
Beberapa hari bersama Marbella dan pasukan tikus di kediaman Moonflower, suasana santai dengan rutinitas harian membuatku sedikit melupakan tentang mimpi tidak biasa di malam itu. Meski tidak pernah benar-benar lupa.
Aku bersyukur memiliki kewajiban dan tugas rumahan untuk menyibukkan diri. Di siang hari, aku pergi ke toko bahan makanan, tukang daging atau ikan. Dan di sore hari menjelang malam aku akan membantu Moonflower memotong sayuran, menggiling rempah-rempah, memanggang daging, memenuhi dapur mungil itu dengan aroma masakan yang menggugah. Momen keluarga yang mungkin dirindukan setiap diri.
Marbella lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku-buku, sesekali ia akan bergabung di dapur atau bergabung dengan kerumunan para tikus. Kucing itu sedang menyimpan cakarnya dalam-dalam dan itu menambah daftar pertanyaan di kepalaku.
Jimmy dan beberapa tikus muda meminta izin untuk pergi melihat-lihat situasi di luar, mencoba menemui keluarga, kerabat, kenalan atau sekedar mengumpulkan informasi tentang mereka. Perjalan para tikus berlangsung di bawah tanah, jauh di bawah kaki-kaki sibuk yang melintasinya. Itu telah berlangsung beberapa hari. Kadang mereka pergi sebentar kadang kembali setelah beberapa hari. Membawa banyak kisah kehilangan atau cerita baru. James dan Jiso memilih untuk tetap tinggal, seperti mengabaikan dunia. Dan kedua tikus berbeda generasi itu telah lama menjauhi perdebatan, pemandangan baru.
"Besok aku akan membawakan tamu untuk kita," ucap Marbella sore itu.
"Siapa?" Aku dan Moonflower bertanya serentak, lalu saling pandang.
"Ok, jawaban satu untuk dua. Seorang gadis sekaligus tawanan," ujar Marbella santai.
Aku menatap Marbella untuk memburu penjelasannya.
“Well, seorang gadis dari kota Corado... usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan kita, dia putri dari tuan Jhonatan,” Marbella membalas tatapanku.
“Tidak ada ketenangan yang bertahan lama, hahah.., perusuh,” Moonflower menanggapi Marbella dengan ejekan santai.
Marbella mempermainkan kuku-kuku jarinya. "Dia akan sama jinaknya dengan para tikus."
“Ya, walau aku tidak menyukainya bahkan sebelum kedatangannya tapi aku tidak akan merasa keberatan samasekali," tukas Moonflower sambil berlalu menuju panci-panci yang sedang mengepulkan asap.
Marbella menyunggingkan senyuman. “Kau yang terbaik, Moon.”
*****
Marbella tidak pernah meleset jauh dari kata-katanya, siang itu ia datang bersama seorang gadis berambut hitam terikat dengan pita besar di kepalanya. Gadis itu memakai gaun biru muda dibawah lutut dengan sepatu putih juga kaus kaki tinggi. Memegang sebuah tas coklat besar dengan kedua tangannya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang gadis, tapi tidak seperti seorang tawanan.
“Hallo!” ia menyapaku dan aku mengangkat tanganku sebagai balasan.
“Hai!” ia meletakkan tas coklatnya dan menyalami Moonflower yang berbaris di belakangku lalu memberikan pelukannya.
Para gadis, apa semudah itu menjadi akrab? Aku tidak mengerti. Aku menawarkan diri untuk membawakan tas besar coklat milik gadis itu.
Beberapa langkah meninggalkan mereka, aku menghentikan langkah. “Umm.. dimana aku harus meletakkan ini?”
Moonflower tersenyum sinis menatapku lalu berjalan mendahuluiku. “Ikuti aku!”
Àku mengikuti langkah Moonflower menuju sebuah kamar di sisi kiri kamar yang aku huni.
“Letakkan di sana!” Moonflower menunjuk sebuah sudut di dekat lemari pakaian.
“Ada hal-hal yang mudah terjadi antara seorang pria muda dan wanita muda, kau mengerti maksudku, Mars?” Moonflower menatapku tajam.
“Hmm,... Umm a-apa yang kau maksud?” aku meminta penjelasan dengan bingung.
“Bodoh, ayo kembali menemui mereka.” Moonflower membalikkan badannya cepat dan berlalu. Aku menyusulnya dengan langkah tergesa.
Marbella dan gadis itu berbincang di kursi dalam pembicaraan ramah tamah, Moonflower ikut bergabung, sedangkan aku memilih untuk meneruskan langkah menuju pekarangan. Dari sana aku dapat dengan jelas mendengar tawa para gadis di dalam rumah. Tawanan, huh?
Hari-hari kembali berlalu begitu saja, tenang dan damai.
Gadis itu bernama Maria, wajahnya selalu terlihat ceria dan ramah. Ia mudah terlibat dalam perbincangan di manapun. Bahkan dengan para tikus. Sesekali aku juga melakukan percakapan-percakapan kecil dengannya. Moonflower dan Marbella memperlakukannya dengan sangat baik. Dan..., membuat daftar pertanyaanku bertambah, lagi.
“Kau suka berada di sini?” tanyaku pada Maria.
“Seperti rumah, siapapun akan menyukai tempat ini,” jawabnya dengan wajah tersenyum. Aku mengangguk setuju.
Satu sisi pipinya terdapat cekungan yang manis saat ia tersenyum. Aku menyadari itu setelah beberapa kali memperhatikan wajahnya saat berbincang. Dan ia memiliki bahasa tubuh yang manja, terutama saat ia bergerak memutar-mutar ujung rambutnya yang hitam dengan jari-jarinya. Sedikit berbeda dengan Moonflower yang cenderung lugas dan gesit. Maria putri seorang walikota tentu saja mendapatkan perlakuan dan didikan berbeda. Sedangkan Moonflower, hehhe... sampai hari ini aku tidak tahu apapun tentangnya. Ia sama sulitnya dengan Marbella saat diberi pertanyaan.
“Kedatanganku ke sini, kau pasti ingin tahu,” Maria mencoba menebak isi pikiranku.
“Well, kalau kau berkenan menceritakannya, aku akan menyimaknya dengan senang hati,” aku bersikap seolah tidak begitu tertarik.
“Ya, kau benar,” menjawabnya singkat. Aku tidak ingin menyela waktunya untuk bercerita.
“Ayahku terlibat pada perkara yang tidak sederhana dan kalian adalah buruan utamanya, Maria menghela napas. Bisa aku katakan, ayahku telah menjadi alat dari seseorang. Yang terburuk dari semua itu adalah aku, keluarga dan masyarakat kami adalah taruhannya. Marbella lebih memahami situasi ini dibandingkan siapapun diantara kita, jika kau sangat penasaran... kakakmu adalah gudang jawaban dari semua pertanyaanmu," Maria menepuk lututku pelan.
“Haa.. baiklah, aku sangat senang mendengarkan ceritamu. Jangan sungkan untuk bercerita apapun padaku,” aku mencoba terdengar seperti menawarkan diri.
“Tentu, kau sangat baik, Mars,” Maria tersenyum, kembali memamerkan cekungan pada pipinya.
“Kau juga,” balasku.
“Kau seharusnya mengatakan sesuatu yang lebih manis pada seorang gadis, Mars,” Maria tertawa menggoda lalu bangkit dan berlari kecil memasuki rumah.
Aku hanya menatapnya berlalu. “Dia baru saja menyingkat semua cerita untukku, heh....”
Sisi
James mungkin punya saran yang lebih baik tentang ini.
TarNow
Bermaksud untuk mendapatkan saran?
Sisi
Hmm....
TarNow
Okaaay... Kenapa dalam ingatanku James adalah seorang jomblo tua ya?
Sisi
Setidaknya waktu dan menjadi tua telah memberi dia lebih banyak pengetahuan.
TarNow
Tidakkah kadang antara pengetahuan, teori dan praktek kadang saling meninju?
Sisi
Hah, kadang memang demikian... walau kadang juga tidak.
TarNow
Selama kita tidak diperkenankan untuk memberi saran-saran, maka itu bukan tanggungan kita.
Sisi
Ketidakpedulian juga adalah bentuk kekerasan.
TarNow tidak lagi menimpali, Sisi mengakhiri percakapan malamnya dan mulai mengajak TarNow berkeliling untuk memeriksa dan menguji batas.
James dan Jiso berjalan beriringan, saling mengejek dan menertawakan dalam hati.
Hahahhahaha... tikus tua putih yang malang, mungkinkah dia tidak mengetahui perbedaan antara tikus jantan dan dan tikus betina?
Tikus besar, lihat kan siapa yang Sisi pikirkan pertama kali saat seseorang membutuhkan saran... hehehhe.
James dan Jiso saling melempar pandang dan tersenyum.
Malam larut menghantarkan sebagian orang pada mimpi-mimpi mereka, dan sebagian lainnya sibuk dengan rencana-rencana atau angan yang berkelana. Esok masih ada.