LUCEM

LUCEM
Chapter LXI



"Tanaman yang ada di hadapanmu itu dikenal juga sebagai lily kemuliaan, ini adalah salah satu spesies tanaman tertua yang masih tetap ada. Tanaman ini berasal dari India, tepatnya di India selatan. Gloriosa ini salah satu sumber kolkisin yang kaya. Setiap bagian tanaman ini mengandung kolkisin terutama biji dan umbinya. Bagian umbi dari Gloriosa adalah yang paling beracun karena adanya kandungan kolkisin yang tinggi di sana," Venus menjelaskan.


"Meskipun kolkisin itu beracun, namun itu banyak digunakan oleh praktisi ayurveda* sebagai obat tradisional di beberapa daerah untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti radang sendi, demam, bisul, wasir, sakit perut, cacingan, memar, kemandulan sampai masalah kulit, dan masih banyak lagi," sambungnya.


*Konsep dasar pengobatan Ayurveda adalah mengajak manusia untuk hidup sehat melalui praktik khusus, menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat, serta melakukan terapi alami seperti menggunakan obat-obatan herba.


Aku menyimak semua penuturan Venus sambil mengikuti langkahnya menuju sebuah kursi panjang yang terdapat di sana. Kami duduk dan meneruskan obrolan kami tentang beragam tumbuhan yang terdapat di taman milik mereka. Sama sekali tidak membosankan, dia pria yang menyenangkan sebagai teman berbincang.


"Ok, Mars... percakapan panjang kita membuatku sedikit haus. Aku akan masuk dan membawakan sesuatu untuk kita santap," ucap Venus sebelum melangkah pergi.


Kini aku duduk sendirian. Aku menyapu seluruh area taman sekedar untuk menemukan keberadaan dua wanita tadi yang telah menghilang cukup lama diantara tanaman. Kemudian aku menatap pagar papan putih yang tertutup rapat, itu adalah pagar yang kami lewati sebelum memasuki rumah ini. Teringat akan rumah Moonflower yang kami tinggalkan, aku bergerak ke sana.


Dengan tangan bertumpu pada pagar, aku menjulurkan kepala untuk menemukan letak rumah Moonflower. Kabut tipis yang menghalangi pandangan, sunyi dan muram, terasa sangat kontras dengan suasana taman milik Magenta yang penuh warna.


Bagaimanapun aku berusaha melihat dan mengingat arah kedatangan kami dan posisi rumah Moonflower, aku tetap tidak melihat sedikit pun petunjuk atas keberadaan rumah itu. Rumah besar itu bagai hilang di telan bumi.


"Hai, Mars. lihat apa yang kita punya!" seru Venus yang telah kembali duduk di kursi panjang.


"Oke, aku datang," sahutku.


"Wow! ini pizza?" aku menatap penuh selera pada makanan yang berjajar di kursi.


"Mm ya, jika kau berpikir tentang apa yang kami makan adalah darah dan bulu dari kuali yang menggelegak dengan tambahan mata kadal air juga ujung kaki katak, maka aku akan mengatakan bahwa itu tidak bisa lebih dari menu ini... pizza, donat dan kopi dengan krimer," kata Venus, merentangkan tangannya seperti pesulap.


"Aku penggemar pizza, dan aku senang Magenta bukan penyihir dengan selera yang aneh," kekehku.


"Ya.. ya, aku harap kenyataan ini tidak mengecewakanmu," guraunya.


"Sekarang aku hanya tertarik untuk mengetahui apakah makanan ini juga memiliki sebagian keajaiban," ucapku sembari mengambil sepotong pizza dan menyantapnya.


"Hmmm... Squisito!" ucapku sembari memberikan gestur tangan.


(Squisito, dibaca skwiˈzi yang berarti lezat.)


"Pesta tanpa mengundang kami?" suara Magenta terdengar.


"Tidak... ada banyak pizza dan donat untuk kita, dan beri aku sedikit waktu untuk tambahan dua cangkir kopi," ucap Venus, dan kembali menghilang di balik pintu.


"Uh, pria yang cepat tanggap, sulit untuk tidak menyukainya," ucap Magenta diiringi tawa kecil.


Marbella melompat girang mendapati pizza yang masih hangat. "Selamat makan!"


"Umm... ya, selamat menikmati," ucapku mempersilahkan.


"Yang terbaik dari Venus adalah pizza-nya, kalian beruntung," ucap Magenta, tangannya mengambil sepotong pizza di piring dan membuat gigitan besar pertama.


Tak lama Venus kembali dengan nampan di tangan, Moonflower ikut berjalan di sisinya.


"Oh, kau datang tepat waktu, Moon," sahut Marbella dengan mulut penuh.


Kemeriahan dalam pesta kecil, canda dan tawa dengan mereka. Hal yang kembali membangkitkan rasa syukur, syair kebahagiaan aku lantunkan dalam setiap gigitan. Meski jauh di lubuk hati, aku sangat khawatir karena aku yakin kebahagiaan dan keamanan ini tidak akan bertahan lama, kami hanya sedang bertamu. Perjalanan yang sesungguhnya mungkin berbahaya, suram dan sulit di tebak.


Aku mengusir semua kemurungan yang melintas, dan tersenyum bersama mereka. Mungkin tidak hanya aku, mungkin mereka dan setiap orang juga tengah melakukan upaya yang sama. Menikmati hari.


"Ini mungkin bukan waktu yang tepat, dan mungkin tidak begitu sopan untuk bertanya pada kalian, tapi... aku sedang sangat penasaran," ucap Moonflower, memegang donat di tangannya yang baru mendapatkan sedikit gigitan di pinggirnya.


Aku ikut menghentikan kegiatan mengigit pizza, menanti kelanjutan dari hal yang ingin Moonflower tanyakan pada Magenta dan Venus. Sedangkan Marbella terlihat tidak terusik, ia tetap tekun mengunyah.


"Apa kalian memiliki.... anak?" tanya Moonflower, memelankan suaranya pada kata 'anak'.


Marbella, terlihat menghentikan gerakan mulutnya. Menanti jawaban.


"Kami tidak menikah," jawab Magenta santai. Ia tersenyum pada Venus.


Hatiku merasa terluka untuk pria Venus.


"Tapi anak dapat hadir tanpa pernikahan, kan? Seorang kenalanku bahkan memiliki empat anak dengan dua pria berbeda, dan terakhir kali kami bertemu, dia terlihat sangat berbahagia," ucap Moonflower penuh semangat.


Ingin sekali rasanya untuk menyela, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Biarkan wanita berbicara dan pria mendengarkan.


"Maksudku, aku dan Venus bukanlah pasangan seperti yang kalian pikirkan. Ya, kami tinggal dan hidup bersama.. tapi, kau tahu... kami tidak melakukan itu," ucap Magenta dengan menggerakkan dua jari di depan wajah Moonflower.


Venus berdehem dan kemudian berkata, "Ya, kami tidak."


"Oooh, itu mengecewakanku. Aku dan Jimmy baru saja bertaruh untuk sepuluh sickel dan aku sangat yakin akan mendengar kisah yang berbeda dari kalian," keluh Moonflower.


"Tapi kami memiliki seorang putri," ucap Venus kemudian.


Moonflower berbinar, dan aku merasakan antusias. "Ceritakan lebih jauh, bagaimana seorang putri hadir diantara kalian tanpa... eh!—"


Moonflower tampak kebingungan pada alur yang tidak ia duga.


Marbella berdehem. "Perbincangan kalian akan membuat semua pizza ini dingin lebih cepat."


"Ya.. ya.. pizza jauh lebih nikmat disantap selagi hangat, mari..." ucap Venus sembari menyodorkan piring pizza ke dalam lingkaran.


Aku tahu Marbella hanya berusaha membelokkan topik yang mungkin akan merusak ketenangan perasaan seseorang. Kakakku tahu betapa pentingnya menjaga suasana hati selama makan.


Aku dengan riang kembali mengigit habis pizza yang ada di tanganku, lalu donat, kopi dan kembali ke pizza. Aku harap semua makanan ini mengerti bahwa aku telah sangat berupaya untuk adil. Memakan mereka secara bergilir, lezat.


Moonflower tidak mau ketinggalan, tangannya kini berisi donat dan pizza. Sekilas aku melihat Venus yang melongo menyaksikan kebrutalan kami.


Astaga....