
Pagi itu dimulai dengan obrolan ringan dan tawa ceria Maria saat sarapan. Hingga akhirnya berganti dengan ketegangan berulang kali saat sesi latihanku dimulai.
Maria berulang kali mengalami kejang dan kesakitan, dan tubuhku juga tidak luput dari sensasi-sensasi aneh menyakitkan.
Hingga siang menjelang, aku melihat Maria, bergeser begitu lambat... aku bertanya-tanya apakah kita berdua menderita penderitaan yang sama. Disetiap jeda ia membuat jarak denganku dan berusaha mati-matian untuk duduk di samping Marbella—Marbella yang masih berlutut di depan bentangan lembar kertas tua yang terbuka, membungkuk ke depan, mulutnya berkomat-kamit melafalkan tulisan demi tulisan yang tertera. Sesekali matanya terpejam untuk berkonsentrasi.
Ketika Marbella memintaku untuk bergerak seperti arahannya sementara ia melafalkan beberapa kalimat dari bentangan kertas di tanah, Maria mengalami kejang untuk kesekian kali yang tidak dapat aku ingat lagi, tubuhnya membiru dan gerakannya tak terkendali.
Bohong jika aku bilang aku tidak takut.
Aku bisa melihat ekspresinya , dan itu tidak bagus. Aku tidak tahu apakah Maria terluka, jadi aku tidak tahu sejauh mana dan apa yang tengah kami hadapi. Tapi gadis itu selalu kembali memasang wajah penuh senyuman ketika tangannya sibuk mengeringkan peluhnya yang bercucuran di akhir latihan di hari yang melelahkan.
Seluruh tubuhku seolah remuk dan Maria tidak terlihat lebih baik dariku. Marbella melumurinya dengan beberapa ramuan yang ia olah sendiri. Beberapa bagian tubuh Maria yang terbuka memperlihatkan banyak goresan dan lebam di sana-sini. Itu membuatku bertanya-tanya apakah Maria akan bertahan.
Gelap menyelimuti hutan, suara burung hantu dan jangkrik bersahutan mengisi malam. Rasanya sulit menggerakkan setiap bagian tubuhku. Aku hanya terbaring sejak latihan hari ini usai. Paksaan untuk berkemih membuatku menguatkan kaki melangkah keluar tenda, melewati pohon besar aku mendapati bayangan seseorang yang sedang duduk di sana. Perlahan aku mendekat. Maria sendirian.
Setelah aku akhirnya cukup dekat, Maria mendongak.
Dia tampaknya tercengang.
Saat itu terpikir olehku bahwa dia baru saja melihatku, setelah semua kegiatan pribadiku, dia baru menyadari aku ada di sini. Secercah kelegaan melintas di matanya.
Dan kemudian dia mengucapkan dua kata, dua kata yang tidak pernah aku duga akan menginspirasi dia untuk mengatakan:
"Peluk aku."
Kalimat itu terbawa angin, tetapi penderitaan di matanya tetap ada. Dan dari sudut pandang ini, aku akhirnya mengerti kedalaman dari apa yang dia alami. Awalnya aku mengira Maria hanya menahannya, berada di bawah cakar Marbella, mencoba untuk mendukung.
Aku salah.
Bulir bening mengalir turun dari matanya, aku masih bisa melihat dengan jelas diantara gelap.
"Ada apa?" Tanyaku.
Maria hanya menggelengkan kepalanya.
Aku tidak berani mendekatinya. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuknya.
"A-apa kau ingin aku memanggil Marbi kemari?" aku menawari.
"Tidak, tidak perlu. Ini sudah larut, beristirahatlah, kau pasti lelah," jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke tenda," pamitku.
Maria tersenyum.
"Panggil saja aku jika kau membutuhkan sesuatu... aku— aku di sini, di tendaku,” ucapku.
Maria mengangguk. "Oke, sampai jumpa besok pagi," ia melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa," balasku sambil berjalan menuju tendaku.
Sebelum benar-benar memasuki tenda aku menjulurkan leher untuk melihat Maria sekilas di sana, dia masih duduk berdiam di tempatnya.
*******
"Jika kau membutuhkan seseorang saat ini, itu aku," ucap Marbella dengan penekanan.
Maria tertunduk dalam. "Maafkan aku, Marbella."
Marbella mengambil tempat untuk duduk bersebelahan dengan Maria, menatapi indahnya pemandangan kota Ahem dari ketinggian. Dua cangkir coklat panas menemani mereka melawan dinginnya malam.
*******
"Selamat pagi, Mars!" sapa suara riang Maria.
"Selamat lagi," balasku.
Tidak terlihat sisa kesedihan semalam di wajahnya. Aku berusaha mengamati itu hingga dua kali. Mengedikkan bahuku, entahlah.
Marbella membawa sepiring penuh keripik singkong dan meletakkannya. Mengambil beberapa dan mulai mengunyahnya dengan riuh.
"Owh, Marbi..." keluhku.
Marbella tertawa.
"Ini rasa barbeque," ujarnya bersemangat.
"Oh, pilihan rasa yang bagus," aku mengangguk-angguk.
"Mmmmmmm...mmmm..mmmm....roouuugh...uoghh."
Sekarang aku harus menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku melirik Maria. "Untunglah gadis kota tidak memakan keripik singkong—...,"
"Di pagi hari sebelum sarapan," sambar Maria.
Aku melongo.
"Aku akan bergabung untuk keripik singkong rasa barbeque setelah kita sarapan, sisakan banyak untukku, Marbella," seru Maria.
"Mmmmmmm...mmmm..mmmm....roouuugh...uoghh." Marbella menganggukkan kepalanya.
Aku mengambil satu keping keripik singkong di piring, memasukkannya ke mulut dan melangkah menuju pohon besar.
Dua langkah pertama aku berhenti.
Set...!
Sepiring keripik singkong rasa barbeque telah berada di tanganku, waktunya untuk mengambil langkah seribu.
HEY!!!
MARS!!.....
"Ini Afrika, aku singa yang bangun paling pagi," ucapku sambil berlari menjauhi kejaran dua singa betina yang gusar.