
Aku menghela napas, keras. Mengusap wajahku hingga ke bawah.
Sore ini terasa seperti mimpi yang aneh.
Surealis, seperti salah satu lukisan jam meleleh yang dihancurkan. Dan aku sangat lelah, sangat lelah, aku bahkan tidak punya energi untuk berdiri. Aku hanya punya cukup energi untuk bersedih. Perasaan sedih yang menjalar entah darimana.
Pagi ini Marbella mengatakan bahwa kami akan melakukan perjalanan untuk bertemu teman lama.
Ketika Moonflower menanyakan kesiapan kami untuk perjalanan tersebut, Marbella hanya memintaku menunggu di kamarku hingga ia kembali menemui ku. Jenuhlah yang akhirnya mengantarkan ku untuk tertidur hingga kemudian memasuki mimpi aneh itu dan mendapati perasaan sedih ini.
Suara ketukan di pintu memaksaku untuk bangkit. Sebelumnya Marbella memintaku untuk mengunci ruangan ini dari dalam sebelum ia keluar meninggalkanku sendirian. "Oh, masuklah."
Beberapa ekor tikus masuk ke ruangan : James, Jiso, Jimmy, Castle, Nouria, Sam, Superman dan tiga tikus lainnya yang tidak benar-benar aku ingat namanya. Raut sedih terpajang di wajah para tikus, membuat rasa penasaran mendorong ku untuk bertanya. "Apa yang terjadi?"
Awal cerita meluncur dari mulut tikus tampan Jimmy tentang mimpi tidak biasanya. Disusul oleh kisah tikus lainnya dan di akhiri oleh Jiso. Komandan pasukan tikus itu terlihat muram ketika mengakhiri kisahnya. Aku menepuk pelan bahu kecilnya. Aku tidak menceritakan pada mereka bahwa mimpi aneh itu juga telah mendatangiku. Mimpi di siang hari untuk semua orang.
Perbincangan kecil itu sedikit banyak telah membuatku perlahan melupakan perasaan sedih yang ada. Kami bahkan menganalisa mimpi-mimpi aneh kami, walau tidak menemukan keseragaman kisah dari semuanya kecuali milik sedikit pada mimpi Superman, tapi kami mendapati bahwa semua mimpi itu telah mengantarkan kami pada emosi paling rendah dari hati kami. Putus asa dan kesedihan.
Ketika beberapa pasukan tikus lainnya datang dengan wajah lesu, Jiso memutuskan untuk kembali pada pasukannya. Dia langsung menyuruh mereka keluar, untuk alasan yang tidak dia tawarkan untuk diungkapkan. Dia tidak meninggikan suaranya. Bahkan tidak melihat pada James. Hanya menyuruhnya untuk berbalik untuk mengikutinya. Aku hanya mengangguk saat ia berpamitan dan memilih tidak mengatakan apapun lagi.
Sebagian kecil dari diriku yang penasaran bertanya-tanya apakah mungkin Marbella tahu jawaban semua ini, tentang mimpi-mimpi yang datang dan berbicara, meninggalkan perasaan yang buruk. Rasanya ingin sekali menemuinya saat ini.
Harapan yang terkabul! Suara ketukan kembali terdengar dan itu Marbella.
"Tikus-tikus baru keluar dari sini?" Marbella melirik ke kasur yang berantakan.
"Ya, mereka mampir sebentar untuk mengobrol," jawabku.
"Itu bauku, aku belum sempat mandi dari semalam dan kau melarang ku untuk meninggalkan ruangan ini," ujarku.
"Kau meragukan hidung kucingku?" Marbella menatapku kesal.
"Tidak, hidungmu yang terbaik," aku mengangkat kedua jempolku.
Ketika Marbella memutuskan berlama-lama di kamarku, aku mulai menceritakan mimpiku padanya dan kemudian aku ceritakan kembali mimpi-mimpi para tikus. Raut wajah Marbella terlihat tidak baik, saat aku menuturkan mimpi tikus Superman, aku merasakan sesuatu yang tidak baik, tapi Marbella meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu ia membawaku untuk bergabung dengannya dan Moonflower di ruangan mereka. Aku tahu Marbella tengah menghadapi sesuatu.
Aku tidak tahu. Itu hanya teori. Tapi jelas Marbella sudah selesai bermain permainan santai. Dia sudah selesai dengan langkah-langkah kecil. Yang berarti ketegangan di sini, sekarang dimulai. Bahkan Moonflower tampak sedikit gugup di sekitar Marbella.
Marbella tidak meninggalkan ku setiap ia beranjak dari satu ruangan ke ruangan lain. Ia terus memintaku untuk mengikutinya. Kami menemui Jiso. Sebuah instruksi di turunkan. Marbella meminta dengan keras agar setiap orang tidak lalai pada tujuan. Dan itu berhasil membangunkan pasukan tikus dari perasaan melankolis yang sempat terpelihara
*******
Selama beberapa bulan kami lupa bahwa Marbella itu menakutkan. Dia tersenyum empat setengah kali dan kami memutuskan untuk melupakan bahwa dia pada dasarnya adalah seorang manusia juga seekor kucing dengan cakar dan sihir. Kami pikir dia telah direformasi. Sudah lembut. Kami lupa bahwa dia hanya menoleransi kami karena situasi santai yang dibutuhkan.
Dan sekarang, memasuki ruang dimensi, ketegangan kembali.
Dia tampaknya tidak lagi Marbella saja, dia telah kembali.
Tanpa dia, kita retak dalam perasaan yang mudah diprovokasi. Energi di ruangan ini telah berubah secara gamblang. Kami benar-benar merasa seperti prajurit lagi, dan menakutkan betapa cepatnya hal itu terjadi. Betapa cepatnya gadis ini mengambil alih situasi setiap orang, ia selalu bisa membalikkan semuanya. Dia Marbella.
Beberapa waktu lalu, kami telah berusaha saling menghibur dan menguatkan tapi seperti tidak mungkin. Setiap dari kami memiliki alasan dan keluhan. Menjadi lemah setelah terjatuh ke dalam mimpi, seolah semua orang masih terjebak di sana. Bangun dalam genangan kesedihan dan keraguan. Seperti sulit untuk pulih, sampai akhirnya gadis kucing itu berbicara dengan lugas, dengan keras. Tidak ketinggalan, ancaman cakar Marbella.
Aku tidak takut seperti yang lain, tapi aku juga tidak bodoh. Aku tahu ancaman kekerasannya bukan gertakan. Satu-satunya tikus yang tidak terganggu adalah James Ia terlihat tidak terkejut dengan versi diri Marbella yang manapun. Jimmy, mungkin yang terpenting. Tikus tampan itu selalu tampak gelisah, seolah-olah dia tidak tahu siapa yang telah berubah menjadi Marbella ini dan Marbella itu dia tidak tahu bagaimana memproses perubahan itu. Tapi sekarang? Tidak masalah. Sangat nyaman dengan psiko Marbella yang kembali. Teman lama.