LUCEM

LUCEM
Chapter XXXI



"Selamat pagi, Mars," sapa Moonflower saat mataku terbuka.


"Eh! Aku masih di halaman depan?"


"Minum ini lalu bersihkan dirimu!" Moonflower menyerahkan secangkir coklat yang masih hangat dari genggamannya dan berlalu meninggalkanku.


Selimut menutupi bahu dan punggungku. Tampaknya aku yang tertidur semalaman di luar sini. Aku merapatkan selimut dan menikmati coklatku dan menghirup segarnya udara pagi.


"Senang melihatmu menikmati tidur di alam, Mars," suara langkah Marbella mendekat.


Di tahun 1929, ada seorang atlet yang memiliki ucapan bagus, mau dengar?" Tanya Marbella.


Aku mengangkat kepalaku menatap Marbi.


"Pria itu berkata: Setiap pagi seekor kijang bangun di Afrika. Rusa tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat, atau ia akan mati. Setiap pagi di Afrika, seekor singa bangun. Dan dia tahu bahwa dia harus berlari lebih cepat dari kijang yang paling lambat, atau dia akan kelaparan," Marbella mengucapkan kata-katanya sembari berjalan mondar-mandir di hadapanku.


"Jadi, apa maksudnya?" Tanyaku.


"Itu memiliki arti bahwa, tidak masalah apakah kau kijang atau singa; Namun... Saat matahari terbit, lebih baik kau berlari," Marbella membalikkan badannya dan menarik selimutku. Udara pagi serta-merta menerpaku, segar tapi dingin. Aku menekuk lutut.


"Ah, baiklah... aku akan bersiap sekarang dan tolong jangan merebut jatah kijangku selagi aku mandi," aku menyerahkan sisa coklat di cangkir ke tangan Marbella. Ia menerimanya dan langsung menyeruput habis sisanya, lalu mengembalikan cangkir kosong ke tanganku dan berlari kecil meninggalkanku.


"Sapi."


Aku beranjak masuk, terlihat Maria dan Moonflower bersenda gurau di dapur sembari menyiapkan beberapa hidangan saat aku meletakkan cangkir pada bak cuci piring kotor.


Melewati ruangan lain suasana terlihat lengang. Aku tidak melihat James, Jiso dan pasukan tikus, mungkin mereka lebih nyaman berada di luar rumah, jarang sekali melihat mereka berkeliaran dalam ruangan seperti dulu ketika kami masih tinggal di pegunungan. Aku berlalu ke ruang mandi untuk membersihkan diri.


"Apa kau sudah merapikan dan menyiapkan keperluanmu untuk perjalanan kita, Mars?" tanya Marbella saat kami sarapan bersama.


Aku mengangguk.


"Maria akan ikut bersama kita," sambungnya.


Aku tidak menyangka itu, tapi bukankah Marbella tidak ingin orang lain mengetahui banyak hal tentang kami selama ini? Aku menatap Maria sekilas dan melanjutkan sarapanku.


Marbella menemui pasukan tikus setelah menyelesaikan sarapannya. Moonflower menyusul di belakang. Mereka terlihat melakukan percakapan serius. Aku memilih untuk kembali ke kamar dan memeriksa barang-barang yang perlu kami bawa.


"Berhati-hatilah di perjalanan dan lekas kembali," pesan Moonflower saat melepas melepas kepergian kami.


Dengan menyewa sebuah kereta, kami menuju pegunungan, tapi bukan untuk kembali ke rumah kami. Perjalanan terasa cukup lancar dan tenang walau beberapa kali keluhan terlontar dari mulut Maria saat kereta melewati jalan berlubang atau berlumpur. Gadis kota.


Kereta berhenti di jalan yang tidak asing bagiku. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pohon besar. Tidak mengetahui pasti apa alasan Marbella kembali memilih tempat yang sama selain pemandangannya yang indah dari atas sini. Kota Ahem dengan kelap-kelip cahaya lampunya yang memukau kala malam. Maria terlihat agak terkejut mengetahui tempat tujuan kami. Yang sedikit berbeda hanya kami sekarang memiliki dua buah tenda yang dapat melindungi kami dari udara dingin dan perubahan cuaca.


"Berapa lama kita akan berada di sini, Marbella?" Tanya Maria memecah kesunyian.


"Hingga pria kecil itu menguasai hal baru, lagi," jawab Marbella.


"Beristirahatlah, aku yang akan memasak," ucap Marbella dengan memberikan sebuah buku kecil ke tanganku.


Aku menerima buku itu dan berjalan menuju pangkal pohon terbesar yang ada di sini. Udara mengisi paru-paruku, matahari tidak begitu terik siang ini, hanya perutku yang sedikit keroncongan. "Apa semua buku sihir memiliki sampul indah seperti ini?" gumamku membolak-balik buku kecil yang ada di tanganku. Buku bersampul coklat dengan ukiran emas, ada sebuah huruf 'G' timbul pada bagian tengah sampulnya. Sibuk mengagumi sampul buku tanpa sadar aku jatuh tertidur.


_________________


"Gunakan segala cara untuk mengabariku jika sesuatu yang genting terjadi selama kami pergi," pesan Marbella pagi itu pada Moonflower sebelum meninggalkannya.


"Dan gunakan seluruh dayamu untuk bertahan," sambungnya.


"Jangan khawatir," Moonflower menjawab.


Setelah selesai sarapan dan mengantarkan Marbella, Mars dan Maria hingga ke pagar, Moonflower kembali menaiki teras, menemui James, Jiso dan seluruh pasukan tikus.


"Kita tidak boleh lengah," Moonflower mengingatkan.


Semua tikus menjawab mengerti.


Moonflower memasuki rumah dan perlahan kabut menutupi keberadaan rumah itu. Kembali ke ruang dimensi.


_____________________


Mars menggeliat malas ketika matahari dengan nakal menerpa wajahnya yang sedang tertidur pulas.


"Hahha, matahari tahu waktunya makan siang, tawa Maria.


"Ayo!" Ajaknya dengan isyarat tangan.


Aku mendekat dan duduk pada alas yang telah dibentangkan, makan siangnya terlihat lezat, seperti di rumah. Aku tidak tahu sejak kapan kemampuan memasak Marbella meningkat.


"Makan siang lezat di alam, ini bagus untuk di kenang," celetuk Maria diantara suapan.


Marbella terlihat tekun dengan santapan di hadapannya, dan aku tidak berniat menimpali ucapan Maria. Gadis itu tersenyum sendiri, entah apa yang ia ingat.


"Setelah makan kau benar-benar harus mulai membaca catatannya, Mars," ucap Marbella mengingatkan.


"Okay, Marbi," sahutku.


"Boleh aku ikut melihat bukunya?" tanya Maria.


Marbella menjawab cepat. "Tidak."


Terlihat raut kecewa di wajah Maria.