LUCEM

LUCEM
Chapter LI



"Dia tidur?" tanyaku.


"Ya, hampir tiga hari," jawab Moonflower.


Moonflower mengusapkan cairan hijau kental pada bibir Maria dengan jejak darah yang mengering. "Bagaimana keadaannya?"


"Kau menyebut namanya saat terbangun tadi, apa kau melihatnya dalam tidurmu?" tanya Moonflower.


Aku terkejut Moonflower memiliki tebakan itu, aku kembali menggali ingatan tentang mimpi yang aku alami. "Ya, Maria di sana, aku—."


Terasa sulit untuk menemukan awal dari mimpi itu, aku tidak menemukan kata-kata yang sesuai.


"Dia berbicara padamu, apa yang dia katakan?" Moonflower menunggu jawabanku dengan menengadahkan kepalanya miring.


"Dia tidak mengatakan apapun, selain menyebut namaku sekali, ya.. hanya sekali. Tapi dia menetap di dalam pikiranku lama dengan cara yang aneh," ucapku setengah bergumam.


Moonflower memperhatikanku beberapa saat. Membiarkanku kembali menjalin ingatan yang terputus-putus, kemudian berkata, "Apa atau siapa yang kau lihat di sana?"


"Seorang anak kecil, seorang wanita dan seorang pria," aku kembali terkejut menyadari itu. "Tuan Adam! Dia adalah anak itu, berbicara tentang burung dan seorang pria yang menjadi kekasih ibunya, aku melihat pria itu satu kali, tuan Grimo... dan Jhonatan, dia menyebut nama itu sebagai anak lain, apakah menurutmu itu Jhonatan yang sama?" aku menatap wajah Maria lalu Moonflower.


Raut wajah Moonflower tidak baik. Ia berdiri dan menarik tanganku untuk mengikutinya keluar dari kamar Maria. "Jangan sampai tertidur," ucapnya di depan pintu kamarku.


Moonflower meninggalkan ku dan kembali memasuki kamar Maria, menutup pintunya. Aku telah melihat yang harus dilihat. Aku melongok sekilas ke dalam kamarku, Marbella masih dalam posisi yang sama. Aku berbalik menuju halaman.


Anginnya tidak bergerak banyak, terlalu diam, tapi udaranya terasa dingin menyegarkan. Sebuah tenda berukuran sedang bewarna kuning terang diantara gelap malam menarik perhatianku.


*******


Jimmy melangkah mendekati Superman yang meringkuk seperti tikus kedinginan di kursi. Menghindari tatapan tidak percaya dari rekan-rekannya. Tapi Jimmy mendekat untuk hal lain. Ia meraih sebuah liontin hitam yang menyembul dari kantong celana Superman.


"Hey..!" Superman berseru. Berusaha meraih liontin itu dari tangan Jimmy.


Jimmy berbalik dan menghindari tangan Superman yang terjulur. Mengamati benda ditangannya dengan seksama.


"Darimana kau mendapatkan ini?" Jimmy mendorong liontin itu kehadapan Superman.


"Seseorang memberikannya untukku, kembalikan!" pintanya.


Suasana di dalam tenda telah berubah, menekan. Jimmy tampan terlalu serius malam ini, rekan-rekannya melihat itu sebagai bukan kebiasaan, Jimmy biasanya santai dan ringan. "Superman?" ia menunggu jawaban.


"Aku berjalan-jalan di luar pagar dan seseorang melemparkan liontin itu begitu saja ke hadapanku," balas Superman.


"Aku membenci pertengkaran dengan rekan, juga kebohongan," Jimmy tampan memegang belati di tangannya.


Superman menempel erat di kursi, mengambil jarak dengan ujung belati Jimmy yang berkilauan. Dadanya bergerak naik turun dengan jelas. Tidak ada rekan tikus yang menyela, Superman harus memberikan sesuatu yang dapat meyakinkan Jimmy.


"Nenekku, Cloudy.... kau ingat, dia seorang penulis. Aku mengunjunginya setelah kepulangan kita sebelumnya, dan mendapatkan liontin ini darinya. Aku berkata jujur kali ini, dapatkah kau menjauhkan belatimu, aku mohon," Superman memelas.


"Teruskan!" Jimmy tidak mengurangi jaraknya sama sekali.


"Nenek Cloudy mengatakan bahwa tikus kecil mungkin berasal dari tikus besar, dan tikus besar memberikan liontin itu pada nenekku untuk diberikan padaku. Nenek mengatakan bahwa temannya akan mengenali ku sebagai cucunya jika aku memperlihatkan liontin ini saat kita memasuki kerajaan pada pengawas. Itu kemudahan dan keistimewaan. hanya itu yang aku tahu," Superman menyeka keringat yang mengalir mendekati matanya.


Jimmy menarik belatinya turun. "Aku akan menyerahkan liontin ini pada nona Marbella."


Jimmy memasukkan liontin itu ke dalam kantung yang menggantung di pinggangnya saat Mars menyapa 'halo' dan menyibak tenda untuk masuk. Jimmy melempar tatapan untuk kesepakatan yabg tidak perlu diucapkan pada rekan-rekannya.


Jimmy menyambut Mars ramah. Ketel listrik berbunyi nyaring dan mengepul. Superman menjatuhkan beberapa kantong teh ke dalam teko porselen putih dan mengisi perut teko itu dengan air panas dari ketel. Dia kemudian membungkus teko dengan handuk dan menyerahkannya kepada seekor rekan tikusnya yang berdiri menunggu. Mereka berdua membawa semuanya ke sudut ruangan yang telah diisi Mars dan rekan-rekan tikus yang menunggu. Tidak ada yang besar, hanya sekelompok kursi dengan beberapa meja rendah di tengah. Sisa ruangan dipenuhi dengan aktivitas. Banyak bicara dan bergaul. Perbincangan hangat di temani teh buatan Superman.


Superman bergerak sibuk. Dia benar-benar menyukai semua ini. Dia mengatur ulang rengginang-rengginang yang sudah dia atur di atas piring, dan merapikan serbet kertas. Ia menatapnya dengan ekspresi yang sama setiap malam. Mengamati dan mengagumi kerja tangannya sebelum akhirnya mempersilahkan semua orang untuk memakannya.


Teh, kue... tidak, malam ini hanya ada teh dan rengginang. Kue dan biskuit telah menghilang, penelusuran terhenti.


Tenda dipenuhi suara rengginang yang bersahutan. Sam tikus masuk dan bergabung. Sejenak Mars yang berdiri duduk kembali, tertegun. Lalu kembali tersenyum dan membaur.


Superman menuangkan teh pada cangkir-cangkir kosong.


Sam mengeluarkan termos dari sakunya dan menimbangnya di tangannya sebelum mengulurkannya pada Mars. "Mungkin Anda harus memiliki ini malam ini," katanya.


Mars membuka tutup termos dan melotot padanya. "Moonflower akan membunuhmu."


Tikus-tikus tertawa, pria yang berkumpul dan bermain hingga larut. Ketel telah dipanaskan berulang kali dan menjerit. Superman selalu tersenyum riang seperti pemilik kedai yang beruntung mendapatkan labanya setiap malam. Hingga akhirnya pesta kecil mereka usai. Mars kembali menuju kamarnya dan mendapati tikus James di sana, tertidur pulas di kursi sudut ruangan. Mars tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk tikus tua itu tanpa membangunkannya, jadi Mars memutuskan untuk membiarkannya saja.


Marbella tidak merubah posisi tidur sama sekali. Begitu nyenyak.