LUCEM

LUCEM
Chapter XXXVIII



"Tidak untuk waktu yang lama, jangan merintih gadis burung," kata seekor tikus besar dengan tubuh manusia yang berdiri di atas kepala Moonflower yang terlentang di tanah berbatu, kesakitan.


"Mereka di sini?" tanya makhluk itu.


Moonflower tidak berkata-kata, hanya meringis menahan sakit saat kuku runcing tikus besar itu menembus kulitnya.


"Pemberani," ucap makhluk itu dengan suara bernada. Sekilas kemudian ia memutar kuku runcingnya yang masih menancap pada kulit Moonflower.


Moonflower terkejut. Kulitnya menjadi transparan, urat-urat cerah dan aneh di wajahnya yang pucat. Dia hampir biru, siap untuk retak. Sebuah dengungan tingkat rendah memancar dari tubuhnya, derak energi, dengungan kekuatan. Moonflower tidak bisa menahan untuk tidak berteriak kali ini.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargghh," jeritnya.


"Ya, bagus... Bagus.....," Ucap makhluk itu lalu berdiri membersihkan kukunya dengan kain hitam dari balik bajunya.


Jiso yang berpatroli menyaksikan kejadian itu dari semak-semak yang melindunginya. Melihat tidak banyak yang bisa ia lakukan, dengan segera Jiso menyiagakan pasukannya dan berlari menemui Marbella.


"Dia akan datang, kan?" Tanya makhluk itu dengan tidak bermaksud meminta jawaban dari Moonflower.


Moonflower berusaha meraih lengan makhluk itu dan dalam setengah detik ia terlempar ke udara. Moonflower menabrak tanah begitu keras sehingga ia hampir tidak bisa bernapas, dan ketika ia akhirnya bisa mengangkat kepalanya, ia melihat kedatangan Marbella, matanya menyipit menahan sakit yang tak terbendung.


Makhluk itu menatap Marbella dengan seringainya. "Akh rrghhh—," kalimatnya seperti tersangkut di tenggorokannya. Sedetik kemudian tikus besar itu memegangi lehernya dan mencakar-cakar udara sebelum akhirnya sebuah jeritan panjang keluar darinya dengan tubuh menggelepar di tanah berbatu.


Marbella hanya menatapnya, dan ekspresi tersiksa di mata tikus itu memberitahu semua yang perlu diketahui Moonflower dan pasukan tikus yang menyaksikan.


"Sepertinya dia akan mati," Jimmy meneriakkan kata-kata itu spontan. Jiso menatapnya kesal.


Tanpa di sadari siapapun wujud Marbella telah berubah menjadi seekor kucing dan berdiri di sisi pasukan tikus, mengejutkan Jiso yang tidak waspada. " Apa terlintas perasaan kasihan?"


Pertanyaan Marbella menyakiti telinga Jiso. "Tidak sedikitpun," balasnya tegas.


"Apakah kami harus membantu mengakhirinya?" Jiso menawarkan diri.


"Bagaimana? Balas Marbella bertanya.


"Kami dapat menggigit bagian belakang lehernya hingga akhir," Jiso berucap dengan pasti.


"Darahnya akan memenuhi mulut kalian, jika dia memilikinya," Marbella menggoyang-goyangkan ekornya.


"Haruskah kita mencoba menjemputnya?" tanya Jimmy menunjuk pada Moonflower.


"Aku ragu aku bisa mengangkat lengannya di atas kepalaku, apalagi seluruh tubuhnya. Tubuhku sendiri masih gemetar, begitu kuat hingga aku hampir tidak bisa melakukan bagianku untuk itu," ucap Marbella sambil berjalan menuju pagar dengan santai meninggalkan Moonflower serta Jiso dan pasukannya.


Jiso tidak tahu hal gila macam apa yang mengalir di nadinya saat ini, tapi ia tetap memerintahkan seluruh pasukan untuk bersiap menyerang makhluk setengah tikus yang terus menggeliat di tanah. Dia terlihat setengah hidup.


"Lakukan!!" Perintah Jiso lantang.


Pasukan tikus serentak merayapi seluruh bagian tubuh tikus besar itu menuju tengkuknya dan melancarkan aksinya di sana.


Moonflower hampir tidak bisa mengikuti.


Rasa sakit di lengannya mulai menjalar ke bahu dan punggungnya. Pemandangan menjijikan dihadapannya menambah penderitaannya. Hingga membuat Moonflower memohon pada diri sendiri untuk menjadi lebih kuat.


Moonflower tidak tahu bagaimana ia melakukannya, tetapi melalui keajaiban, ia berhasil berdiri lalu berjalan terhuyung menjauhi keramaian menjijikkan itu, namun ia berhenti menjauh dan berdiri tertatih.


Jiso hanya menyaksikan gadis itu bertahan sangat keras tadi, tanpa perlawanan , dan Jiso cukup yakin ia belum melihat gadis itu memberikan serangan apapun pada tikus besar hingga akhirnya Marbella datang. Tapi Jiso ingin tertawa sedikit sekarang, melihat Moonflower berusaha keras hanya untuk menahan desakan cairan dari lambungnya dan meletakkan tangannya dengan keras di mulut. Jiso tidak tahu berapa lama gadis itu mampu menahannya.


*******


"Cepat bersihkan diri kalian, itu membuatku tidak tahan," ucap Moonflower. Ia membuka keran semprot dengan menahan pandangannya pada para tikus.


Pasukan tikus berdecit gembira di bawah guyuran air.


Moonflower berjalan tertatih menuju kamarnya dan mendapati Marbella di sana.


"Duduklah... kau terlihat berantakan."


Marbella memapah Moonflower dan mendudukkannya. "Ini akan sakit."


"Hmm.." Moonflower memejamkan matanya.


Marbella memasukkan sesuatu pada sobekan di kulit Moonflower. Rasa sakit yang menjalar membuat Moonflower menggigit bibirnya kuat-kuat.


"Hentikan! Aku tidak menyiapkan ramuan untuk memulihkan bibirmu jika itu sampai terluka," ucap Marbella.


"Aku hanya menahan diri untuk tidak memaki pada rasa sakit ini," balas Moonflower.


Marbella tertawa.


"Bagaimana Mars?" Tanya Moonflower.


"Dia tidak akan mendengar apapun, James menanganinya dengan baik. Jadi cepatlah pulih," pinta Marbella.


"Seperti apa ia berakhir?" Marbella bertanya sembari menyapukan cairan kuning ke seluruh punggung Moonflower.


"Akh, prosesnya menjijikkan.... aku tidak menyangka fisiknya dapat dirusak seperti itu dan mengalirkan cairan merah gelap kental, mereka hidup mendekati nyata. Tapi... seperti tebakanmu, di akhir makhluk itu menguap menjadi asap hitam dan menghilang di udara."


"Itu cukup untuk di ketahui tuannya," ujar Marbella.


________________


"Kesadaran apa ini?" ejekku pada James yang memintaku untuk menemaninya melahap sayuran hijau di piring besar yang terhidang di hadapan tikus putih itu.


James mendorong sepiring salad dengan saus kacang kehadapanku. Aku menyantapnya tanpa berkeberatan.


Selesai dengan sayuran, James memintaku untuk mengawasinya berlatih fisik.


"Kau yakin dengan dua puluh pull up? tanyaku ragu.


James memintaku berjaga-jaga di bawah ketika ia menggantungkan tubuhnya pada bar besi setinggi pinggangku. Dan seperti dugaan ku ia jatuh pada tarikan ke tiga.


"Kau tidak perlu memaksakan diri berolahraga, ingat usiamu," saranku.


"Kucing itu mengawasiku, jangan mengendurkan semangatku dengan kepedulianmu," ucap James dengan wajah serius.


"Ya sudah," jawabku dengan mengangkat bahu.