LUCEM

LUCEM
Chapter XXXV



Kembali ke tempat di mana Moonflower dan pasukan tikus menunggu. Kembali pada kenyamanan rumah. Kembali pada keluarga, besar.


"Kalian pasti lapar, aku sudah menyiapkan hidangan... ayo, makan!" Ajak Moonflower.


Tentu saja tidak seorangpun dari kami menolak ajakan itu. Terutama aku, perutku sudah cukup lama meminta diisi.


"Bagaimana situasi mu, Moon?" Marbella memulai percakapan setelah makan usai.


"Jangan khawatir," katanya. “Kami aman di dalam ruang dimensi selama kakian pergi.”


"Ruang dimensi?" Tanyaku heran.


"Ya, sekarang kau sudah mendengar itu sedikit, uh? Sisanya kau akan mengerti pada waktunya," jawab Marbella.


"Semakin dekat dengan tujuanmu, Marbi?"


Marbella mengangguk. "Ya, Dik."


"Aku senang semua tetap dalam kondisi yang aman," Marbella kembali pada percakapan dengan Moonflower.


Moonflower mengangguk. “Ya, itulah gunanya rumah. Aku telah meningkatkan semua perlindungan cahayanya dengan semacam penawar yang membuat kita kebal terhadap ilusi yang diciptakan ruang dimensi. Setiap jengkal rumah beserta tanahnya dilindungi, dan bahan reflektif yang menutupi rumah memberikan perlindungan yang lebih terjamin di dalam ruangan.”


“Bagaimana kau tahu semua itu?” Tanyaku penasaran.


Aku mengerjapkan mata. Aku merasa bodoh. Mati rasa. Seperti aku memecahkan sesuatu jauh di dalam otakku. Jauh di dalam tubuhku.


"Moonflower," kejarku.


Moonflower tertawa kecil. "Haruskah aku menjelaskan padanya sekarang, Marbella?"


"Tidak sekarang, pria ini akan memahami segalanya tapi tidak hari ini. Aku butuh kepala pintarnya diisi dengan hal-hal yang lebih ia butuhkan, saat ini," jawab Marbi.


"Dan lagi kau tidak perlu tergesa-gesa, Mars. Tidak akan ada kabar baru dari masa lalu dan tidak akan ada kabar pasti dari masa depan. Nikmati hari abu-abu kita," sambungnya.


Aku tahu ini hanya akan menjadi pertanyaan percuma. Aku tahu dia Marbella kakakku keras kepala, pintar, dan tega. Tapi aku tidak bisa menemukan kekuatan untuk marah padanya sekarang atau kapanpun. aku tidak bisa. Aku bisa menelan semua rasa penasaran walau rasanya seperti tercekik.


"Aku ingin beristirahat lebih awal, merindukan kasur," aku mengundurkan diri dari percakapan, lalu melangkahkan kakiku menuju ruangan yang menjadi kamarku.


"Baiklah, aku tidak tahu dan itu tidak apa-apa," gumamku dalam perjalanan menuju kamarku. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu hanyalah tebakan."


*******


Matahari tersentak, bintang-bintang berakhir.


Tikus-tikus memulai hari mereka dengan latihan fisik. Jiso tengah menghangatkan tubuh berbulunya di bawah sinar matahari. Aku berjalan mendekatinya.


"Halo! Tikus tidak seharusnya berjemur kan?" tanyaku.


"Tidak benar-benar membutuhkannya, tapi aku mendengar ada sebuah huruf dalam sinar matahari yang dapat membantu menjaga kekuatan tulang," balasnya.


"D?"


"Umm... bagus. Secara teori, terapi di bawah cahaya juga bisa menjadi metode untuk mencegah berkembangnya sindrom metabolik menjadi diabetes," ucapku sembari meletakkan telunjukku secara melengkung di bawah perut buncit Jiso dan menariknya kembali, menimbulkan goyangan pada lemak-lemak yang berkumpul di sana.


"Astaga! Jiso memperlihatkan ekspresi wajah terkejut dengan memegangi perut. Terkadang aku membutuhkan pembakaran lemak internal untuk menghangatkan diri," kilahnya.


Aku mengangkat kedua bahuku, tikus ini menjadi mudah gemuk sekarang. Aku beranjak ke tempat Marbella dan Moonflower sedang berbincang.


"Hanya berdua?" tanyaku.


"Ya, Maria sedang berbelanja," sahut Moonflower.


"Oowh, tawanan yang berbelanja..., itu anti stress yang efektif."


"Silahkan, tehmu," Moonflower mengajukan secangkir teh ke hadapanku.


Aku menyambutnya.


________________________


"Aku akan berangkat menuju kerajaan dalam waktu dekat," jelas Maria saat tuan Jhonatan mengatakan padanya tentang surat yang datang dari kerajaan.


"Ya, aku akan menunggumu di sana," Tuan Jhonatan memegang bahu Maria.


Aku mohon jaga dirimu baik-baik, Nak. Aku hanya memiliki dirimu setelah ibumu menghilang," ucap tuan Jhonatan dengan matanya yang terasa memanas.


"Tentu, Ayah. Jaga kesehatanmu," ucap Maria.


Ayah dan anak itu berbagi pelukan sebelum berpisah. Seorang pelayan dipanggil untuk mengantarkan Maria kembali menuju ketempat yang Maria minta. Sebuah pasar.


Suasana ramai memulihkan perasaan Maria yang sempat menurun. Kini kakinya dengan lincah menyusuri setiap toko yang menarik perhatiannya.


"Sebuah gaun, hadiah untuk diriku yang hebat," ujarnya sebelum melangkah ke meja kasir.


Dan banyak hadiah lain untuk dirinya yang hebat telah terkumpul di kereta yang ia sewa untuk kembali pulang ke kediaman Moonflower nanti. Pengendara kereta menunggu Maria dengan setia sembari memejamkan matanya.


Tentu saja Maria tidak akan melupakan tujuan lain dari petualangan belanjanya, amunisi dapur.


Maria menaiki kereta saat ia hampir tidak bisa merasakan kakinya sendiri setelah keluar masuk banyak toko hampir seharian. Pengendara bangun dengan sedikit terkejut mendengar Maria yang terpaksa meninggikan suara ketika pengendara itu tidak bangun dengan mudah.


"Nona yakin sudah selesai?" tanya pengendara kereta meyakinkan.


"Ya, setidaknya untuk hari ini," jawab Maria.


"Baik, Nona, kalau begitu kita berangkat," ucapnya pengendara itu sembari menyentak tali kekang pada kuda.


Irama sepatu kuda mengiringi perjalanan pulang Maria dengan segunung belanjaan mengelilinginya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk... suara sepatu kuda.


🍂