LUCEM

LUCEM
Chapter XLV



"Hai, apa yang kau lakukan, Mars? Sebuah catatan?" Tanya Marbella dengan raut wajah yang lebih cerah.


"Ini... Hanya catatan sepele," jawabku.


"Ah. Tidak membantu, kalau begitu,' kata Marbella.


"Ini persekutuan saudara?" Tanyaku iseng, berpura-pura antusias. Drama kecil.


"Dunia kita begitu besar, tempat yang cukup besar. Aku tidak akan bisa mengaturnya sendirian," Marbella berlagak.


"Oooyeah, tapi kita hanyalah dua anak..... entah, yatim piatu yang terlantar," ujarku.


"Yatim terlantar itu baik,—kata Marbella. Bagaimanapun, seorang pangeran hanya bisa tumbuh menjadi raja tetapi seorang yatim piatu yang misterius seperti kita ini bisa menjadi siapa saja. Apakah kita dipukuli dan kelaparan dan dikurung di ruang bawah tanah?"


"Kurasa tidak, sahutku, memberinya tatapan lucu. Semua orang di jalanan sangat baik. Mereka kebanyakan orang baik. Mereka mengajari kita banyak hal."


" Ya... Kita belajar banyak hal dari mereka, lihat aku..." kata Marbella dengan tangan di pinggang.


"Wah, gadis cantik baik hati," ucapku dengan wajah terpesona.


"Orang baik di jalanan mengajariku musik,—kataku lagi. Aku seorang musisi. Aku juga baik. Aku telah mencari nafkah sejak aku berusia empat tahun."


"Aha! Yatim piatu yang misterius, bakat yang aneh, didikan yang menyedihkan… semuanya terbentuk," ucap Marbella dengan gaya ayunan tangan penyair di sudut jalan.


"Roti gandum dengan selai coklat atau kacang mungkin tidaklah penting. Apakah hidup kita akan berbeda jika diberi rasa pisang? Siapa yang bisa mengatakan? Jenis musik apa yang kita mainkan?" Sambungnya.


"Jenis? Tidak ada jenis apapun. Hanya ada musik," jawabku dengan sedikit berpikir. "Selalu ada musik, jika kita mendengarkan." Aku memandang Marbella, lalu kami tertawa bersama.


*******


"Apakah dia selalu seperti ini?" Maria bertanya.


"Ini... aku tidak yakin, karena aku adalah pendatang sama sepertimu. Kisah hidup mereka telah di mulai jauh sebelum kehadiranku di sini," jawab Moonflower.


"Kuharap kau sangat ingin tahu semua tentangku," kata Moonflower lagi. "Aku mengharapkan itu."


"Astaga, ya," kata Maria.


"Well, kau mungkin tidak akan terkejut mengetahui bahwa aku punya dua saudara tiri yang mengerikan,' kata Moonflower. "Dan aku harus melakukan semua tugas!"


"Astaga, sungguh?" sahut Maria, bertanya-tanya apakah kehidupan gadis di tahun lampau memiliki nilai-nilai yang sama.


"Yah, sebagian besar tugas," ujar Moonflower, seolah mengungkapkan fakta yang tidak menguntungkan. "Aku harus membersihkan kamarku sendiri, tahu! Dan itu sangat tidak rapi!"


"Astaga, sungguh?"


"Dan kamar tidurku adalah yang terkecil. Praktis tidak ada lemari dan aku kehabisan ruang rak buku!"


"Astaga, sungguh?"


"Kehidupanku entah lebih baik darimu atau tidak. Aku putri walikota. Haruskah putri seorang walikota diharapkan untuk mandi setidaknya sekali seminggu? Saya pikir tidak!" Maria balik mengeluhkan nasibnya.


"Astaga, sungguh!?" Moonflower terkejut.


"Dan maukah kamu melihat pakaian robek dan kumal yang harus kukenakan ini?" Maria mengangkat ujung gaunnya.


Moonflower melihat gaun itu dengan seksama. Sejauh yang dia tahu, gaun Maria sangat mirip dengan gaun lainnya. Tampaknya semua ada di sana. Tidak ada lubang, kecuali di mana lengan dan kepala menyembul.


"Di sini, di sini," kata Maria, menunjuk ke suatu tempat di ujungnya yang, bagi Moonflower, tampak tidak berbeda dari bagian gaun lainnya. "Aku harus menjahitnya sendiri, tahu?"


"Astaga, ulang—" Moonflower berhenti.


James datang menyela percakapan dua gadis pengeluh itu. Dia memiliki ransel di punggungnya. Berjalan bolak-balik tiga kali, lalu pergi begitu saja.


"Dan bagian terburuknya, akulah yang harus mengantri untuk roti dan sosis setiap hari-' Maria melanjutkan, tetapi Moonflower lebih sedikit mendengarkan daripada sebelumnya. Ia memperhatikan James. 'Itu pasti roti manis,' pikirnya. Payah! Dia selalu mendahului regu jebakan! Dari semua dapur di kota yang bisa dia datangi, dia muncul di sini. Tikus nakal.


"Apa James mengingatkanmu tentang wabah tikus?" Tanya Maria yang terheran .


"Wabah tikus?" balas Moonflower bertanya.


"Ya, kami berulang kali mendapati," celoteh Maria.


James berhenti. Marbella mungkin akan bertepuk tangan mendengar kisah ini, pikirnya. Marbella menjalani hidup seolah-olah itu adalah pertunjukan. Pertunjukan wabah tikus. Pasukan tikus hanya perlu berlarian mencicit dan mengacaukan segalanya, dan itu cukup baik untuk meyakinkan manusia bahwa ada wabah. Tapi, James dan Jiso selalu harus melangkah lebih jauh. Marbella dan musik Mars, dan tikus-tikus itu mengambil semuanya, uang upah dan uang juga benda-benda yang dapat menjadi uang. Dan segala jenis uang.


Apa yang tidak mereka ambil, mereka rusak. Sudah mengerikan! James meringis memikirkan kisah masa lalunya bersama gadis kucing itu.


"Dewan telah membeli makanan dari kota-kota lain, tetapi tidak ada yang memiliki banyak cadangan. Kami harus membeli jagung dan barang-barang dari para pedagang yang mengarungi sungai. Itu sebabnya roti sangat mahal." Suara Maria, masih berkisah tentang wabah.


"Mahal, ya?" Moonflower menimpali.


"Kami sudah mencoba perangkap, anjing, kucing, dan racun, dan tikus tetap saja datang," kata gadis itu.


"Lalu?" Tanya Moonflower.


"Lalu kami mendengar tentang pengendali tikus yang ternama, dia.... Marbella dan Mars," Maria meringis.


Moonflower tertawa. Bodoh. "Kemudian kalian tahu mereka itu licik?"


"Yaaaa.... Kira-kira seperti itulah," Maria menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


Tuan Jhonatan telah belajar untuk menjadi sangat licik juga. James menggerutu dalam hati.


Mereka memang hampir tidak pernah berakhir di perangkap tikus. Hah! Marbella pernah menerima tawaran lima ratus sickel untuk satu ekor. Apa gunanya menawari kita lima ratus sickel perekor jika tikus begitu licik? Sebagai penangkap tikus kami harus menggunakan segala macam trik untuk mendapatkan lebih, begitu kata Marbella kala itu. Dan kami mendapatkan dua ribu sickel untuk setiap tikus pada akhirnya. Dan Marbella menciptakan seolah-olah seribu tikus berkeliaran untuk di taklukkan.