
“Namaku Venus dan dia Magenta,” ucap pria di samping Rong memperkenalkan diri.
“Rong. Aku pernah melihat nama Anda dan nyonya Magenta tertulis dalam sebuah buku bersampul biru,” sahut Rong.
“Hah, ternyata Tuan telah bertemu dengan pria tua busuk itu, dia diberkati usia yang teramat panjang,” Venus menyeringai.
“Kau tahu apa yang akan terjadi, Tuan Rong?”
Rong menggeleng.
“Hari ini akan terjadi bencana alam di kerajaan ini,” kata Venus. “Ribuan orang akan tewas, jika memungkinkan pergilah dari sini... sekarang,” sambungnya. Ucapannya mengejutkan Rong yang berpikir bahwa hanya ia yang tahu perkiraan itu.
Rong menatap Venus sesaat dan beralih pada Magenta, wanita itu tampak tidak terusik samasekali dengan percakapan di sampingnya, ia tetap berjalan dengan menatap lurus ke depan. Rong telah mengetahui Magenta adalah salah satu pemburu penyihir terbaik raja, yang mengabdikan diri untuk membasmi sihir liar dan membagikan apa yang kerajaan sebut dengan keadilan. Sedangkan Venus, hanya sedikit sekali informasi tentangnya.
Ketiganya menghentikan langkah saat Jenderal Panpan memberi isyarat.
Kerumunan telah sampai di tanah lapang yang berbatasan dengan hutan gelap. Rong meningkatkan kewaspadaan.
Semuanya telah disiapkan.
Sekelompok pemuda berjubah membuat barisan menghadang di depan jembatan yang menghubungkan tanah lapang dengan hutan gelap. Doa-doa dilantunkan dan tarian berputar-putar dari pria-pria dengan jubah dan topi tinggi mengiringi. King Grimo terbatuk-batuk saat asap dari piring persembahan melintasinya. Bababawanna memberi isyarat agar pelayan mendekat. Sebuah mangkuk disodorkan pada sang raja.
Dari kejauhan, pria tua berambut abu terlihat. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, Jenderal Panpan mengangguk. Dua orang pengawal diperintahkan untuk menghampiri pria tua dan mengarahkannya ke dalam kelompok kecil Rong. Sesampainya, terjadi bisik-bisik singkat antara Jenderal Panpan dan pria tua. Rong menyaksikan tanpa berkata-kata.
Doa-doa dan tarian berhenti. King Grimo menepuk-nepuk dadanya perlahan. Bababawanna terlihat kembali membisikkan sesuatu di telinga sang raja.
“Kumpulkan mereka dan mulailah!” seru king Grimo yang berdiri bertumpu pada tongkatnya.
“Majulah, kalian tahu apa yang perlu dilakukan,” ucap jenderal Panpan mempersilahkan dengan sopan.
Pria tua memandu ketiganya berjalan melintasi barisan pria berjubah dan mendekati jembatan perbatasan menuju hutan gelap.
“Kalian adalah yang terpilih, jangan kecewakan kami,” Pria tua menatap tajam pada Magenta saat mengucapkan kalimat terakhir.
Ketiganya membuka gulungan masing-masing, Rong mendelik. “Setan apa yang ada di dalam sana?”
Pria tua terkekeh. “Setan Jepang, tapi mereka bisu.”
“Mulai!” Suara Magenta mengejutkan Rong.
“Selalu tidak sabaran,” pria tua kembali terkekeh.
Terlihat sejumlah prajurit bersenjata bersiaga dan deretan pria berjubah semakin merapatkan barisan. King Grimo terlihat berdiri memperhatikan dengan seksama. Kulit pucatnya tidak membaik sama sekali di bawah hangatnya sinar matahari.
“Hari ini adalah hasil perhitunganmu, Rong. Aku selalu mempercayai ketepatannya,” pria tua menatap Rong.
“Dan kemampuan sihirmu,” ia beralih pada Magenta.
Rong menahan rasa penasaran pada kegunaan pria bernama Venus di sisinya.
Cahaya berwarna turquoise muncul di tangan kanan Magenta yang terangkat setinggi dadanya. Pria tua memberi isyarat agar Rong mulai membaca tulisan dalam gulungan yang telah ia buka.
Venus terlihat memucat, dan kerumunan besar yang menyaksikan mulai saling bergumam saat angin tiba-tiba berhembus dari hutan gelap. Rong tetap fokus pada gulungan. Barisan pria berjubah terlihat gelisah.
Rong mengeraskan suaranya saat Magenta berteriak padanya bahwa suaranya terlalu pelan. Hingga sesuatu diujung jembatan seolah terbuka. Terbelah. Tanah retak di bawah kaki Magenta. Matahari berkedip, kegelapan dan cahaya yang menyala-nyala, suasana kaku, membeku. Dan awan... Ada sesuatu yang salah dengan awan. Mereka hancur.
Rong menghindari letusan di tanah dan merunduk tepat pada waktunya untuk menghindari sekelompok tanaman merambat yang tumbuh di udara. Sekumpulan asap hitam yang jauh menggelembung hingga ukuran astronomis, saat itu mulai meluncur cepat ke arah tanah lapang tepat dimana King Grimo dan semua orang berada, Rong mengencangkan pegangannya pada gulungan di tangan dan merunduk dalam untuk berlindung. Namun asap tersebut kemudian menguap bersama angin sebelum jatuh menyentuh apapun.
Pepohonan tidak bisa memutuskan apakah akan berdiri atau berbaring, hembusan angin bertiup dari tanah dengan kekuatan yang menakutkan, dan tiba-tiba langit dipenuhi burung. Penuh dengan burung hitam sialan.
King Grimo terlihat menunduk, tangan tuanya gemetar di atas tongkat dalam genggamannya. Bababawanna berulang kali membisikkan sesuatu ke telinga penguasa Grimoland itu.
Venus berdiri tak bergeming, pandangannya tidak pernah lepas dari Magenta dan seolah tidak memperdulikan yang terjadi pada sekitarnya. Wanita itu kini tidak terkendali, matanya memutih dan tubuhnya diselimuti cahaya kehijauan.
Rong tahu bahwa kekuatan telekinetik dan psikokinetik Magenta, ahli sihir terpilih keturunan Ghoyanta hampir sama seperti dewa, namun itu melampaui apa pun yang pernah Rong perkirakan dan belum pernah ia lihat sebelumnya. Liar.
Rong mencari keberadaan pria tua, namun pria itu tidak terlihat di manapun.
Sekali lagi, gelombang asap hitam meluncur cepat, kali ini berasal dari dalam hutam gelap, melewati jembatan dan menumbangkan semua yang dilewatinya dan terhenti tepat di hadapan Magenta sebelum kembali terlempar mundur dengan diiringi suara jeritan yang menyakiti telinga yang mendengarnya. Rong berusaha menutupi telinganya rapat-rapat. Sebagian pria berjubah dalam barisan tersungkur dengan memegangi telinga mereka yang mengalirkan darah, lalu sejumlah pria berjubah lainnya maju mengisi ruang kosong yang ada dalam barisan sembari melantunkan mantra-mantra dan doa.
Magenta mengucapkan sesuatu, tapi Rong tidak dapat menangkap ucapannya. Rong menatap Venus dengan bertanya.
“Mereka telah datang,” Venus menatap ke dalam hutan gelap. Rong membeku ketika ia melihat sekumpulan sosok hitam tinggi bergerak cepat kearah mereka dalam jumlah yang tidak dapat ia perkirakan.