
POV
_______________MARIA__________________
Perlahan kelopak mataku terbuka.
Keheningan meledak, melapisi mulutku. Menggantung di udara, menyelubungi segalanya, selama tiga detik.
Kemudian
Teriakan, jeritan, sejuta suara. Aku mencoba menghitung semuanya dan kepalaku seolah berputar, berenang. Jantungku berdebar kencang dan cepat di dadaku. Aku melihat sekeliling dengan cepat, terlalu cepat, kepala berputar ke depan dan ke belakang dan semuanya berayun kesana kemari dan begitu banyak wajah, kabur dan aneh.
Aku merasa bahwa aku bernapas terlalu keras, bintik-bintik menghiasi penglihatanku, tanganku menjulur ke atas, oh.. tidak, tanganku di bawah memegang lantai yang dingin dan kakiku menggantung di udara.
Aku ini apa?
Siapa aku?
Dimana aku?
Segalanya kembali sunyi, aku bernapas dengan lembut.
"Mars!" Seruku pada pemuda yang berdiri membelakangiku. Aku yakin itu dia.
Ia berbalik dengan sangat lambat, aku menanti tubuhnya menghadap sempurna ke arahku.
"Mars," panggilku lagi.
Pemuda itu hanya menatapku tanpa ekspresi.
Di belakanganya bermunculan Moonflower, James, Jiso dan semua pasukan tikus yang hanya menatapku kosong. Seperti sihir, keheningan menimpa semua orang, semuanya. Aku menghembuskan napas, panik mengalir keluar dariku.
Sebuah tangan hangat menyentuh bahuku, terasa begitu akrab, begitu hangat. Aku mendapati Mars berada di sisiku, tersenyum seperti bulan sabit.
Aku terdiam, mulutku terkunci mati. Mataku tertutup. Sesuatu bergerak melewatiku seperti api, api yang melahap debu di dadaku, tulang-tulangku memanas bagai kayu bakar. Sentuhan tangan di bahuku menjadi api yang berkobar. Aku menyentak, tanganku merasakan garis keras tubuh Mars melalui katun lembut kemejanya. Sebuah wajah muncul, menghilang, di belakang mataku.
"Mars," panggilku sekali lagi.
Ada sesuatu yang begitu aman di sini dalam perasaan dirinya, dalam aroma dirinya—sesuatu yang sepenuhnya miliknya. Berada di dekatnya membuatku ingin melakukan sesuatu, sesuatu yang bahkan tidak bisa aku jelaskan, tidak bisa aku kendalikan. Aku tahu aku tidak seharusnya, sangat tahu aku tidak seharusnya, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeret ujung jariku ke garis sempurna tubuhnya.
Aku mendengar napas Mars tercekat.
Api melompatiku, melompat ke paru-paruku dan aku menarik napas, menyeret oksigen ke dalam tubuhku yang hanya membuatku seolah mengipasi api lebih jauh, lebih membara. Salah satu tangan Mars menggenggam bagian belakang kepalaku, tangannya yang lain menggenggam pinggangku. Kilatan panas mengaum di tulang belakangku, mencapai tengkorakku. Bibirnya di telingaku berbisik, berbisik.
"Bangunlah, sayang...
Aku akan berada di sini saat kau bangun."
Mataku terbuka. Panasnya tak kenal ampun. Membingungkan.
Mars memelukku. Aroma tubuhnya menenangkanku, menenangkan hatiku yang mengamuk. Tangannya bergerak di sepanjang tubuhku, sentuhan ringan di sepanjang lenganku, sisi tubuhku. Tanganku yang gemetar menelusuri bentuk punggungnya, pipiku masih menempel pada detak jantungnya yang familiar. Aroma Mars, begitu akrab, begitu akrab, dan kemudian aku melihat ke atas—manik mata Mars bergerak-gerak mencari sesuatu dari mataku.
"Matamu, sesuatu tentang matamu dan anak itu...." Mars menunjuk pada halaman luas.
Ruangan menjadi fokus secara bertahap, kepalaku terangkat dari dadanya. Tubuhku terseret. Berhenti di depan seorang anak laki-laki, dia enam tahun, aku menebaknya dalam hitungan detik. Mataku menatap mata coklat yang sangat putus asa yang tampaknya tahu terlalu banyak, terlalu baik. Matanya yang khawatir mengamatiku, tangannya terangkat ke udara seolah dia akan menyentuhku.
Dia menatap, tak berkedip, dadanya naik turun.
"Selamat pagi," aku berasumsi menebak waktu. Aku bahkan tidak yakin dengan suaraku, pada jam dan hari ini, kata-kata yang keluar dari bibirku.
Senyum anak itu terlihat menyakitkan. "Ada yang salah," bisiknya.
Dia menyentuh pipiku. Lembut, sangat lembut, seperti dia tidak yakin apakah aku nyata, seperti dia takut jika dia terlalu dekat.
Dia terus menatapku, menatap mataku untuk meminta bantuan, untuk bimbingan, untuk beberapa tanda protes seperti dia begitu yakin aku akan mulai berteriak atau menangis atau melarikan diri tapi aku tidak akan melakukannya. Aku tidak berpikir aku bisa, bahkan jika aku ingin, karena aku tidak mau. Aku ingin tinggal disini. Disini.
Dia bergerak lebih dekat, hanya satu inci. Tangannya yang bebas meraih untuk menangkup sisi lain wajahku.
Dia memelukku seperti aku terbuat dari bulu angsa. Terlalu erat.
Hembusan napas lembut dan gemetar dapat aku rasakan dari tubuhnya.
"Ada yang tidak beres," katanya lagi, tapi dari kejauhan, seperti sedang berbicara dengan orang lain. “Energinya berbeda. Tercemar.” ucapnya lagi.
Suaranya seperti melilitku. Aku lelah dan lemah karena kelaparan, tetapi aku tampaknya baik-baik saja. Aku hidup. Aku bernapas dan berkedip.
Aku bertemu matanya. "Kau telah menyelamatkan hidupku." Ucapnya. Dia memiringkan kepalanya ke arahku. Perlahan pandanganku memudar. Anak itu memudar. Semua hal memudar.
Mars!!
Dia tidak di sini lagi. Aku sendirian, aku kedinginan. Berjalan lambat-lambat ketempat yang aku pikir aku meninggalkannya. Mars tidak ada di sana, dia tidak ada di mana-mana. Mars meninggalkanku sendirian.
Aku di taman yang terlalu luas untuk seorang diri. Beberapa saat aku mencoba untuk berlari dan berharap ada seseorang, dan aku hanya berharap itu adalah Mars. Aku menginginkan sentuhannya. Itu membuatku hidup, membuatku dapat bernapas.
Aku berhenti pada sebuah pohon terbesar di sudut taman. Langitnya bewarna abu-abu dan di sisi lainnya bewarna biru dengan garis awan yang sejalur. Burung-burung hitam kecil berkelompok terbang melewati pohon besar entah menuju kemana. Mereka pasti ingin pulang, aku menerka-nerka. Aku juga ingin pulang, aku ingin kembali ke tempat di mana Mars berada.
Moonflower. Apa dia yabg telah membawa Mars pergi? Dia tadi di sana, bersama Mars.
Aku bangkit, kembali berlari, kakiku letih tapi aku masih ingin berlari. Kemana Moonflower membawa Mars? Aku menatap setiap arah, berputar-putar, kepalaku kembali berputar terlalu cepat.
Moonflower.... Mars... Mars!
"Maria," itu suara Mars.
Aku berbalik dengan segera. Tapi dia tidak ada di sana. Hanya ada seorang pria berdiri menatapku dari kejauhan. Dia menatapku intens. Pandangannya sangat menggangguku. Aku memalingkan wajah. Dan aku melihat seorang wanita yang berjalan anggun menuju pria itu. Wajahnya cerah dengan lipstik merah menghiasi bibirnya yang terlihat indah. Pria tadi tampak menyebalkan dengan sorot mata tajamnya, tapi wanita itu terlihat seperti seseorang yang begitu lembut. Eh— anak itu sedang berdiri di belakang. Menatap wanita yang berjalan anggun. Aku bergerak mendekatinya.
"Hai... ini aku lagi," sapaku.
"Pergilah segera, ini salah," bisiknya.
Aku berhenti satu langkah di sampingnya.
"Kemana aku harus pergi?" tanyaku bingung.
"Anak itu," dia menunjuk pada seseorang yang berdiri di seberang barisan rumput yang dipotong bergelombang.
"Mars," desisku.