. Sementara aku, Marbella, Moonflower, Magenta dan Venus sendiri duduk di kursi kayu dengan bantalan yang dilapisi kain bewarna coklat, duduk mengitari meja lonjong yang mengekspos urat-urat kayunya dengan indah . Sebuah lampu gantung di langit-langit masih menyala.


Venus datang dengan setumpuk besar panekuk kecoklatan dan aku tahu warnanya akan memberikan rasa. Sebagai seorang laki-laki aku lebih mendambakan panekuk keemasan seperti buatan Moonflower. Kami mungkin telah membuat pria Venus itu sangat repot di pagi hari, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak menemukan arah dapur meski aku telah berusaha, sehingga tidak dapat menawarinya sebuah bantuan atau mendorong Moonflower ke sana untuk memegang spatula menghadapai adonan emas yang menggelembung di wajan.


Secara bergilir setiap orang mulai mengambil panekuk bagiannya. Aku meletakkan panekuk di atas piring putih, mengoleskan sedikit mentega dan menyiramnya dengan sirup. Sekarang panekuk ini terlihat sempurna untuk di kunyah. Tapi sebelum itu aku meminta maaf dalam hati pada Venus untuk sedikit komentar tentang warna gelap dalam hidangannya. Aku tahu permintaan maaf jenis ini dihargai, tapi tidak diharapkan. Aku mengangkat garpuku. Sarapan adalah cinta.


Meninggalkan Moonflower dan pasukan tikus untuk berbincang-bincang dengan pria Venus di ruang makan. Magenta memintaku dan Marbella untuk mengikutinya ke ruangan lain. Memasuki sebuah pintu. Eh, berapa banyak pintu di dinding?


Entah mengapa begitu memasuki pintu aku merasa kecewa, mendapati ruangan bewarna hijau lembut dengan gambar tanaman rambat lagi. aku berharap sebuah teka-teki, sebuah perasaan horor yang mendorong tubuh ke batas tertentu, merasakan detak jantung yang berpacu, dan upaya menjaga kewarasan agar tidak berteriak. Apa aku telah mendoktrin diriku salah tentang gambaran penyihir? Atau Magenta adalah jenis penyihir yang bukan penyihir? Tidak ada jejak lumpur hijau lengket, tidak ada kulit ular dan katak, tidak ada tungku besar atau kendi-kendi. Secara keseluruhan rumah ini terlalu bersih.


"Mars," suara Magenta memotong pengamatanku.


"Ya?" Jawabku segera.


"Kemarilah...," Suaranya seperti magnet yang langsung menarikku cepat ke hadapannya.


"Aku akan menggoresmu, sedikit," ucapnya.


Aku menatap Marbella. Kakakku hanya mengangkat sebelah alisnya. Aku menyerahkan tanganku untuk Magenta tanpa berkata-kata. Aku membiarkan diriku menarik napas, memejamkan mataku sedetik penuh. Saat aku membuka mata pada detik berikutnya, aku melihat darah mengalir keluar dari kulitku, tanpa rasa sakit hanya perasaan terkejut. Dengan telapak tangannya ia mengusap darah yang membasahi punggung tanganku. Magenta beralih menatap Marbella. "Kau ingin melihatnya?"


"Aku tidak sabar lagi," jawab Marbella dengan menggosokkan kedua tangannya.


Magenta tersenyum lalu melepaskan tanganku perlahan. Aku terkejut! Sangat terkejut.


Seutas tali bekilau oleh cahaya menghubungkan tanganku dan tangan Magenta. Perlahan Magenta melangkah mundur dan untaian tali memanjang, membentang diantara kami.


Marbella melangkah mendekat dengan mulut terbuka, ia berlutut dan menyentuh tali cahaya... Itu bergetar, menimbulkan sensasi geli di punggung tanganku. Marbella tertawa senang, cahaya berkelip bersama binar di matanya.


" Luar biasa!" Ucap Marbella, kembali berdiri.


"Apa kegunaan tali ini?" tanyaku.


Magenta melepas tali dari tangannya, tali cahaya itu bergerak liar seperti seekor cacing yang menggila, lalu dengan cepat memasuki tanganku. Aku tersentak dan bersegera memeriksa tanganku. Tidak berbekas.


"Kau dapat mengendalikan cahayamu sendiri sekarang," Magenta tersenyum penuh arti.


Aku benci mengakui bahwa aku tidak ingin tebakan lain, aku ingin jawaban. Tapi kata-kata itu hanya bisa aku teriakkan di kepalaku. Magenta kembali mengajak kami melewati pintu. Kini kami kembali berada di lorong dengan kursi-kursi tanpa meja.


"Dimana pintu ruang makan?" tanyaku.


Aku ingat memasuki ruang makan hanya butuh berjalan beberapa langkah dari barisan kursi. Tapi kini pintu itu tidak terlihat di sana.


"Wah, aku sangat tertarik dengan itu," Marbella dengan antusias mengikuti langkah Magenta.


Aku seperti manusia transparan, berjalan mengikuti kedua wanita di depanku. Beberapa kali aku menoleh ke belakang dan mengingat-ingat letak pintu demi pintu yang ada di dinding. Aku menunjuk salah satu pintu sebelum meninggalkan rumah melalui pintu utama.


Marbella dan Magenta memasuki pekarangan yang ditumbuhi beragam tanaman dan bunga. Penuh warna. Fantastis.


Jika mereka telah memiliki begitu banyak tanaman dan bunga, juga tidak sedikit diantaranya yang merambat ke sana kemari lalu untuk apa mereka masih menempelkan gambar tanaman yang menjulur di setiap ruangan di dalam rumah? Selera yang berlebihan. Pikirku.


Aku berhenti untuk mengamati sebuah bunga yang berwarna merah dan kuning seperti pita bergelung, daunnya berwarna hijau meruncing, dan aku menemukan bijinya yang dibungkus oleh buah kapsul, sangat unik. Dan pemandangan itu lagi, batang yang merambat panjang, aku menebak setidaknya itu sekitar lima meter. Beberapa bunganya menjulur keluar dari sela-sela pagar. Sungguh menarik perhatianku.


"Gloriosa superba mungkin terlihat tidak berbahaya, tapi racunnya lumayan mematikan... terutama pada umbinya," ucap pria Venus yang entah datang dari mana.


"Oh!" itu jenis 'oh' terkejut yang tidak nyaman.


Aku mulai merasa rumah ini memang milik seorang penyihir, dan aku baru menyadari bahwa aku tidak terlalu suka sensasi terkejut seperti apa yang baru saja terjadi. Mungkin kejutan tidak begitu sesuai untuk jantungku yang mudah melorot. Aku bersyukur Magenta bukanlah jenis penyihir khayalanku. Terkadang kenyataan lebih indah dari harapan. Aku mengusap dadaku untuk menenangkan jantungku yang sempat melompat.


"Maaf, mengejutkanmu," ucap Venus sopan.


"Ah, tidak.. aku hanya tidak menduga seseorang akan muncul di saat-saat genting," ucapku dengan menunjuk pada bunga merah di tanah.


"Oowh... Ya, genting yang seperti apa?" tanyanya dengan wajah serius.


"Umm.. ya, bukan genting yang sebenarnya tapi kau datang pada waktu yang tepat. Seseorang yang bisa menjelaskan padaku tentang bunga itu, aku hanya sangat ingin tahu apa yang membuat bunga itu layak berada di taman seorang penyihir,"


"Penyihir?" Venus mengangkat alisnya heran.


"Maksudku, nyonya Magenta," aku mengarahkan pandangan sekilas ke tempat wanita itu berada.


Venus tertawa. "Dia memang memiliki beberapa keajaiban, tapi untuk menyebutnya sebagai penyihir aku masih berpikir ulang."


"Kenapa?" tanyaku.


Venus mengangkat kedua bahunya. "Dia terlalu cantik untuk di sebut sebagai penyihir."


Aku tahu arah kalimat pemujaan jenis ini.


"Oke, aku kadang juga tidak yakin pada kakak kucingku atau teman burungku untuk menyebut mereka sebagai penyihir. Jujur saja, aku tidak benar-benar mengenal apa itu sihir atau penyihir selain dari buku-buku fiksi yang aku baca," ucapku.


Aku rasa aku telah berkompromi terlalu banyak tentang sihir dan penyihir. Sudahlah.