
*******
TarNow menjentikkan jarinya, gelombang udara menyentak dan ia melesat melewati tubuh Marbella seperti udara dan mendorong mundur jauh sosok itu.
“Apakah kau benar-benar berpikir bisa mengalahkan ku, Owanna!?” suara TarNow berdesis nyaring.
Cairan kehitaman mengalir dari kedua sisi telinga sosok yang dipanggil Owanna itu, begitu juga dari sudut bibirnya yang terkatup rapat dan mengeras.
“Tidak akan lama lagi, kalian akan menyaksikan kekuatan rajaku yang sebenarnya. Kematianmu akan menyakitkan, TarNow, HAHAHAHAHAHA...!!” mulutnya terbuka memperlihatkan giginya yang runcing dengan cairan hitam lengket yang menggenang hingga keluar, perlahan sosoknya menguap menjadi gumpalan gelap yang berputar-putar bersama angin.
TarNow menggerakkan kedua tangannya dan.. “Rakhzsaa...,” gelombang angin kembali menyapu dan menggulung gumpalan gelap yang tengah mengitari Marbella, jeritan kesakitan yang melengking tajam terdengar sesaat dan lenyap bersama Owanna. Marbella tersungkur.
*******
Angin berhembus tidak biasa, Sisi tetap berdiri mematung mengawasi jalanan setapak yang mengarah ke rumah ini. Ia bahkan tak bergeming saat aku menghampirinya dan bertanya.
Mengawasinya dari jendela kotak di sebelah pintu utama. Perasaanku menjadi gelisah sejak kemunculan Sisi yang tiba-tiba. Aku tidak tahan lagi dengan kesunyian ini. Aku beralih pada Moonflower yang duduk dengan memegang sebuah buku di tangannya.
”Kapan, Marbella akan pulang?” tanyaku.
Moonflower memanjangkan lehernya untuk mengintip keberadaan Sisi atau jalanan, aku mengikuti arah pandangan Moonflower dan kembali padanya.
”Di siang hari, dia akan pergi ke toko makanan, tukang daging dan kadang singgah di toko buku,” jawaban wanita ini sama sekali tidak membuat kegelisahan ku mereda.
Aku bergerak menuju pintu dengan tergesa.
“ Tiga puluh menit! Marbella akan sampai di rumah dalam tiga puluh menit lagi,” suara Moonflower menghentikan langkahku.
“Benarkah?”
“Ya,” wanita itu berpaling dan berjalan menuju ruangan lain.
Aku kembali menempati posisi untuk melihat keberadaan Sisi, ...dia menghilang. Darahku berdesir aneh. Aku berusaha menjejali jendela untuk mencari keberadaan Sisi di teras yang tidak begitu luas itu.
“Untukmu,” Moonflower telah berdiri di belakangku dengan secangkir teh chamomile di tangannya.
“Terima kasih,” aku mengambil cangkir dari tangannya dan berjalan menuju kursi.
“Aku memiliki ribuan pertanyaan untukmu dan aku akan memulainya,” aku meletakkan cangkir di meja.
Moonflower duduk mengisi kursi tunggal. “Silahkan, Mars.”
“Sudah berapa lama Marbi mengenalmu?”
“Sejak pertemuan pertama kita di alun-alun kota.” ia tersenyum tipis.
“Gadis gila bergaun hitam, kau kah!?” aku memandangnya setengah tidak percaya.
“Kau yang gila!” sergahnya.
“Jika saja saat itu kau membiarkanku membeli kucing manusia itu, maka kalian tidak perlu terpisah begitu lama,” nada suaranya menyalahkan ku.
Sejenak kemudian suara langkah kaki terdengar dari luar. Terlihat bayangan Marbella, aku bangkit dari kursi, bersegera menuju pintu dan membukakan untuknya.
“Kau pergi terlalu lama, Marbi,” aku mengambil alih beberapa kantung belanja dari tangannya.
"Kau merindukanku?” godanya.
“Beberapa pakaian baru untukmu, lihatlah... aku harap aku mendapatkan ukuran yang pas untukmu,” Marbella menunjuk salah satu kantung belanjanya.
Aku mengeluarkan isinya. “Aku akan mencobanya.”
Marbella mengangguk, dan aku meminta Moonflower untuk menunjukkan ruangan untukku.
Beberapa pasang pakaian, semuanya memiliki ukuran yang tepat untukku, Marbella memilki pandangan yang sangat baik. Aku telah mencoba semuanya dan memakai salah satunya untuk diperlihatkan.
“Pria tampan, kau adalah menuju delapan belas tahun dan terlihat menawan, Mars,” Marbella sedang memuji adiknya, aku.
Aku tersenyum senang. “Terima kasih.”
Lalu menjadi beberapa perbincangan kecil setelahnya.
“Aku akan beristirahat, kau juga, Mars,” ucap Marbella sembari bangkit dari tempat duduknya.
Aku mengangguk, sejujurnya aku sangat rindu berbaring untuk mengistirahatkan tubuhku yang terasa letih di setiap bagiannya. Aku berlalu menuju ruangan yang akan menjadi kamarku. Marbella telah lebih dulu berjalan masuk ke kamar lain bersama Moonflower yang menuntunnya seperti seorang pasien. Pemandangan yang sedikit aneh, aku ingin bertanya tapi aku memilih untuk menundanya.
*******
“Iiiiissshh, tolong lebih perlahan,” Marbella meringis menahan sakit, saat tangan Moonflower mencoba membersihkan lukanya dan membubuhkan bubuk obat di sana.
Moonflower mengangguk kecil, tangannya terus bergerak dengan cekatan menangani luka sayat yang terdapat pada wajah Marbella.
“Aku harap ini tidak akan berbekas,” ujarnya pelan.
“Aku masih sangat muda dan kulitku akan beregenerasi dengan baik,” balas Marbella.
“Hmmm.. apa kau ingin menceritakannya?”
“Ya, tapi tidak hari ini, Moon.”
“Aku mengerti,” Moonflower merapikan kotak obat dan beranjak untuk menyimpannya kembali.
“Aku akan berjaga di luar, pasukan tikus tidak sepenuhnya waspada saat ini,” Moonflower pamit pada Marbella.
“Baiklah,” Marbella membaringkan tubuhnya perlahan dan memejamkan matanya.
Moonflower berjalan ke teras dan menuruni anak tangga menuju halaman. Langkahnya sedikit tergesa, berjalan mengitari pekarangan dan sisi rumah seraya mengayunkan tangannya sesekali. James dan Jiso mengawasi apa yang tengah Moonflower lakukan tanpa bersuara. Dua tikus berpengalaman itu mulai membaca situasi.
*******