
"Kau kembali," suara Moonflower.
Aku menoleh, Moonflower berdiri di ambang pintu. Mengangguk untuknya. Aku merapikan selimut Marbella dan menghampiri Moonflower.
"Kau ingin berbincang denganku?" tawarku.
"Jika kau tidak merasa lelah," jawabnya.
"Ayo!" ajakku, berjalan mendahuluinya.
Kami menuju halaman belakang, di sana lebih sunyi dan tenda berada di halaman depan. Moonflower memintaku untuk menunggu sementara ia membuat dua gelas coklat untuk kami.
Rumputnya sedikit lembab, aku tidak menduga ruang dimensi bahkan memiliki embun. Bulan baru saja lewat dari purnama dan memudar, namun bintang-bintang terlihat semakin cantik dan bersinar, berkedip-kedip.
"Untukmu," Moonflower dengan aroma coklat dari cangkirnya.
"Rumputnya lembab, apa kau ingin kita duduk di kursi?" tanyaku.
"Tidak, embun baik untuk kaki kita," Moonflower mengayun-ayunkan kakinya diantara rumput.
"Ya, kakimu terlihat sangat sehat," ucapku.
Aku masuk untuk sebuah alas duduk dan kembali. "Silahkan."
Moonflower duduk dengan kedua kaki ditekuk. Aku bersila di sampingnya. "Apa topik kita malam ini?"
"Aku tahu kau memikirkan gadis itu, kan?" terka Moonflower.
Aku mengangkat alis. "Kita bisa membicarakan tentang apapun yang kau inginkan, seseorang melarangku tidur."
Moonflower meninju bahuku pelan dan tertawa.
"Aku enggan membahas ini denganmu sebelum menemui Marbella," ucap Moonflower.
"Baiklah, lupakan itu... aku hanya merasa kau tidak secerewet saat pertama kita berjumpa, itu sangat disayangkan," ujarku.
"Oya!? Jadi kau menyukai gadis yang cerewet," Moonflower mengangguk-angguk pelan.
"Tidak juga," balasku.
Percakapan ringan kami berlanjut. Moonflower lebih cerewet saat ia sibuk pada tugas santai, aku dapat melihat itu setelah lama berinteraksi dengannya. Mungkin dia sendiri tidak menyadarinya.
Sesekali aku tersenyum pada leluconnya. Dia terlihat manis di sinar redup malam. Rambut merah berombaknya, titik-titik di wajahnya, hidung kecilnya yang tumpul. "Moonflower adalah bunga yang mekar di malam hari dan bentuknya bulat seperti bulan purnama."
"Em?" Moonflower menoleh.
"Namamu, itu nama sebuah bunga, kan?" tanyaku.
"Umm ya, moonflower adalah tanaman paling romantis yang bisa kau tanam di taman," jawabnya.
"Oh, romantis?" kataku.
" Kau tidak setuju? ah, ya... moonflower juga disebut sebagai terompet setan dan juga sedikit beracun," ia mengangkat bahu.
"Aku agak setuju itu," aku tertawa mengejek.
"Berbeda seperti apa?" tanyaku dengan menatapnya.
Moonflower berdiri dari duduknya. "Lihat ini!"
Aku tersentak saat tubuh Moonflower tiba-tiba luruh ke tanah dan seekor burung hitam yang besar dengan bulu mengkilap berdiri di sana, dan dalam sekejap ia kembali ke wujud manusia. Moonflower merentangkan kedua tangannya dengan kepala yang dimiringkan, lalu ia kembali duduk di tempat semula dengan santai.
Tidak terhitung entah berapa kali aku melihat Marbella merubah wujudnya dari manusia ke kucing atau sebaliknya, masih menjadi sesuatu yang mengagetkanku setiap kali ia melakukannya. Dan ini adalah pertama kalinya bagiku melihat manusia lain yang dapat merubah wujudnya kedalam bentuk berbeda. Tubuhku bereaksi, merinding.
"Minum coklatmu!" Moonflower mendorong gelas di tanganku.
Aku menurutinya.
"Maaf membuatmu terkejut," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Marbi selalu melakukan itu," ujarku.
"Ukuran kami sangat berbeda," Moonflower merentangkan tangannya.
"Ya, kau sangat besar," aku menyeruput coklat di cangkir.
Ukuran Moonflower jauh melebihi Marbella, apa dia sejenis burung purbakala? Lalu kenapa seekor burung diberi nama Moonflower, dia bahkan bewarna hitam. Haruskah aku memberinya nama kecil yang lebih sesuai? Nama yang terdengar lebih hebat, seperti.... Blackmoon, Wonder Moon atau sesuatu yang mengandung unsur gelap dan mistis. Alisku bertaut, merangkai-rangkai beberapa nama yang mungkin sesuai dengan imejnya.
"Aaww..." aku meringis memegangi kepalaku.
"Apa yang kau pikirkan?" Moonflower memasang wajah kesal yang lucu.
Aku meringis. "Tidak."
"Terserah," ucapnya dengan wajah merengut. Ia memutar badan membelakangiku.
"Astaga, aku membuat kesal burung besar ini."
"Moonflower, aku... aku hanya sedikit berpikir kau memiliki rambut merah yang bagus. Maksudku, rambutmu dan bulu hitam mengkilap itu—," aku bingung melanjutkan kata-kataku.
"Aku tahu kau pasti terkejut dengan perubahanku tadi, tidak apa-apa," Moonflower berbicara tanpa menoleh.
"Hanya sedikit. Umm, apa kau jenis burung yang bisa terbang?" tanyaku sambil menaikkan satu tanganku ke udara setara kepalaku.
Moonflower berbalik menatapku, tetap dengan wajah yang merengut. Aku menarik tanganku turun. "Er... aku—."
Moonflower mengambil cangkir dari genggamanku dan meletakkannya. Lalu ia menggenggam kedua tanganku erat, dan berdiri perlahan, aku mengikutinya.
"Bersiaplah!" ucapnya.
Moonflower bergerak ke belakangku.
Sebuah sentakan kuat, tubuhku melayang di udara. Cakar kuning melingkari perutku.
"Astaga...!!" erangku, tubuhku meluncur secepat kilat menuju tanah.
Aku berdiri dengan Moonflower memeluk tubuhku yang gemetar dari belakang. Lututku goyah seolah tidak mampu lagi menopang berat tubuhku andai saja Moonflower tidak dalam posisi memelukku erat. Perlahan aku merasakan tubuh Moonflower berguncang di punggungku dan..., suara tawanya pecah.
Tanganku memegang tangannya yang masih melingkari perutku, aku mencoba melihatnya ke belakang. Ia tertawa lepas di sana, aku kembali menatap tangan kami, memejamkan mata, mengatur napasku, dan kami terbahak bersama. Malam yang gila.