LUCEM

LUCEM
Chapter XXIV



Di Grimoland, beberapa tahun sebelum hari ini. Rong adalah sosok genius diantara para genius. remaja yang dewasa terlalu cepat.


Saat itu adalah masa berkembangnya demonology, para penganut okultisme berada di puncak kejayaan. Beberapa dari mereka menduduki posisi penting sebagai penasihat spiritual bagi raja dan keluarga kerajaan. Mendorong King Grimo yang berkuasa untuk mengadakan perang, pembasmian ras, perburuan terhadap orang-orang yang dicurigai sesat, sedangkan dilain sisi mereka memperbudak atau bahkan mengadakan semacam kontrak dengan Iblis. Dan sebagian lagi menggunakan daya mereka untuk menyembuhkan penyakit, menetralkan racun, atau mengundang malaikat tertentu dengan menggunakan upacara menolak bala dan sejenisnya.


Tak seperti kebanyakan teman sebayanya yang menggunakan kekuatan intelektual mereka untuk mempelajari ilmu-ilmu alam dan demonology, Rong membenamkan diri dalam bahasa asing dan ilmu politik. Dia menguasai bahasa Inggris, Jepang dan Rusia serta terampil dalam berbahasa Yunani.


Namun, secara khusus kakek dari Rong mengajari Rong kepandaian di bidang sihir yang telah dimiliki keluarga mereka dalam garis turun temurun. Karena memiliki sifat masyarakat di masa itu yang konservatif, serius, lugu, jujur dan dalam skala besar mudah tergiring, hampir bisa dikatakan di punggung Rong tertempel tanda 'aku trah penyihir' yang menyilaukan. Itu menarik perhatian salah seorang penasihat keluarga kerajaan.


Penasihat sekaligus guru demonology Bababawanna itu menggosok-gosokkan kedua tangannya dan mengusap janggut abu-abunya dengan antusias tiap kali ia melihat si pemuda berambut coklat itu duduk menyudut di sisi jendela sementara wajah pucatnya yang cerdas menekuni buku.


Hingga sampailah pada suatu hari, dan itu barangkali memang sudah waktunya, Rong didatangi Bababawanna dengan jubah abu-abu dan topi tingginya yang membosankan, membacakan titah perekrutan dirinya sebagai penasihat resmi kerajaan, dan itu tidak dapat dihindarkan.


Rong menjadi anggota penasihat kerajaan termuda dalam sejarah. Beberapa senior dalam masa yang panjang masih membicarakan anak genius yang memiliki ego besar dan kemampuan analisis yang luar biasa hebat itu.


Tentu saja Rong ingin tahu apa yang diinginkan Bababawanna darinya. Jawaban yang ia terima membuat hidupnya seakan dialiri arus listrik.


Jawaban yang kemudian akan menjadi rantai ingatan terputus-putus dalam kisah keluarga Ghoyanta.


Kedudukan Rong sebagai penasihat kerajaan yang dikagumi banyak orang seolah membelah diri dari dalam. Kewajiban dan pemberontakan. Bukan dua hal yang ingin Rong jalani.


King Grimo menugaskan seorang jenderal muda yang paling ia percayai, Panpan, untuk mempersiapkan pasukan militer super rahasia di Gurun Muz, di wilayah gurun pasir terpencil di sisi selatan Grimoland. Area yang paling dekat dengan Dataran Ghomul, yaitu tanah kelahiran para penyihir yang juga menjadi tempat anak keturunan Ghoyanta berasal.


Penasihat Bababawanna dan beberapa kolega penasihat mengaku telah melihat dalam mimpinya sesuatu yang sangat meresahkan dan menyampaikan hal itu pada raja untuk kemudian dirundingkan. Lalu raja mengutus beberapa orang untuk memeriksa kebenaran dari petunjuk-petunjuk mimpi penasihat itu. Beberapa dari utusan telah membuka sedikit kotak pandora itu, lalu menutupnya kembali setelah tahu apa yang akan mereka hadapi. Pengecut yang menutup mata untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan kekang busur mengukur ketahanannya dan pada akhirnya meluncurkan panah beracun yang akan merobek kulit-kulit ditubuh mereka tanpa permisi dan terima kasih.


Panpan sebagai jenderal yang bertugas menjaga perbatasan Grimoland dengan tanah luar, ditarik kembali ke kerajaan untuk mendapatkan tugas itu. Bababawanna dan beberapa penasihat melekat pada sang jenderal bagai lem. Dan Rong tidak sedikitpun melewatkan informasi itu. Setelah argumentasi yang ia lemparkan dalam perundingan tidak menjadi pertimbangan lagi ketika Bababawanna mengatakan bahwa mimpinya adalah wahyu dari pelindung semesta yang harus ditindaklanjuti. Rong memilih untuk berkumpul dalam kelompok besar setuju agar mendapat tempat.


Gurun Muz disiapkan sebagai markas pasukan yang dibentuk jenderal Panpan adalah area yang terkurung daratan paling kering di Grimoland. Proyek hitam dibawah pimpinan Jenderal Panpan dan secara tidak lansung berada dibawah arahan Bababawanna melalui tangan King Grimo memanfaatkan keranjingan masyarakat kala itu terhadap kepercayaan pada entitas yang tidak terlihat dan kefanatikan. Mengarang drama kecil di pinggiran gurun dan menyebarkan desas-desus bahwa Dataran Ghomul mungkin memiliki keterkaitan dengan wabah dan penyakit yang kerap melanda warga saat puncak musim angin tiba. Publik yang mudah tertipu masih bingung hingga tidak menyadari bahwa sebuah kekang telah ditarik.


Rong, dia dengan banyak upaya dapat menjadi salah satu dari segelintir penasihat yang cukup mengetahui kegiatan tersembunyi seperti apa yang terjadi di sana. Ya, Rong mengorbankan sisi lain dirinya agar dapat terlibat dan memiliki akses masuk ke dalam pasukan. Kepalanya sangat dapat diandalkan, cukup pantas dianggap sebagai kesuksesan sehingga Rong mendapatkan orang-orang yang akan menjaga keselamatannya secara khusus ketika ia harus keluar masuk area proyek hitam dan bergabung dalam banyak kesempatan untuk beramah tamah di kerajaan. Fakta bahwa tujuannya hadir pada proyek hitam di Gurun Muz adalah bentuk pemberontakan yang belum terlihat akan terus disegarkan dalam ingatannya.


Jenderal Panpan memanfaatkan daya kemampuan menyimak dan penuh perhatian Rong dalam memaparkan ulang ide-idenya pada pasukan dan pada kerajaan.


Sebagai rekrutan baru, Rong dibawa oleh seseorang dibawah instruksi sang jenderal menuju sebuah ruangan bawah tanah tempat dimana senjata-senjata, makanan, buku, peta dan catatan-catatan penting berada. Di sana, pandangan Rong langsung tertuju pada seorang pria tua berambut abu dengan pakaian coklat yang terlihat berat. Ia terbatuk-batuk oleh asap dari cerutu yang menyerobot masuk kerongkongannya.


“Tuang Rong, silahkan!” ucap pria yang mengantarkannya turun itu lalu kemudian berpamitan pergi meninggalkan Rong dan si pria tua.


Saat Rong maju untuk memberikan tanda salam pada si pria tua, ia memberi isyarat tangan agar Rong tetap diam di tempat. Rong memundurkan langkahnya dan kembali menunggu hingga si pria tua memanggilnya atau memulai percakapan.


Mereka berbagi diam dalam waktu yang lama, Rong mengedarkan pandangannya pada tumpukan buku yang terlihat sangat banyak, lebih mirip seperti sebuah perpustakaan. Jumlah buku yang jauh mendominasi dibandingkan benda-benda lainnya. Rong memperkirakan setidaknya ada lima ribu hingga tujuh ribu buku di sana. Menyisir setiap sudut ruangan dengan matanya, Rong menyadari ruangan itu sangatlah luas dan tidak ada orang lain selain mereka di sana.


Ketika Ron kembali pada si pria tua, ia mendapati pria itu sedang menatapnya tajam dengan kening mengkerut.


___________