
Pasukan tikus tengah berlatih di halaman belakang.
Superman melihat sekeliling halaman, lalu mengintip ruangan dengan hati-hati dan kemudian memberi isyarat kepada beberapa tikus prajurit yang sedang beristirahat di dahan sebuah pohon untuk menarik tali ke atas. "Tidakkah menurutmu ini saat yang tepat untuk pergi!?" kata Superman begitu ia mendudukkan dirinya.
"Mengapa kamu membuat wajah seperti itu?" kata Superman pada seorang rekan yang menatap dirinya dengan dahi berkerut.
"Yah, aku tipe yang membuat, kau tahu, wajah-wajah aneh," jawab rekan tikus itu putus asa.
Oh ... yah, kamu tahu jenis kucing yang selalu menyeringai? Dia mungkin bisa mendengar ucapanmu barusan itu?" Balas rekan tikus yang duduk paling jauh.
"Kadang-kadang saya hanya meledak dan mengatakan hal-hal secara spontan, begitu saja, lihat, saya melakukannya lagi. Ini adalah penderitaan. Saya mungkin perlu konseling oh tidak jangan lakukan itu ini bukan waktunya untuk melakukan itu ups, ini dia lagi…" Superman membuat-buat alasan atas perkataannya.
Beberapa rekan tikus hanya menatap sinis Superman, sebagian lain berpikir tikus itu mungkin sedang bosan saja.
Sadar tidak mendapat sambutan, Superman melompat turun dari pohon. Melambai santai seolah tidak pernah mengatakan apa-apa, Superman meninggalkan rekan-rekannya yang masih terlihat betah berlama-lama di atas sana.
Superman menarik topi dari ranselnya.
Dia memegang tongkat kecil dan mulai menari. Itu adalah rutinitas yang baik. Siapapun harus mengakuinya.
Sepasang mata kucing milik Marbella mengawasinya. Dia telah menatap tikus Superman itu terlalu lama. Hingga ia merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menari bersama tikus super itu.
Superman berbalik dan mulutnya terbuka kaget dan ngeri saat Marbella dalam wujud kucing masuk ke rutinitasnya. Kucing itu melihat tangan Superman meraih belati kecil yang ada di selipan sepatunya. Dia melemparkannya, sangat akurat. Tapi Marbella adalah penghindar lemparan pisau yang baik.
"Aha..., Kau mendapatkan alasan yang tepat untuk melemparkan belatimu padaku ya?" Ucap Marbella dengan seringai khasnya.
Superman menjadi gugup. "Ti—tidak, aku... Kau.. maksudku karena Nona Marbella muncul tiba-tiba sungguh mengagetkanku."
"Oya!? Kalau begitu maafkan aku," ujar Marbella semakin mendekat.
Superman bergerak mundur, menjauhkan ekornya dari cakar kucing itu.
Marbella melemparkan panci yang ada di meja ke arah Superman. " Ups, maaf... Tanganku tidak sengaja."
"Aku— ya... Tidak apa-apa, Nona," sahut Superman. Berhasil menghindari panci, lututnya semakin bergetar.
"Ah ya.... Tikus-tikus memang terbiasa dilempari benda-benda, kan?— Marbella melemparkan sebuah sendok makan ke arah kaki Superman. Aku ingat, melihat Jiso beberapa kali memberi kalian latihan berlari juga melibatkan panci atau garpu dan kadang juga pisau."
Marbella terus bergerak mengikuti Superman, ia memasuki ruang belakang yang pintunya terbuka lebar. Marbella melemparkan sebuah piring ke arah Superman. Tikus terlatih itu melompat ke kursi dan kemudian melompat ke lantai dan kemudian dia menghindar ke belakang meja rias lalu menghilang di sana.
Sunyi. Marbella mematung menunggu sebuah gerakan. Tiba-tiba sebuah suara yang nyaring dan tajam dari benda besar yang terjatuh.
"Hah!" seru Marbella.
Moonflower serta Maria menatap lemari.
”Tikus!? Oh... Itu tikus kita," Maria berseru.
"Bukan, itu pasti tikus, maksudku liar... ya, tikus liar," kata Marbella. " Tikus-tikus kita tidak pernah menyerang ku dengan belati."
"Dia pasti menyebut dirinya Superman karena dia melihat nama itu di sebuah poster film tua dan berpikir itu kedengarannya bergaya," ucap Marbella lagi.
Maria bertanya-tanya apakah dia berani melihat ke belakang lemari. Dan akhirnya dia mengintip, sedikit. "Dia tikus yang tidak baik."
"Apa dia memakai barang make up mu?" Tanya Marbella.
"Permisi, apakah kau sedang marah, Marbella?" Moonflower bertanya.
Marbella lagi-lagi hanya menyeringai.
"Jaga dia untukku, aku memiliki urusan lain," ucap Marbella.
Kembali ke wujud manusia, Marbella melangkah meninggalkan Moonflower, Maria dan seekor tikus untuk mereka tangani.
"Halo?" kata suara kecil. Itu datang dari balik lemari.
"Dia seharusnya tidak hidup,kan!? Ini jebakan besar! Dia punya gigi!" Maria berucap suara tinggi.
"Apakah seseorang di sana? Apa dapat menolongku? Aku masih hidup, hanya tongkatnya yang bengkok…"kata suara itu.
Lemari itu sangat besar, kayunya sangat tua sehingga waktu telah mengubahnya menjadi hitam dan menjadi padat dan berat seperti batu.
"Itu bukan tikus yang berbicara, kan?" Tanya Maria pada dirinya sendiri.
"Tolong beritahu aku tikus selain tikus kita seharusnya tidak bisa bicara!"
"Aku tidak menduganya, kau masih tidak terbiasa dengan tikus yang berbicara, eh," Moonflower menggeleng.
"Tidak... Kau harus melihat dia, Moon. Tikus ini bukan tikus mungil lucu seperti yang kita bayangkan," ucap Maria.
Moonflower menyipitkan mata ke ruang di belakang meja rias. "Aku bisa melihatnya," katanya. "Tongkat terjepit di rahangnya saat lemari jatuh menimpanya, aku rasa begitu."
"Wotcha, Superman, apa kabar?" Sapa Jiso. Seperti kebiasaan untuk muncul tiba-tiba.
"Baik, Pak," jawab Superman dengan suara yang keluar dari urat yang menegang di pangkal lehernya, dalam kegelapan. "Jika bukan karena jebakan lemari besar ini, saya akan mengatakan semuanya sempurna. Dapatkah Anda membantu saya, Pak. Apakah saya sudah menyebutkan bahwa ada tongkat bengkok yang mengganjal bawah daguku, Pak?"
"Ya, katamu." Balas Jiso.
Suara tersengal Superman terdengar. "Ini mengeluarkan suara deritan, Pak."
Jiso meraih salah satu ujung lemari dan menggerutu saat dia mencoba untuk memindahkannya tapi lemari tua itu tidak bergerak. "Ini seperti batu!" dia berkata.
"Ini penuh dengan barang pecah belah," kata Maria, sekarang cukup bingung.
"Minggir!" Suara Marbella.
Mars meraih tepi belakang lemari dengan kedua tangan, dan menahan satu kaki ke dinding, dan mengangkatnya. Pelan-pelan, seperti pohon hutan yang perkasa, lemari itu bergerak maju. Barang pecah belah mulai berjatuhan saat terbalik, piring terlepas dari piring lainnya seperti satu kesepakatan kacau balau. Meski begitu, beberapa dari barang pecah belah itu selamat dari jatuh ke lantai, begitu pula beberapa cangkir dan piring saat lemari dibuka, memberi sedikit kesenangan, tapi itu tidak ada bedanya karena kemudian kayu besar dan berat itu bergemuruh.
Satu piring secara ajaib berguling melewati kepala Mars, berputar-putar di antara kakinya dan semakin rendah di lantai dengan suara groiyuoiyoiyooooinnnnggg dan Moonflower menahan gerakan tubuhnya dalam keadaan menyedihkan. Tangkapan tanpa hasil.
_______________
"Akh... membuatku pusing, tikus bodoh," gerutu owanna. Tangannya memegangi kepalanya.
Owanna lain memukul kepala owanna yang tengah kesakitan. "Bodoh, cepat kembali... kau akan celaka!"
Owanna memperlihatkan gigi-gigi runcingnya dengan sorot kemarahan di wajahnya. Kembali menjadi siluet hitam lalu melesat pergi menyusuri dinding-dinding berlumut disepanjang terowongan menuju ruang dimensi.